Metropolis

Nelayan Mengeluh Pendapatan Menurun

Radarbekasi.id – Cuaca di perairan laut pesisir Kabupaten Bekasi yang tak menentu, membuat para nelayan asal Kampung Beting, Desa Pantai Harapan Jaya harus menelan pil pahit. Pasalnya, mereka tidak bisa menangkap ikan di laut untuk dijual, sementara beban ekonomi tidak bisa diajak ‘kompromi’.

Muhammad Hafiz, nelayan asli Kampung Beting mengeluhkan cuaca dan kondisi laut yang tidak menentu, menyebabkan tangkapan ikannya menurun. Hal itu pastinya berpengaruh pada pendapatan kesehariannya.

Bila cuaca bersahabat, Hafiz mampu membawa pulang uang antara Rp100 hingga Rp200 ribu. Saat musim panen tiba, penghasilannya meningkat hingga Rp300 ribu. Namun, saat cuaca buruk seperti sekarang, seharinya dia hanya bisa memberikan uang Rp30 hingga Rp50 ribu untuk sang istri dirumah.

“Ukuran perahu nelayan di sini agak kecil, saat cuaca buruk ya tidak berani melaut. Hasil tangkapan nelayan juga tidak sama, ada yang mencari ikan bulu ayam yang kecil-kecil itu, ada juga udang, atau kerang,” jelas Hafiz, kepada Radar Bekasi.

Menurut Hafiz, panas mentari juga mempengaruhi kualitas penjemuran ikan hasil tangkapam. Ikan kecil-kecil, menurutnya tidak laku dijual. “Kalau musim kemarau, ikan kecil-kecil dalam kondisi basah dijual Rp10 ribu per kilogram, bila kering mencapai Rp30 ribu,” keluhnya lesuh.

Hal senada disampaikan Sarmunin, nelayan perempuan. Sambil menjemur udang rebon hasil tangkapannya, Sarmunin menuturkan sulitnya mencari ikan dan udang saat cuaca tidak menentu. Bahkan, perahunya rusak akibat gelombang tinggi dan angin kecang yang akhir-akhir ini kerap terjadi.

“Udang rebon dijual ke pengepul Rp15 ribu per kilogram, kalau dijual sendiri harganya mencapai Rp25 ribu (kondisi kering). Kalau kemarau, menjemurnya cukup sehari, di (musim) penghujan begini butuh dua hari lebih,” ujarnya dengan lelah sehabis melaut.

Ikan hasil tangkapan Sarmunim, bila cuaca cerah bisa mencapai 10 kilogram. Namun kini, hanya dua kilogram sehari. Harga jualnya juga turun dalam kondisi basah. “Kalau basah Rp10 ribu, bahkan pernah Rp5 ribu saat pasokan banyak tapi tidak kering,” imbuh Sarmunin.

Para nelayan pun berharap kepada pemerintah setempat agar mencari solusi supaya membantu para nelayan dalam memasok hasil laut. Nelayan meminta pemerintah mendorong mereka agar bisa memberikan harga hasil laut dengan harga yang pantas. Karena, menurut nelayan, pemerintah memiliki peran dalam harga jual-beli hasil tangkapan laut. (Cr37)

Related Articles

Back to top button