Berita UtamaPolitik

Koalisi Besar Itu, Berat

Jangan Bang Pepen Sendiri

Radarbekasi.id, BEKASI SELATAN – Duet calon wali kota dan wakil wali kota, Rahmat Effendi-Tri Adhianto Tjahyono punya kans menang lebih besar di Pilwalkot 27 Juni mendatang. Meski begitu, paslon usungan ‘koalisi raksasa’ (Golkar, PDIP, PAN, Demokrat, PPP, PKB, Hanura, Nasdem), bukan berarti sudah pasti menang.

Pengamat politik dari Skala Survey Indonesia, Abdul Hakim MS, mengungkapkan, berdasarkan pengalaman dalam pelaksanaan Pilkada di kota dan daerah lain, koalisi ‘gemuk’ tidak melulu menentukan kemenangan.

“Koalisi besar tidak selalu berbanding linear dengan keterpilihan. Fakta membuktikan bahwa pilkada yang mengusung koalisi besar itu tidak menjadi garansi bisa menang,” katanya saat dihubungi Radar Bekasi, Jumat (16/2).

Meski begitu, menurut dia, koalisi besar juga memberikan keuntungan bagi pasangan calon. Asalkan, kandidat mampu memanajemen partai koalisi yang ada di dalamnya. Karena, partai politik memiliki jaringan terstruktur sampai dengan ke tingkat kelurahan, bahkan rukun tetangga.

“Namun juga ketika koalisi besar ini saling benturan kepentingan, tentu ini akan jadi nilai minus. Nah ini terkait bagaimana kandidat bisa memenej koalisi besar ini menjadi sebuah kelompok yang menguntungkan hingga membawa kemenangan,” ujarnya.

Menurut dia, kekuatan figur kandidat yang berkompetisi dalam pilkada lah yang lebih menentukan keterpilihan dari kandidat tersebut. “Tentu figur akan menjadi sentral utama untuk menentukan terpilih atau tidak. Figur akan menjadi segala-galanya karena figur ini akan menjadi tolak ukur si kandidat bisa terpilih. Pilkada DKI sudah membuktikan, dua kali koalisi besar kalah, hanya tergantung bagaimana memenej yang sudah terbentuk,” paparnya.

Terpisah, Akademisi dari Unisma Bekasi Adi Susila mengatakan, dengan diusung koalisi besar, secara tidak langsung paslon sudah menang di atas kertas. Peluang kemenangan paslon yang diusung lebih koalisi gemuk lebih besar dengan catatan koalisi bekerja dengan sinergis dan maksimal.

“Minusnya membebankan calonnya. Kan gerbongnya panjang kan berarti kan seperti saya bilang ‘tidak ada makan siang gratis’, berarti bagi-bagi kekuasannya itu menjadi berat itu,” kata Adi.

Adi menambahkan, paslon yang diusung koalisi kecil juga bisa menang jika mampu bekerja maksimal. “Koalisi kecil kalau dia solid lebih efisien ya, toh sekarang era digital ya, artinya untuk meraih pemilih yang lebih luas tidak harus dengan organisasi yang besar itu,” tambahnya.

Menurutnya, kandidat harus mampu menjaga iklim politik di dalam koalisi agar kondusif tanpa adanya benturan. “Yang ditakutkan kan koalisinya besar, tapi belum tentu kerjanya juga besar kan. Belum tentu bekerja sungguh-sungguh. Mungkin hanya di atas kertas aja. Ke bawah enggak turun. Kan mungkin juga kan, jadi itu beresiko juga,” tandasnya.

Diketahui paslon Rahmat Effendi-Tri Adhianto Tjahyono diusung Partai Golkar, PAN, Demokrat, Hanura, PPP, PDIP, PKB dan Nasdem. Sementara, paslon Nur Supriyanto-Adhy Firdaus hanya diusung PKS dan Partai Gerindra. (neo)

Tags
Close