BEKACITIZEN

Ikon Flora Dan Fauna Kota Bekasi

(Kronologis kajian untuk proses Perancangan Perda Kehati Kota Bekasi)

Kamis, 29 Maret 2018 yang baru lalu dinas lingkungan hidup mengundang beberapa tokoh masyarakat untuk membahas keanekaragaman hayati (KEHATI) kota Bekasi. Pertemuan itu dimaksudkan untuk memboboti kajian akademis yang selanjutnya menjadi landasan ilmiah perancangan peratutan daerah (RAPERDA) tentang keanekaragaman hayati kota Bekasi.

Kabar pertemuan itu diperbincangakn di grup whats app Pusat Kajian Budaya yang anggotanya para seniman, budayawan dan sejarawan. Pro kontra mengenai ikon flora dan fauna lebih menarik dibahas karena kota Bekasi belum punya ikon tersebut. Bekasi pernah punya patung Kecapi dan Lele yang dianggap sebagai ikon flora dan fauna tapi itu milik kabupaten Bekasi. Namun karena proses penetapannya tidak melibatkan masyarakat maka patung kecapi dan lele itu dianggap kurang etis jika disimbolkan sebagai kondisi atau karakteristik masyarakat Bekasi akhirnya patung itupun di bakar masa.

Seakan tidak mau mengulang kejadian kelam tersebut maka pemerintah harus lebih aktif melibatkan masyarakat dalam menetapkan hal-hal yang berkaitan dengan simbolisasi daerah. Badan Kekeluargaan Masyarakat Bekasi (BKMB Bhagasasi) sebagai organisasi kekeluargaan berbasis budaya kebekasian secara langsung maupun tidak sangat berkepentingan dengan hal ini. Dalam beberapa hal secara resmi BKMB Bhagasasi dimintakan masukannya mengenai penamaan dan atau penyimbolan tertentu yang berimplikasi pada karakteristik masyarakat Bekasi baik dari aspek sejarah, budaya dan kesenian.

Saat ini pemerintah dan DPRD Kota Bekasi sedang merumuskan peraturan daerah tentang keanekaragaman hayati (RAPERDA KEHATI), maka BKMB Bhagasasi melayangkan surat resmi yang berisi kronologis penetapan flora dan fauna yang sudah melalui proses kajian dan seminar yang melibatkan banyak unsur masyarakat kota Bekasi.

Apa dan Bagaimana KEHATI Kota Bekasi
Keanekaragaman Hayati (KEHATI) bagi wilayah kota Bekasi dapat didefinisikan sebagai keanekaragaman organisme yang hidup di berbagai kawasan baik daratan, perairan (sungai), dan ekosistem lainya dimana didalamnya terdapat berbagai keanekaragaman hayati dalam satu spesies, antar spesies dan keanekaragaman ekosistemnya. Keberadaan keanekaragaman hayati dimaksud adalah yang pernah hidup, tumbuh, berkembang dan memberikan nilai manfaat kehidupan alamiah di wilayah kota Bekasi.
Menjaga dan melestarikan Keanekaragaman Hayati (KEHATI) tetap menjadi isu penting diberbagai negara. Kota Bekasi sebagai bagian wilayah negara kesatuan republik Indonesia berkewajiban menjaga dan melestarikan Kehati yang hidup dan tumbuh di wialayah daratan dan perairannya. Keberadaan flora dan fauna sebagai sumber pemenuhan kebutuhan hidup manusia semakin terbatas dan bahkan terancam punah. Oleh karena itu Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan perundang-undangan tentang pentingnya menjaga kekayaan Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (UU Nomor 5 tahun 1960) dan tentang Flora dan Fauna yang dilindungi (UU Nomor 301 tahun 1991).

Kota Bekasi yang dalam catatan sejarahnya memiliki dua aspek kewilayahnya yakni terdiri dari daratan (baik untuk pemukiman dan hutan) dan perairan (baik sungai maupun rawa-rawa). Tentu keberadaan dua bagian wilayah tersebut kini sudah tidak ada lagi. Keadaan tersebut bukan berarti tidak bisa melakukan usaha pelestarian dan pengembangan kehati yang masih tersisa dan masih dapat dikembangkan keberadaanya.

Dengan melihat dan menyadari betapa pentingnya menjaga kehati di Kota Bekasi maka patut diapresiasi ihktiar pemerintah kota Bekasi bersama dengan stakeholder dalam menyususn rancangan Peraturan Daerah tentang Kehati Kota Bekasi.

Identitas Flora dan Fauna Kota Bekasi
Keanekaragaman Hayati (Kehati) flora dan fauna yang pernah hidup, tumbuh, berkembang dan masih mungkin untuk dikembangkan di wilayah Kota Bekasi diantaranya adalah: Jenis flora : Teratai, Kecapi, Durian, Salak, Kokosan, Jengkol, Sawo, dll. Jenis Fauna : (Ikan) Gabus, Tawes, Gurame, Sepat tompel, dll. (Unggas/burung) Perkutut, Ayamayaman, Tekukur, Jalak.

Berdasarkan surat Walikota Bekasi Nomor : 522.51/ 2157-DTKP/IX/2003 perihal : Penetapan Flora dan Fauna. Ditetapkan bahwa lambang identitas Flora dan Fauna Kota Bekasi adalah buah Durian (Durio Zibethinus) dan Ikan Gabus (Ophiocephalus Miicropeltes).

Pemerintah Kota Bekasi hingga saat ini belum Menetapkan Identitas flora dan fauna sebagimana yang diamanatkan oleh undang-undang yakni buah DURIAN dan ikan GABUS. Bagaimana kronologisnya?

Pada tahun 2001 Pemerintah kota Bekasi telah melakukan kajian ilmiah mengenai identitas flora dan fauna. Dengan merujuk pada referensi dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, proses penetapan flora dan fauna harus sesuai dengan kriteria diantaranya; 1) merupakan jenis asli yang hidup di Kota Bekasi, 2) memiliki nilai kekhasan pemanfaatan oleh masyakarat setempat, 3) memiliki nilai estetika, 4) mempunyai tingkat kelangkaan, 5) penyebarannya terbatas, dan 6) dapat dibudidayakan serta dapat dilindungi secara alami.

Pada tanggal 22 Mei 2001 Pemerintah kota Bekasi mengadakan seminar hasil kajian tentang Flora dan Fauna Kota Bekasi yang melibatkan Bapedal Pusat, BPLH Jawa Barat, Dinas-Dinas terkait, KNPI, LSM, BKMB Bhagasasi, Perguruan Tinggi, Ulama, Sejarawan, Budayawan, Tokoh Masyarakat dan Insan Pers. Berdasarkan hasil seminar tersebut disepakati bahwa ikon yang menjadi identitas Folara dan Fauna Kota Bekasi adalah Buah Durian (Durio Zibethinus) sebagai Flora dan Ikan Gabus (Ophiocephalus Miicropeltes) sebagai Fauna Kota Bekasi.

Pada tanggal 12 September 2003 Wali Kota Bekasi menyampaikan surat perihal Penetapan Flora dan Fauna kepada Dirjen Bina Bangda Depdagri untuk penetapan identitas buah Durian dan Ikan Gabus sebagai Ikon flora dan fauna kota Bekasi.
Pada tanggal 21 Juni 2006 kepala bagian Bina Ekonomi dan Pembangunan Setda Kota Bekasi melakukan rapat Penetapan Flora dan Fauna sebagai Identitas Kota Bekasi sebagai respon dari hasil rapat koordinasi Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat pada bulai Mei 2006 di Kuningan yang menetapkan bahwa Kabupaten/Kota harus menetapkan satu jenis flora dan fauna yang menjadi ciri khas dengan keputusan Wali Kota.

Entah apa persoalanya?, hingga saat ini buah Durian dan Ikan Gabus belum ditetapkan sebagai identitas flora dan fauna kota Bekasi.

Ada dua kali aksi sebagian komponen masyarakat Bekasi dengan memasang bambu runcing yang katanya bermakna “sebagai simbol Patriotik” kota Bekasi di Eks Patung Kecapi dan Lele (yang dibakar masa sebagai bentuk penolakan) di jalan Ir. H. Juanda bulan-bulan kota Bekasi. Aksi tersebut mengingatkan kembali akan pentingnya pemerintah kota Bekasi segera menetapkan ikon flora dan fauna kota Bekasi sebagai pengganti ikon Kecapi dan Lele yang ditolak masyarakat Bekasi.

Sebagi bentuk tangungjawab organisasi, maka BKMB Bhagasasi siap manakala dimintai masukan lebih lanjut mengenai flora dan fauna kota Bekasi atau memfasilitas penyelenggaraan Forum Diskusi dengan mengundang para stakeholder yang kompeten guna memantapkan Identitas Flora dan Fauna Kota Bekasi yang telah disepakati antara pemerintah dengan masyarakat sejak tahun 2001, yakni BUAH DURIAN dan IKAN GABUS.

Mengapa Buah Durian dan Ikan Gabus ?

Berdasarkan Kriteria yang dijelaskan dalam materi sosialisasi maskot flora dan fauna dalam rangka kegiatan penguatan ketahanan pangan TA. 2003 yang diselenggarakan Sub Dinas Lingkungan Hidup Dinas Tata Kota dan Permukiman Kota Bekasi tanggal 30 september 2003

Merupakan jenis asli yang hidup di daerah yang bersangkutan; berdasarkan pengamatan langsung di lapangan bisa disimpulkan bahwa durian si bongkok dan ikan gabus Bekasi memang asli daerah Bekasi dan memiliki karakteristik tersendiri dibanding dengan durian dan ikan gabus daerah lain.

Memiliki nilai kekhasan pemanfaatan oleh masyarakat setempat; buah durian si bongkok mempunyai kekhasan dengan bentuk yang cukup besar berbentuk leci empat persegi, sedangkan nilai kekhasan dari ikan gabus Bekasi adalah dari segi rasa cukup membedakan dengan ikan gabus yang berasal dari daerah lain dan habitatnya suka hidup di rawa-rawa yang berair bersih dan tenang serta kandungan gizinya tinggi.
Memiliki nilai estetik; flora dan fauna yang ditetapkan memang memiliki nilai estetika sendiri-sendiri baik dari jenis, tinggi pohon, duri pada kulit yang jarang, daging buah yang tebal dan butuh habitat tertentu untuk tumbuh, bentuk dan warna memiliki estetika khusus.

Mempunyai nilai kelangkaan; kondisi sampai saat ini baik flora maupun fauna kota Bekasi yang ditetapkan mempunyai tingkat kelangkaan yang tinggi. Di Pekayon, secara kuatitas semakin hari semakin berkurang bahkan nyaris hilang karena tidak ada perawatan khusus.

Penyebarannya terbatas; flora dan fauna kota Bekasi ini tingkat penyebarannya sangat terbatas karena membutuhkan agroklimat dan kebutuhan hidup yang tertentu.
Dapat dibudidayakan dan dilindungi secara alami; buah durian dan ikan gabus Bekasi keduanya dapat dibudidayakan dan dapat dilindungi secara alami. Bentuk pembudidayaan dapat berupa disiapkannya wilayah (taman) agrowisata yang terpadu antara tanaman durian dengan empang pembibitan ikan gabus.(*)
*)Pengurus Besar BKMB Bhagasasi

 

Oleh : Aan Suhanda dan Abdul Khoir HS

Related Articles

Back to top button