Pendidikan

Perjuangan Siswa Muaragembong ke Sekolah (1)

Hanya Bisa Jalan Kaki dan Naik Perahu

Radarbekasi.id – Setelah adzan Subuh berkumandang hari masih teramat pagi. Namun, warga Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi sudah mulai beraktivitas. Di antara warga yang sudah beraktivitas di pagi buta itu adalah anak-anak.

Tak seperti di kota besar, suasana di Muara Gembong jauh dari hiruk pikuk suara kendaraan. Dan, di tengah pagi yang masih sunyi itu anak-anak berjalan kaki menuju sekolah mereka. Sebagian lainnya diantar orangtua menggunakan sepeda motor, bahkan beberapa anak menggunakan perahu untuk pergi ke sekolah. Sarana transportasi penting di Muara Gembong karena beberapa desa dipisahkan aliran Sungai Citarum.

Tanpa adanya jembatan yang melintasi sungai besar itu, warga mengandalkan perahu sebagai sarana penghubung antar-desa, termasuk pergi ke sekolah. Kondisi ini membuat SDN 02 Pantai Bahagia, satu dari 21 sekolah dasar di Muara Gembong, menyediakan perahu khusus untuk menjemput para siswanya. Keberadaan perahu ini membuat para siswa tidak harus menempuh perjalanan darat memuutar yang jauh untuk menuju sekolah.

“Ini angkutan khusus anak sekolah, khususnya SDN 02 Pantai Bahagia. Ini kita buat mengingat medan tempuh yang dilalui anak-anak kita berbahaya untuk keselamatan. Jadi biar aman kita buat perahu ini. Di samping aman untuk anak, waktu masuk (sekolah) juga bisa kita tentukan, kita atur,” ujar Kepala SDN 02 Pantai Bahagia, Abdul Muin (53) saat ditemui Radar Bekasi di sekolahnya, Rabu (21/2).

Abdul mengatakan, di seluruh Kecamatan Muara Gembong hanya SDN 02 Pantai Bahagia yang memiliki fasilitas perahu untuk antar jemput siswa. Perahu yang bisa menampung 200 orang itu dibuat untuk memfasilitasi siswa yang tempat tinggalnya jauh dan tidak ada akses ke sekolah karena harus menyeberangi Sungai Citarum.

Namun, menggunakan perahu ini tak gratis. Setiap orang dikenakan biaya sebesar Rp 4 ribu untuk perjalanan pulang pergi. “Tapi ada juga yang enggak harus bayar, misal anak yatim dan yang enggak mampu. Mereka enggak diminta untuk bayar. Kita kan bukan angkutan komersial, yang penting ada untuk operasionalnya, kalau ada lebih bisa digunakan untuk (renovasi) sekolah,” kata Abdul.

Pada 2001, lanjut Abdul, sekolah sebenarnya sudah memiliki sebuah perahu yang merupakan hibah dari seorang warga Muara Gembong. Namun, karena lama tak digunakan perahu hibah yang juga bernama “Anugerah” tersebut kondisinya tak terlalu baik meski tak bisa dikatakan buruk.

Pada 2009, ketika Abdul menjabat sebagai kepala sekolah, dia kemudian berkeinginan agar sekolah memiliki perahu baru. Membuat perahu baru tentu butuh biaya. Para orangtua murid dan komite sekolah kemudian patungan dan terkumpul uang sebesar Rp 1,7 juta.

Namun, uang tersebut masih amat jauh dari cukup karena dana yang dibutuhkan untuk membuat sebuah perahu sebesar Rp150 juta. “Dananya kurang, kami pinjam ke koperasi guru Muara Gembong. Jaminannya gaji saya dan para guru di sini. Kita akhirnya pinjam dana, tapi bertahap peminjamannya,” kata Abdul.

Dengan pinjaman dari koperasi itu, perahu “Anugerah” yang kedua selesai dibangun pada 2010. Dan dengan mengandalkan uang yang dibayarkan siswa setiap kali menggunakan perahu, SD 02 Pantai Bahagia bisa mengembalikan uang pinjaman dari koperasi pada 2015.

Meski terbilang baru, perahu ini bukan sama sekali tak bermasalah. Abdul mengingat setidaknya dua kali perahu jemputan itu mogok. Akibatnya beberapa siswa dan siswi tak bisa berangkat ke sekolah karena tidak ada transportasi yang membawa mereka.“Ketika perahu mogok, mereka jadi bingung, pasti jadi kesulitan. Makanya kemarin dua kali mogok, beberapa siswa enggak bisa sekolah,” kata Abdul. (bersambung)

Tags
Close