Metropolis

Menengok Aktivitas Cahaya Anak Negeri

Bina Anak Jalanan, jadi Atlet Hingga Aparatur Pemerintah Daerah

Radarbekasi.id – Terbentuk dari tahun 2002, CAN sudah menunjukkan keseriusannya membina anak jalan hingga berprestasi dan berguna bagi sesama.

Hingga saat ini, sudah puluhan anak binaan CAN yang menjadi atlet bahkan pegawai pemerintah.

CAN dikelola oleh pasangan suami istri Andi Suhandi serta istrinya Nadiah Abidin. CAN sebelumnya bernama sanggar anak matahari, seiring berjalannya waktu, sanggar anak matahari berubah menjadi cahaya anak negeri sampai sekarang.

Cahaya anak negeri terbentuk untuk menampung anak jalanan di kota bekasi dan mewadahi anak – anak tersebut agar bisa berkreasi dan berinovasi.

Peralatan belajar, perpustakaan, tempat bekerja kelompok, dan fasilitas jasmani maupun rohani di siapkan dirumah CAN.
Andi Suhandi pengelola CAN mengatakan, CAN merupakan sebuah wadah yang menaungi anak jalanan, yatim, dhuafa, dan lainnya.

Kedekatan Andi dengan anak jalanan membuat dirinya dianggap sebagai abang bagi mereka, karena faktor usia dan ilmu yang dimiliki.

“Dari situ, saya dan anak-anak mulai rutin berkumpul dan saling berbagi cerita di CAN. Saya mengobrol dengan anak-anak dan mereka mengungkapkan bahwa mereka sebetulnya ingin lanjut sekolah dan ingin berhasil seperti anak-anak lainnya yang sekolah,” terang Andi, Jum’at (6/4).

Maka dari situ, ia mengatakan mulai membuka program, dan merumahkan anak-anak. Awalnya sekitar 20-an anak ikut serta, laki-laki dan perempuan usia 6 sampai 18 tahun. Yang laki-laki waktu itu tidur di saung bambu, yang perempuan dalam kontrakan kecil. “Itu sebelum kita mempunyai rumah CAN sekarang ini,” katanya.

Menurutnya, upaya tersebut agar mereka dapat mengenyam pendidikan, satu-persatu mereka dimasukkan sekolah paket. Namun baru sekitar dua minggu semangat mereka yang menggebu-gebu tampak meredup.

“Saat ditanya alasannya, itu ternyata karena sekolah seringkali baru buka jam 10. Guru yang biasa sibuk sendiri. Soal yang diberikan bersama jawaban. Sehingga mereka menyebutnya Kapten, kapan pinternya,” ujarnya.

Melihat realita ini, ia berkeinginan untuk memasukkan mereka ke sekolah formal. ”Namun, mereka takut, katanya masa iya gembel bisa sekolah bareng anak-anak lain,”terangnya.

Untuk membuktikan mereka bisa, Andi dan Nadiah mengikutsertakan mereka dalam lomba baca dan tulis puisi umum, tanpa melihat latar belakang pendidikan.
”Hasilnya, juara satu tulis puisi dan juara dua baca puisi,”tambahnya.

Karena belum yakin, satu rumah dilibatkan dalam lomba teater. Naskah teater nyanyian anak jalanan yang ditulis Nadiah berhasil menyabet juara pertama hingga dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.

“Sampai sekarang ini puluhan anak-anak yang sudah menjadi atlet untuk Kota Bekasi dan banyak yang menjadi perwakilan di pentas seni untuk Kota Bekasi, saya berharap dengan adanya CAN di Kota Bekasi bisa memberikan kontribusi terhadap anak-anak yang kurang mampu dan memberikan ruang bagi mereka yang ingin hidup lebih baik lagi kedepannya,” tandas Andi. (pay)

Related Articles

Back to top button