Metropolis

Mengenal Pakaian Khas Bekasi Kembang Gede

Mirip Pakaian Betawi, Banyak Mengandung Filosofi

Radarbekasi.id – Bekasi memiliki salah satu pakaian khas bekasi yang tidak dimiliki oleh daerah lain, yakni Kembang Gede. Seperti apa?

Sebagai wilayah yang kaya akan sejarah dan budaya, Bekasi memiliki pakaian khas pengantin, Kembang Gede. Pakaian tersebut perbaduan Betawi dan Bekasi.

Penasehat Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpri) Kabupaten Bekasi, Nur Haety mengatakan Secara keseluruhan, kembang gede menyerupai pakaian pengantin Betawi. Pengantin pria menggunakan peci sedangkan wanita mengenakan siangko atau cadar yang menutupi wajah.

Namin, kembang gede memiliki kekhasan tersendiri, terlebih pada bagian aksesorisnya. Setiap aksesori pun memiliki makna. Pada pakaian pengantin wanita kembang gede mengenakan konde cucung yang dipasang di kepala. Konde dipasang dengan cara diikatkan menggunakan tali yang ditarik dari kiri ke kanan. Cara pemasangan ini mengandung arti bahwa kehidupan kerap berawal dari kesakitan namun pada akhirnya bakal berujung pada kebaikan.

“Konde ini juga memiliki tiga dimensi yakni dimensi alam, uhrawi dan insan, sehingga kalau kita amenjalankan perintah agama insya Allah akan menggapai kemurnian,” kata dia.

Kemudian jajagoan, aksesori yang juga dipasang pada kepala wanita. “Kalau di Betwai dinamakan burung hong. Kenapa disebut jajagoan? Karena Bekasi ini banyak sekali pejuang-pejuang, banyak orang jago,” kata Nur.

“Jajagoan juga melambangkan ayam jago yang pintar mencari rejeki, diharapkan penganten mudah menggapai rizki. Jajagoan ada empat yang disematkan yang berarti empat mata angin. Diharapkan pengantin bisa mencari rezeki ke segala arah,” kata dia melanjutkan.

Kemudian pada pakaian pria dipasangi parang, yang melambangkan kekuatan. “Pada dasarnya kuat dari segala godaan dalam pernikahan. Pada saat mengarungi rumah tangga jangan mendengar bisikan kiri kanan,“ kata dia.

Dikatakan Nur, selama ini busana pengantin Bekasi kerap disamakan dengan busana pengantin Betawi. Maka dari itu, sejak tahun 2004, para perias mulai melakukan penggalian sejarah untuk pengentahui kekhasan Bekasi. Penggalian menghabiskan waktu, sediktinya tiga tahun.

“Setelah melalui proses penggalian, kami perjuangkan agar diakui. Alhamdulillah pada 2007 kembang gede dibakukan di tingkat Kabupaten Bekasi. Tidak berhenti sampai di situ, kami selalu berupaya agar pengantin Bekasi diketahui khalayak ramai. Hingga pada 2014 busana pengantin Bekasi dibakukan di tingkat nasional,” kata dia.

“Harapan saya justru para pejabat, misalkan menikahkan anaknya, atau saudaranya, harusnya pakai kembang gede biar jadi contoh bagi masyarakat. Pakaian khas ini harus terus diperkenalkan,” kata Nur Haeti kepada Radar Bekasi, belum lama ini. (*)

Close