Metropolis

Warga Kampung Beting Terus Berkurang

Radarbekasi.id – Penduduk warga Kampung Beting, Desa Pantai Bahagia kecamatan Muaragembong setiap tahunnya terus berkurang. Sebagian warga memilih meninggalkan rumahnya mencari tempat yang lebih baik. maklum saja, rumah mereka kerap terendam air laut.

Pantauan Radar Bekasi, banyak rumah yang ditinggalkan begitu saj aoleh pemiliknya. Di sekitar rumah tak bertuan, terlihat pucuk nisan sebagai penanda bahwa tempat tersebut dulunya pemakaman. Kuburan itu bersebelahan dengan sebuah masjid yang pelatarannya tak pernah kering dan selalu becek serta berlumpur. Sebagian warga masih menggunakan masjid itu untuk beribadah sholat setiap harinya.

Salah seorang tokoh msayarakat sekitar Ahmad Tasbin mengaku, tak terhitung banyaknya warga yang pergi dari kampung itu, karena tidak tahan rumahnya selalu kebanjiran. Mereka tak bisa bebuat banyak dan terpaksa membiarkan rumah hancur termakan abrasi. Ada empat RT di Kampung Beting yang terkena dampak abrasi.

“Kalau dirata-rata sekitar 50 KK satu RT. Jadi ada sekitar 200 KK yang terkena. Mereka menyeberang dan ada juga mereka yang ke Muara Angke,” jelaa Ahmad Tasbin, pria yang telah tingga di Kampung Beting sehak tahun 1963 silam itu.

Sebagian besar warga Kampung Beting berprofesi sebagai nelayan. Namun pendapatan mereka tidak menentu. Hasil tangkapan mereka juga dijual tidak jauh dari Teluk Jakarta. Meski tinggal di Desa Pantai Bahagia, warga di sana justru menderita. Penyebabnya, abrasi dan air rob yang selalu menggenangi rumah mereka. Tidak heran jika banyak warga yang memilih meninggalkan Desa Pantai Bahagia.

“Perekonomian warga sekarang sangat minim. Kalau dirata-rata penghasilan per bulan Rp500 ribu,” jelasnya.

Warga lainnya, Sukrisno mengaku ingin meninggalkan kampung yang telah ditempati selama 36 tahun ini. Tetapi ada beberapa hal yang jadi pertimbangan. Mulai dari rumah peninggalan orang tuanya, hingga anaknya yang masih sekolah di kampung tersebut.

“Kalau dijual rumah itu juga borongan sama orang sini mah. Laku Rp 3 juta terus saya mau ke pindah ke mana. Kalau di luar kampung ini pasti Rp 3 juta itu cuma dapet berapa? 1 meter saja enggak dapet,” kata dia dengan nada merendah.

Untuk bertahan hidup, lanjut Sukrisno, dia menabung dengan pendapatan yang dihasilkan dari menjual dodol, sirup berbahan dasar mangrove dan penghasilan istrinya sebagai buruh pabrik di Cikarang, Jawa Barat. Namun, dia sudah berpikir jauh. Dia punya rencana pindah ke Tangerang. Pilihan terakhirnya, bekerja sebagai tenaga kerja Indonesia di Arab Saudi.

Sementara itu, Siti Suabah, wanita yang berprofesi sebagai guru di Madrasah Ibtidayah Masyaul Huda ini juga tak ingin berlama-lama menetap di kampung yang tak pernah kering. Suabah dan keluarganya sudah mencari tempat tinggal baru yang lebih layak untuk dihuni. “Sudah beberapa kali rumah ini ditinggikan. Ya kalau pindah mah memang ada tujuan ke situ tapi ini kan ada sekolah wakaf keluarga,” kata Suabah. (Cr37)

Related Articles

Back to top button