Metropolis

Guru Itu Pencatat yang Baik

Oleh : Didi Suradi, M. Pd.

Didi Suradi
Didi Suradi : Guru di Yayasan Al Muslim Tambun, Anggota KGPBR

Suatu ketika pada pembagian rapor akhir semester. Seorang wali murid menceritakan kesulitan mendidik anaknya di rumah. Dikisahkannya, bagaimana sang anak selalu membantah perintah orangtua, malas belajar, gemar bermain HP, susah dibangunkan, baru shalat setelah ditegur berkali-kali, dan banyak lagi kisah lainnya. Akhir cerita, orangtua siswa tersebut meminta guru untuk membimbing anaknya lebih tegas lagi

Bayangkan, jika orangtua tersebut merasa kesulitan mendidik satu orang anaknya di rumah, apalagi wali kelas yang harus membimbing puluhan anak dikelasnya? Setidaknya, lebih dari tiga puluh siswa dalam satu kelas yang harus selalu diamati setiap perilaku dan perkembangannya oleh wali kelas. Siswa-siswa ini tentunya memiliki berbagai latar belakang yang berbeda, karena nilai-nilai yang diajarkan dirumah masing-masing tentunya berbeda pula. Disinilah letak kesulitannya. Karena itu, untuk memudahkan memberikan informasi yang diminta setiap orangtua, guru harus memiliki catatan siswa dengan lengkap.

Setiap orangtua siswa memang memiliki hak untuk mengetahui perkembangan anak yang dititipkannya disekolah. Karena itu, sekolah berkewajiban memberikan laporan sesuai keinginan orangtua. Laporan ini tidak hanya mencakup aspek kognitif siswa saja. Melainkan seluruh aspek perkembangan siswa yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilannya. Bahkan, berdasarkan pengalaman penulis, orangtua lebih khawatir terhadap karakter anaknya dari pada sekedar nilai rapor. Barangkali, orang tua seperti ini sudah dapat mengukur kemampuan akademis anaknya sendiri.

Sejak siswa tiba di sekolah pagi hari sampai siswa pulang sekolah sore hari, guru mulai sibuk melakukan proses pengamatan. Di dalam kelas, maupun di luar kelas, saat sendiri ataupun ketika bersama teman-temannya. Setiap perbuatan dan perkataan harus terekam dengan baik. Berbagai lembar catatan observasi menjadi senjata andalan untuk mengerjakan tugas ini. Tidak hanya itu, guru juga mencari informasi dari berbagai pihak untuk mendukung catatan pengamatan yang dilakukannya.

Nampaklah bahwa tugas guru itu tidak sekedar mengajar siswanya dalam kelas. Bahkan ketika siswa istirahat, guru terus mengamati mereka. Sesampainya di rumah pun, masih harus melayani beberapa orangtua siswa yang konsultasi tentang anaknya. Dukungan catatan perkembangan siswa sangat penting, karena daya ingat guru sangat terbatas. Guru tidak mungkin menghapal setiap kejadian yang dialami seorang siswa secara detail.  Ingatlah, bahwa setiap saat orangtua siswa pasti akan meminta informasi tentang anaknya.

Harap dipahami, mengamati perilaku siswa bukan berarti membatasi gerak gerik siswa. Hal ini justru merupakan bagian dari tugas guru sebagai orangtua siswa di sekolah. Setiap detik perkembangan siswa tidak boleh terlewati. Jika suatu ketika didapati siswa melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan tugas perkembangannya, maka guru mencatat kejadian itu sebagai bagian dari perkembangan hidupnya. Kemudian guru memberikan pemahaman agar perbuatan tersebut tidak diulanginya lagi. Sebaliknya, jika siswa melakukan sebuah perbuatan mulia, maka gurupun mencatat peristiwa itu, kemudian memberikan motivasi agar siswa terus menerapkan perbuatan terpuji tersebut.

Sekolah telah membuat seperangkan aturan yang harus disepakati seluruh civitas akademika. Aturan ini untuk memudahkan pembentukan nilai-nilai positif bagi siswa. Jika seluruh siswa dapat menaatinya dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari dengan baik, maka dipastikan pendidikan yang diberikan sekolah berhasil. Aturan ini berfungsi juga untuk membantu guru dalam mengawasi siswa-siswanya. Aturan diibaratkan sebuah jalan lurus yang harus dilalui siswa, maka guru hanya menegur dan mengingatkan siswa yang mencoba keluar dari jalur yang ditetapkan.

Menurut teori konvergensi dari William Stern, hasil pendidikan dipengaruhi oleh dua faktor. Antara lain, pengaruh bawaan anak sejak lahir dan faktor lingkungan. Sejak dilahirkan ke dunia, setiap anak sudah memiliki potensi. Potensi alamiah ini merupakan potensi untuk berkembang dengan baik. Namun demikian, lingkungan memiliki peran yang sangat kuat untuk menjadikan anak baik atau justru sebaliknya. Sekolah sebagai lembaga pendidikan perlu memberikan dorongan kepada siswanya untuk mengembangkan potensinya agar terus tumbuh dengan optimal.

Sekolah jangan sampai menghabiskan energi, hanya untuk mengatasi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan siswa. Seharusnya, seluruh siswa menyadari bahwa kehadirannya di sekolah adalah untuk mencari ilmu, bukan justru melakukan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan hal itu. Setiap siswa memang unik. Hal ini menjadi tantangan bagi guru dan sekolah  untuk membantu dan membimbing mereka dalam menjalani pertumbuhan dan perkembangannya.

Tulisan ini diharapkan dapat memberikan wawasan, bahwa tugas mendidik anak akan lebih optimal jika ada kerjasama yang baik antara sekolah dengan orangtua siswa. Sebaik apapun program pendidikan yang diberikan di sekolah tidak akan berhasil dengan baik tanpa bantuan orangtua dalam penerapannya di rumah masing-masing. Catatan-catatan yang dibuat guru tentang perkembangan siswa merupakan sebuah alat untuk dipelajari bersama dengan orangtua. Catatan yang lengkap dan baik, akan memberikan data yang lebih akurat dan dapat diterima oleh semua pihak. Penulis sangat yakin, bahwa setiap guru pasti telah melakukan hal ini, karena guru itu adalah seorang pencatat yang baik.(*)

Related Articles

Back to top button