Budaya

Perjuangan Cahaya

Oleh: Nursalmah, S.Pd. Komunitas Guru Penulis Bekasi Raya

Radarbekasi.id – Setiap anak – anak memiliki banyak impian, misalnya kalau aku besar ingin jadi pengusaha sukses, kalau aku besar aku ingin jadi presiden. Ini merupakan fitrah sebagai manusia seutuhnya yang memiliki hasrat dan keinginan. Tanpa disadari celotehan anak – anak tersebut dapat terjadi saat mereka dewasa nanti. Namun apa yang terjadi pada kisah seorang anak dari keluarga yang kurang mampu. Cahaya nama anaknya, saat itu dia berumur 15 tahun.

“Alhamdulillah akhirnya aku lulus, horee….” teriak Cahaya sambil melompat dan berlari menemui ibu dan ayahnya di rumah. Lokasi rumah dan SMPN tempat Cahaya bersekolah sangat dekat. “Ibuuu…..aku lulus sekolah,” “Alhamdulillah” jawab Ibunya, mereka pun saling berpelukan.

“Sore harinya ayah memanggilku, kami pun duduk di bangku toko jualan ayah. Ayah bertanya kepadaku “ Cahaya apa cita – citamu jika bisa nanti?” aku menjawab sambil malu, “ banyak sekali, tidak apa – apa kalau banyak?” tidak apa – apa” jawab ayahku. Aku pun menyebutkan satu per satu keinginanku, “pertama aku ingin menjadi dokter, kedua aku ingin menjadi sekretaris, ketiga aku ingin jadi pramugari dan terakhir aku ingin menjadi polwan.” Ayahku tersenyum lalu dia berkata “ semua cita – citamu bagus Nak, namun kamu harus tahu juga setiap keinginanmu itu, ayah akan menjelaskan semua cita – citamu,” yang pertama kamu ingin menjadi dokter, untuk yang in, maaf ayah tidak bisa memenuhi keinginanmu Nak, kerana ayah tidak punya uang, kamu tahu sendiri adik – adikmu masih kecil dan perlu biaya untuk sekolah.” Ayahku berkata apa adanya. Aku terdiam. Lalu ayahku melanjutkan kembali perkataannya, “cita – citamu yang kedua ingin menjadi sekretaris, untuk menjadi sekretaris harus memiliki mental yang kuat, karena bagi seorang perempuan apalagi sudah menikah akan sulit untuk pekerjaan seperti itu, dan ketiga cita – citamu untuk menjadi pramugari, sama seperti sekretaris akan sulit nanti buat kamu jika sudah bersuami, yang terakhir cita – citamu sebagai Polwan, untuk ini ayah dapat mendukung, Insya Allah nanti ayah akan bicara dulu sama pamanmu yang di Kota, bagaimana menurutnya? untuk sementara ini ayah akan melihat dulu pertumbuhan tinggi badanmu, karena polwan itu ada standar tinggi badan yang harus dipenuhi.”

“Anakku Cahaya, menurut ayah, kamu lebih cocok menjadi seorang GURU.” “Ih tidak mau ayah, aku tidak suka jadi guru, gajinya kecil” jawabku tegas, . Ayah berkata lagi “ Nak, kamu belum tahu bagaimana kerja seorang guru, pekerjaan guru sangat mulia, dan sangat cocok bagi seorang perempuan, apabila kamu nanti sudah menikah kamu masih bisa bekerja, dan 10 tahun yang akan datang guru akan sejahtera”. Aku hanya diam dan tidak berkata apa – apa hanya berpikir ayahku sudah memikirkan jauh ke depan untuk masa depanku. Kemudian ayahku bertanya kepadaku, “nanti SMA nya mau dimana?” “Aku ingin sekolah di Kota, karena aku berpikir di kota sekolahnya lebih bagus yah,” jawabku. “Lalu kamu tinggal dimana?” “aku ngekos yah” ayah hanya terdiam mendengar celotehku.
Keesokan paginya ayah pergi ke Kota.

Tiba di rumah, ayah memanggilku ke ruang TV dan membagikan sebuah brosur. Aku melihat brosur itu ternyata itu adalah brosur sebuah Pesantren. Ayah pergi ke Kota hanya untuk melihat pesantren untuk sekolahku nanti.
Minggu depannya aku dan ayah pergi ke kota melihat Pesantren Al Kausar. Aku melihat kegiatan para santri yang menurutku sangat menyenangkan, ada yang sedang belajar kelompok, ada yang sedang berlatih Taekwondo, ada yang menjahit, ada yang bermaian basket dan sepak bola, mereka berbicara satu sama lain menggunakan menggunakan Bahasa Arab. Aku terkesima, memang di pesantren tersebut bahasa sehari – harinya adalah bahasa arab dan bahasa inggris. “kok bisa ya, mereka bercakap – cakap menggunakan Bahasa Arab dengan lancer?”Aku semakin penasaran. Tidak hanya sampai disitu ayah mencari sekolah untukku. Sore harinya ayahku membawa teman sekolah ku saat dibangku SMP, dia hanya satu tahun belajar bersamaku dan langsung pindah sekolah.

Zulfan nama temanku. “Hey Zul, apa kabar? Kamu sekarang dimana sekolahnya?” Tanyaku. “Aku di pesantren Darul Arafah, Cahaya”. Oh….pantesan aku jarang sekali melihatmu di rumah” bagaimana sekolah di sana?” asyik, banyak teman, banyak kegiatan juga, seru pokoknya cahaya”, ungkap Zulfan. lalu ayahku memberikan aku kalender Pesantren Darul Arafah tersebut, aku melihat dari lembaran awal sampai terakhir, aku tertarik sekali, disana aku melihat bangunan – bangunan seperti asrama, lapangan olahraga, dan sekolahnya sangat bagus dan fasilitasnya lengkap.” Zulfan kamu bisa bahasa arab dan inggris? “InsyaAllah bisa, bahasa inggris dan arab yang digunakan di kegiatan sehari –hari.” “Coba apa bahasa arabnya “kamu mau kemana?” Zulfan menjawab dengan lancar begitu juga dengan Bahasa Arab. Aku teringat masa di SMP dulu Zulfan adalah temanku yang dulu sering remedial pelajaran dan suka bolos, sekarang subhanallah dia bisa berbahasa Arab dan Inggris dengan sangat lancar. Jadi aku semakin ingin bersekolah di pesantren.

Pada malam hari, ayah, ibu dan aku duduk di ruang TV, ayah berkata kepadaku “Nak, sepertinya kamu tidak bisa bersekolah di pesantren karena biayanya cukup besar”. Aku terdiam, dan menyadari bahwa ayah tidak ada biaya. “ tidak apa – apa ayah,” sambil aku masuk ke dalam kamar, saat itu air mataku tak terbendung lagi, aku menangis terisak – isak karena sedih tidak bisa sekolah di pesantren, sambil berdoa ya Allah semoga aku bisa sekolah di pesantren. Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu kamarku, “Cahaya, keluar ayah ingin bicara sebentar,” aku keluar dan ayah berpesan kepadaku, “ Cahaya, kamu bisa sekolah di pesantren namun ada satu syarat.” “Syarat apa ayah?” tanyaku. “Kamu tidak ayah beri uang saku, Karena biaya di pesantren lumayan mahal. Tapi kamu jangan takut nak, disana dikasih makan tiga kali sehari. Aku diam sejenak, lalu aku menjawab “ baik ayah tidak apa – apa”. karena aku ingin sekali belajar di pesantren akhirnya aku bertekad aku bisa walau tidak diberi uang saku sama orang tuaku.

Dua tahun sudah berlalu, aku belajar di pesantren tersebut. Alhamdulillah setiap semester aku mendapat juara peringkat satu. Mungkin ini efek tidak sering jajan, (just kidding). Aku sangat senang belajar, apabila aku mendapat juara, sekolah memberikan hadiah gratis uang buku dan mendapat voucher senilai Rp 50.000. Dengan uang tersebut aku bisa jajan walau memperolehnya hanya setiap enam bulan sekali. Ini merupakan salah satu motivasiku untuk giat belajar, selain ingin membanggakan orang tua.

(Suasana di kelas), hari ini adalah hari Senin, dan saatnya pelajaran hadist, biasanya Ustad melafalkan bunyi hadist dan kami mengikutinya sampai kami hafal. Setelah hafal baru ustad menuliskan hadist tersebut di papan tulis. Hadis yang kami pelajari adalah hadis tentang “Amalan seorang yang tidak terputus walau sudah meninggal dunia” ustad menjelaskan yang pertama adalah sodaqoh jariyyah, kedua adalah ilmu yang bermanfaat, dan yang ketiga adalah anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Setelah mendengar penjelasan dari ustad tentang hadist itu saya langsung berpikir. Jika nanti aku tidak menjadi orang kaya, dan belum bisa banyak mengeluarkan sodaqoh jariyyah bagaimana bekalku nanti kalau sudah meninggal, lalu jika aku meninggal dan belum punya anak bagaimana nanti, siapa yang akan mendoakan aku, tidak ada amalan yang mengalir terus saat aku sudah meninggal, aku berpikir keras, akhirnya aku menyimpulkan mungkin ilmu yang bermanfaatlah adalah salah cara yang bisa aku lakukan selama hidupku untuk mempersiapkan amalan yang akan terus mengalir saat aku sudah meninggal. Kemudian aku menancapkan dalam hati kalau sudah tamat dari pesantren aku ingin menjadi seorang Guru dan mengambil jurusan pendidikan matematika.

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah di atas adalah kesungguhan seorang anak untuk menuntut ilmu sangat besar, kemudian motivasi seorang ayah yang sangat dibutuhkan oleh anak, saat mereka belum mengerti dunia yang ada di sekitarnya, dan yang paling utama adalah penerapan komunikasih dalam keluarga akan menetukan kesiapan dan karakter anak tersebut.

Keinginan dan cita – cita seseorang tidak bisa dipaksakan namun tetap harus diberi penguatan oleh orang – orang terdekat, supaya memahami keinginan yang akan diraih ananda di masa depan. Kisah Cahaya masih bersambung. Penasaran yaa! Tunggu saja part selanjutnya….terima kasih sudah membaca kisah ini. semoga dapat menginspirasi. (*)

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button