BEKACITIZEN

Pancasila, Budaya Dan Agama

Oleh: Inggar Saputra

Radarbekasi.id – Indonesia adalah sebuah negara yang memiliki heterogenitas rumit. Dalam negara Indonesia, kita menemukan  beragam suku bangsa, agama dan keyakinan yang harus dikelola agar tidak saling bertentangan.

Sebab ketika nilai itu diperhadapkan akan menimbulkan kegaduhan dan konflik sosial yang mampu berdampak buruk kepada integrasi nasional.

Sebaliknya, jika mampu disatukan dalam keharmonian, keanekaragaman dalam tubuh bangsa Indonesia akan menciptakan persatuan nasional yang mendukung kesuksesan pembangunan.

Menghadapi heterogenitas dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia jelas kita membutuhkan pemimpin berjiwa negarawan. Sosok pemimpin yang mau dan mampu melihat secara jeli, bagaimana menyikapi agama, suku dan keyakinan yang berbeda ini.

Kita perlu pemimpin yang mampu meyakinkan rakyat, perbedaan bukan sarana agar kita terpecah, justru perbedaan merupakan cara Tuhan Yang Maha Esa agar kita bersatu sehingga mampu menjadi bangsa yang kuat. Hal itu dapat dimulai dengan mengesampingkan egoisme kelompok, tidak merasa agama dan sukunya yang terhebat sehingga berhak meminggirkan agama atau suku lainnya.

Untuk mendorong kepemimpinan negarawan, kita dapat memulainya dengan menjaga dan mengamalkan nilai dasar bangsa Indonesia yang mengacu kepada empat prinsip dasar kebangsaan. Dalam keseharian, setiap anak bangsa harus memahami dan menyadari bahwa Pancasila sebagai ideologi bangsa, Bhinneka Tunggal Ika sebagai ciri khas yang mempersatukan keanekaragaman bangsa Indonesia, UUD 1945 sebagai pijakan hukum dan NKRI sebagai konsep final kehidupan berbangsa dan bernegara.

Keyakinan untuk mengamalkan semua prinsip ini merupakan sebuah jalan mencapai cita-cita luhur pendiri bangsa Indonesia agar tercipta masyarakat adil, makmur, hidup penuh kedamaian dan sejahtera lahir maupun batin.

Terganggungnya Integrasi Nasional

Di tengah berbagai upaya bangsa Indonesia untuk menjaga empat prinsip dasar bernegara, belakangan ini justru kita menemukan banyak tindakan kontraproduktif dilakukan pemimpin bangsa. Dengan dalih kepentingan politik, agama dan nilai kebangsaan dihadapkan pada kondisi yang saling bertentangan.

Padahal persoalan agama merupakan sisi sensitif yang cenderung mampu membangkitkan sisi emosionalitas para pemeluk agama tersebut. Ketika itu terjadi, potensi konflik terbuka lebar dan masyarakat terpolarisasi menjadi kubu yang saling berhadapan.

Pada situasi jangka panjang, jika kita tidak mampu mengelola dengan baik, keharmonian anak bangsa terganggu dan membuka pintu lahirnya perpecahan di tubuh bangsa Indonesia.

Rasanya belum usai kita melihat bagaimana pemilihan kepala daerah DKI Jakarta menyisakan luka. Kontestasi politik sudah selesai, tapi luka mendalam masih tersisa khususnya dialami kelompok yang kalah. Aksi Walk Out Ananda Sukarlan dalam sebuah acara yang menghadirkan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu bisa menjadi pelajaran bagaimana konflik tidak sepenuhnya selesai. Ada sikap kenegarawan yang hilang dalam kompetisi politik yang melibatkan sisi keberagamaan ini.

Sekarang ketika proses transisi masih berlangsung dan upaya merajut hubungan yang lebih baik antara sisi kebangsaan dan keagamaan terus diupayakan, kita kembali menemukan persoalan serupa. Ini setelah Sukmawati Soekarnoputri membawakan puisi yang dianggap bernuansa SARA dalam ajang 29 Tahun Anne Avantie Berkarya di ajang Indonesia Fashion Week 2018. Dalam kesempatan itu, Sukmawati membacakan puisi “Ibu Indonesia” yang menyinggung adzan dan cadar dipertentangkan dengan sari konde dan suara kkebudayaan asli bangsa Indonesia.

Tentu saja kita menyayangkan terganggunya integrasi nasional bangsa Indonesia akibat puisi yang mempertentangan agama dan kebudayaan asli bangsa Indonesia. Apalagi untaian kata itu meluncur dari putri sang proklamator Indonesia. Padahal kita memahami sejak dulu adagam dan budaya Indonesia merupakan kesatuan yang utuh, bersifat saling mendukung dan menjadi inspirasi pendiri bangsa dalam melahirkan Pancasila.

Meski diakui ada perdebatan panas dalam membentuk dasar negara, para negarawan Indonesia akhirnya menyepakati Pancasila sebagai ikatan lahir-batin yang mempersatukan keanekaragaman bangsa Indonesia termasuk di dalamnya mendekatkan hubungan agama dan negara melalui sila Ketuhanan Yang Maha Esa.

Rumusan Pancasila sebagaimana diketahui mengandung nilai intrinsik dan instrumental. Nilai instrinsik Pancasila merupakan perpaduan nilai asli milik bangsa Indonesia dan kebudayaan luar bangsa Indonesia, yang diserap ketika Indoensia memasuki masa sejarah, imperialis dan hasil pemikiran para pemikir bangsa. Nilai instrumental Pancasila mengandung imperative, bahwa dalam mencapai cita-cita negara maka harus menyesuaikan dengan lima sila yang ada.

Kedua pemahaman nilai ini mengakui bangsa Indonesia akan menjadi besar dan kuat jika bersandarkan kepada nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial sebagai satu kesatuan. Pancasila juga mencerminkan nilai realitas (hadir dalam kehidupan nyata bangsa Indonesia dalam kesehariannya) dan idealitas (sila Pancasila adalah nilai yang diinginkan untuk dicapai).

Berpijak kepada hal tersebut, maka segala kegaduhan dengan mempertentangkan ajaran agama dengan negara maupun kebudayaan asli bangsa Indonesia jelas menodai cita-cita luhur pendiri bangsa. Agama dan kebudayaan lahir sebagai pembentuk moralitas sehingga mendukung terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih baik. Inilah mengapa segala upaya mempertentangkan keduanya bertentangan dengan Pancasila khususnya sila pertama dan ketiga. Agama dan kebudayaan asli bangsa Indonesia sudah bersifat integral, cita-cita dan tujuan nasional membutuhkan dukungan keduanya.

Dalam puisi Ibu Indonesia, Sukmawati menyinggung sari konde, suara kidung ibu Indonesia, cadar dan adzan dimana semua itu berkaitan dengan nilai budaya dan agama. Dalam pembelajaran kebudayaan, kita mengenal istilah akulturasi yang dimaknai proses bercampurnya dua atau lebih kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan saling mempengaruhi. Hal ini menjadi dasar, bahwa kebudayaan Indonesia banyak dipengaruhi agama khususnya Islam sehingga melahirkan kesatuan Islam Indonesia.

Belakangan ini memang akhirnya Sukmawati menyampaikan permohonan maaf atas puisi yang dinilai memojokkan agama ini. Sebagai bangsa yang pemaaf, tentu alangkah bijaknya kita menerima permintaan maaf seseorang yang sudah bersedia mengakui kesalahannya. Tapi satu yang perlu diperhatikan agar kita membiasakan diri untuk menjaga kata-kata dan tindakan yang berpotensi menimbulkan ketersinggungan pihak lain. Apalagi persoalan yang bersinggungan dengan agama sangat sensitif bagi keberlangsungan hidup bangsa dan negara ini di masa mendatang.

Bagaimanapun kita harus menyadari agar Indonesia menjadi bangsa besar dan kuat, kita harus menyudahi pertentangan agama, negara dan budaya asli bangsa Indonesia. Pancasila sudah menjadi kesepakatan final yang menyatukan ketiga hal tersebut dan tugas kita sekarang mengamalkannya dengan membiasakan tidak berkata dan bertindak yang kontraproduktif terhadap nilai luhur dalam Pancasila. (*) Pengajar Pancasila Universitas Mercubuana dan Universitas Jakarta

Related Articles

Back to top button