Pendidikan

Guru dan Keteladanan

Oleh : Masiah Marliana

Radarbekasi.id – Akhir-akhir ini banyak masalah mengenai siswa-siswi di sekolah. Mulai dari siswa-siswi SMA yang perilakunya seperti suami istri, sampai anak SMP yang berusia 14 tahun di probolinggo berani menantang duel gurunya di sekolah gara-gara sang guru memergoki murid tersebut membolos dengan dua temannya, al hasil pihak sekolah menyita motor yang dipakai murid tersebut membolos. Karna tidak terima dengan penyitaan motornya, siswa tersebut menantang gurunya untuk duel. Namun tantangan yang diajukan kepada sang guru tersebut tidak dilayani.

Satu lagi yang membuat kita sangat miris berita tentang kematian seorang guru di SMAN 1 Torjun, Sampang Madura yang bernama Achmad Budi Cahyanto, tewas usai bertikai dengan muridnya sendiri.

Entah apa penyebabnya, yang pasti ada faktor internal dan eksternal yang melatar belakanginya. Sehingga para siswa tersebut berani berbuat kasar dan tidak manusiawi kepada guru..

Mengapa siswa zama now yang katanya melek dengan teknologi kelihatannya tidak lagi mempunyai rasa hormat dan patuh kepada guru-guru mereka di sekolah? Berbeda dengan murid zaman old dimana siswa benar-benar hormat dan segan kepada guru mereka di sekolah.
Jangankan mengajak duel atau pun memukul guru di sekolah, melihat mata guru saja tidak berani. Kalau sorang murid sudah begitu berani berbuat sekejam itu, sebenarnya siapa yang harus bertanggung jawab? Fenomena apakah ini?

Entah itu dari teman sebaya yang ada di rumah ataupun di sekolah, ataupun dari teknologi dan informasi yang mereka akses, apalagi kalau kita lihat zaman now begitu mudahnya anak2 untuk mendapatkan informasi yang mungkin tidak layak dikonsumsi oleh usia mereka dari internet.

Sebagaimana di sebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendididkan Nasional pasal 3 Undang-Undang tersebut menjelaskan bahwa “ Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakep, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

Muncul pertanyaan, mengapa sampai bisa anak didik disekolah seperti itu? Apakah ada yang salah dengan sistemnya atau bagaimana. Lepas dari perbedaan pandang mengenai penyebabnya, kita sebagai guru seharusnya tidak hanya mementingkan aspek-aspek intelektualitas semata. Tapi, terkadang kita sebagai guru melupakan aspek-aspek lain yang kadarnya sebanding dengan aspek intelegensi, yaitu akhlak dan keteladanan.

Dikalangan pendididk sudah tidak asing lagi bahwa mendidik dan mengajar adalah tugas pokok dan tuntutan prpfesi yang disandangkan oleh seseorang yang dikenal dengan istilah guru. Siapa pun orangnya, ketika ia telah memilih sebagai seorang guru, konsekuensi logisnya ia telah siap bergelut dalam dunia mengajar dan mendidik.

Banyak guru yang memaknai bahwa profesi guru hanya sebatas mengajarkan pengetahuan dan mentransfernya semata. Sedangkan, aspek – aspek lainnya kurang diperhatikan sebagai persoalan yang berarti , salah satunya dalam aspek akhlak dan keteladanan.

Keteladanan merupakan aspek penting yang sering dilupakan seorang guru. Seorang murid terkadang meniru yang kita pakai dan kita ucapkan, bahkan apa yang kita lakukan. Hal ini pernah saya alami sendiri ketika memenggil teman guru dengan sebutan “ Bro “ didepan anak-anak, ternyata hanya beberapa waktu murid-murid saya sering menirukan ucapan saya tersebut.

Sejak itulah saya berpikir, jika ucapan ringan seperti itu saja ditiru oleh murid-murid saya apa lagi dengan prilaku saya. Dalam menjalankan pekerjaannya, seorang guru membutuhkan kesabaran, ketulusan, dan dedikasi yang tinggi dalam membimbing para siswanya untuk menjadi manusia yang cerdas, berpengetahuan yang baik dan yang paling penting adalah yang berakhlak mulia.

Bagi saya mengajar dan mendidik adalah panggilan yang istimewa. Bukan hanya sebagai kegiatan yang bersifat memberi dan menerima semata. Tapi, saya memaknai tiap ucapan maupun tindakan yang saya lakukan adalah bagian yang paling penting dari perjalanan panjang dalam membangun pendidikan yang berakhlak dan bermoral. Seorang guru harus mampu menjadi teladan bagi murid-muridnya. Minimal, apa yang kita ucapkan, yang kita pakai dan tindakan yang kita lakukan di hadapan mereka sesuai dengan kaidah.

Guru dalam persepsi siswa tidak dipandang sebagai sosok yang harus diikuti atau dalam Al Qur`an surah Al-Ahzab ayat 21, uswatun hasanah (teladan yang baik) walaupun ayat tersebut ditunjukkan kepada diri Rasulullah Saw., namun keteladanan juga bisa tercermin dari sosok yang namanya guru.

Dalam proses belajar mengajar, materi yang disampaikan akan lebih mengena dan diserap oleh murid secara efektif jika dibarengi dengan aspek keteladanan. Tidak hanya sebatas pada kata-kata dan ucapan saja, tapi langsung ketindakan nyata. Seorang guru juga dtuntut memiliki akhlak mulia. Tidak hanya baik dalam mengajar tapi juga baik dalam berakhlak terhadap sekitarnya. (*)

Related Articles

Back to top button