Budaya

Sepucuk Surat di Atas Kasur

Karya: Lita Sulistyaningtyas, Guru SMPN 90 Jakarta

Sesampainya di rumah, kutemui rumah dalam keadaan kosong. Anak-anak bermain bersama teman-temannya. Sedangkan ayahnya seperti biasa membersihkan kebun di sebelah rumah milik orang lain yang sudah mulai tinggi rumput dan semaknya. Begitu tingginya hingga aku tak bisa melihat suami dengan jelas. Samar terlihat, suamiku sedang menyabit rumput dan semak ditemani beberapa ekor kucing kesayangannya dan seekor anjing putih milik tetangga yang kerap mendekat ingin ikut menemani.

Di kamar, kutemukan sebuah amplop surat bertuliskan ‘Untuk Ibu’ dari Kedua Anak-anakku.

“Hmmm, apa-apaan si ayah nih. Biasanya juga langsung ngomong, ngga pakai surat-suratan begini, Baper euy.” Aku bergumam dalam hati. Akupun langsung merobek sampulnya dan membaca tulisannya.

Assalammualaikum Wr.Wb.
Kepada Istriku Tersayang.

Beberapa terakhir ini aku memperhatikan betapa dirimu sulit sekali tidur. Selalu terjaga dan entah apa yang dikerjakan. Terkadang kutemui dirimu sedang menangis sendirian di sudut kamar dalam tahajudmu tanpa aku tahu penyebabnya.

Aku memang tampaknya tidur di hadapanmu.Tapi sebenarnya aku memperhatikan setiap rasa gelisahmu.

Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu padamu istriku sayang. Sebenarnya aku mengetahui semua perasaan bersalah yang membebani pikiranmu dan semua kesalahan yang telah dirimu perbuat. Tapi aku tidak berani menyampaikannya secara langsung karena khawatir menyakiti dirimu sehingga aku akan kehilangan dirimu. Akhirnya ku beranikan diri menulis lewat sepucuk surat ini.

Istriku ketahuilah aku sudah memaafkan semua kesalahan-kesalahan yang telah engkau perbuat baik yang disengaja maupun tidak. Baik yang tampak maupun tidak. Baik yang langsung maupun yang tidak langsung. Apa yang telah engkau lakukan tidak luput dari kesalahanku juga. Selama ini memang tampaknya aku tidak memperdulikanmu atau malah terkesan kasar dan keras. Tapi itu karena aku tidak tahu bagaimana caraku untuk menunjukkan rasa sayangku padamu.

Aku bukanlah suami yang sempurna, tapi dirimu membuatkku menjadikanya sempurna. Dengan bersedianya dirimu menjadi pasangan hidupku, dalam ikatan suci pernikahan. Memberikanku dua orang anak sebagai amanah Allah kepada kita. Dalam lelap tidurmu, kerap kuusap keringat yang membasahi tubuhmu. Kurapikan bantal tidurmu agar kau tidur dengan nyaman. Kurapihkan gerai rambut yang menutupi wajahmu karena kuingin menatap wajahmu lebih lama.

Istriku sayang. Dirimu adalah tanggung jawabku, semua kesalahanmu adalah tanggung jawabku.Maka sebelum dirimu meminta maaf aku sudah memaafkannya. Semua kesalahan-kesalahan yang telah engkau perbuat, disebabkan karena kelalaianku dalam menjaga dan membimbingmu.

Kembalilah dalam pelukan keluarga yang mencintaimu. Kembalilah kepadaku karena akulah tempat pelabuhan hatimu. Aku suamimu yang selalu mencintai dan menyayangimu. Aku sudah siapkan tiket umrah untuk kita berempat, sebagai hadiah liburan kita bersama anak-anak.
Salam Sayang

Aku terhenyak membacanya. Tak tahu lagi berapa banyak air mata yang menetes, selama membaca surat itu. Aku hanya bisa menangis dan menyesali diri atas kesalahan-kesalahanku. Tenyata untuk orang yang serendah dan sehina aku, Allah masih mengirimkan malaikat-Nya untuk membawaku kembali ke jalan yang benar. Jalan yang di ridhoi oleh-Nya. Allah tidak ingin aku berlarut-larut dalam kesalahan yang membawaku pada kehancuran.

Tiba-tiba dipundak kurasakan tangan yang menggamitku dengan lembut dan memelukku dengan ikhlas dan sabar. Dialah malaikat yang Allah kirimkan untukku. Tiada kata yang dapat aku ucapkan selain kata ‘Maafkan aku suamiku tercinta’. Aku kembali padamu dengan rencana dan takdir Allah yang lebih baik.

“Maka nikmat Allah mana lagi yang hendak engkau dustakan?”

Close