Metropolis

Guru di Mata Saya

Oleh: Rijan Sania, S.ST

Radarbekasi.id – Guru … Engkau adalah Pendidik, pembimbing anak bangsa agar menjadi manusia yang terdidik dan berpendidikan.

Guru … Engkau adalah Pengajar, Pembimbing anak bangsa agar tidak menjadi manusia yang kurang ajar.

Guru … Engkau adalah manusia yang tindakan dan ucapannya digugu dan ditiru.

Mendengar, melihat dan menyaksikan fenomena dunia pendidikan zaman Now sungguh miris sekali, betapa tidak. Siswa menganiaya guru sampai tewas, guru dianiaya wali murid sampai babak belur hingga tindakan guru ketika menghukum siswanya di luar nalar menjadi hiasan hingar bingarnya dunia pembelajaran anak bangsa. Mengapa hal tersebut bisa terjadi, tidak ada lagikah yang bisa dijadikan pedoman dalam membuat harmonisasi siswa dengan guru? Mudah-mudahan rangkaian kalimat yang tersusun di bawah ini bisa menjadi solusi dalam menjawab fenomena dunia pendidikan kita walau hanya setetes.

Dua belas tahun bersama guru, dua puluh tujuh tahun yang lalu. Tahun 1978/1979 adalah masa pertama kali saya bertemu dengan guru yaitu masa-masa di Sekolah Dasar. SD Negeri Bekasi Timur 1. Masa-masa ini adalah masa-masa di mana Tes Prestasi Belajar (TPB) atau Tes Hasil Belajar (THB) diselenggarakan per empat bulanan atau yang dikenal dengan Catur Wulan (CAWU). Kalau dipikir-pikir kebijakan TPB dan THB ini ternyata bukan untuk mengukur kemampuan siswa tetapi mengukur kemampuan orangtua siswa dalam membayar lunas iuran sekolah tepat waktu. Sama dengan kebijakan daftar ulang saat ini. Dan saya adalah siswa yang selalu bermasalah dengan iuran sekolah.

Guru-guru yang masih saya ingat saat itu adalah: Bapak Sutejo, Bapak Minto Basuki, Bapak Darsono, Ibu Anisah, Ibu Khodidjah, Ibu Wati dan Ibu Mamah. Dari sekian banyak guru di Sekolah Dasar hanya ada satu yang kesannya membekas dalam hati, yaitu Ibu Mamah, beliaulah orang yang selalu mengerti keadaan ekonomi keluarga saya.

Tamat dari SD, sekitar tahun 1984/1985 saya melanjutkan ke Sekolah Teknik Negeri Bekasi (ST Negeri). Banyak sekali peristiwa berkesan di sekolah ini. Tinggi badan saya yang Cuma 138 cm jadi bahan bully-an teman-teman di kelas, beruntunglah saya ada guru olahraga yang bernama Bapak Aman Widya, beliau termasuk guru yang paling ditakuti namun akrab sekali dengan saya, keakraban ini yang membuat teman-teman tidak berani mengejek kekurangan saya.

Di masa-masa itu, tepatnya di kelas 1 ST, saya kena tampar seorang guru Biologi bernama Bapak Ahmad Juhaeri, tidak sendiri tapi se kelas, kasusnya karena tidak ada yang mau piket membersihkan kelas. Sampai saat ini saya masih berharap dapat bertemu dengan beliau dan berkata “Berkat tamparan bapak sekarang saya bisa sukses, dan yang pasti jadi tahu bahwa kebersihanlah yang menandakan bahwa manusia itu punya iman.’’

Tamat dari ST saya melanjutkan ke STM Negeri 1 Bekasi, kalau lihat tinggi badan yang hanya 145 cm harusnya saya tidak bisa masuk sekolah ini, hanya karena kepala sekolah saat itu, yaitu Bapak Drs. Haji Elan Suherlan, teman akrab bapak saya dan masih bertetangga akhirnya saya bisa masuk. Di masa-masa STM ini banyak sekali kesan-kesan yang saya alami. Ada seorang guru wanita mengajar mata pelajaran pendidikan moral pancasila (PMP). Tindakan dan perkataan beliau saat itu begitu mendalam dan tak lekang oleh waktu. Tindakan fisik yang dilakukan guru biologi saya waktu di ST hilang begitu saja seiring berjalannya waktu tapi tindakan dan perkataan guru PMP ini sampai saat ini masih membekas dan membuat luka dalam hati.

Saat itu senin pagi, di awal tahun pelajaran baru, jam pertama pelajaran PMP. Semua siswa baru berseragam baru, kemeja putih dan celana abu-abu baru. Hanya saya yang menggunakan seragam kemeja putih bekas ST. Tiba-tiba, ibu guru PMP tersebut memanggil saya, beliau kenal saya karena mengajar juga di ST. Dengan perasaan percaya diri saya menghampiri ke depan kelas. Tiba di depan kelas saya dimaki-maki di depan siswa yang lain, begini katanya : “coba lihat ini, ini contoh tidak baik, siswa yang lain bajunya putih bersih, ini malah kotor dan dekil sekali.’’ Saya hanya tertunduk malu dan sedih saat itu.

Kini 30 tahun telah berlalu, saya ingin bertemu dengan guru saya tersebut dan berkata: ’’Ibu…ini saya murid ibu, yang dulu ibu jadikan contoh di depan kelas di hadapan anak-anak yang lain, sekarang saya meneruskan jejak ibu sebagai guru, guru profesional bersertifikat….mudah-mudahan ini semua berkat do’a yang ibu panjatkan tanpa sepengetahuan saya…Aamiinnn….

Berdasarkan pengalaman ini semua, ternyata tindakan fisik dengan menampar tidak sampai melukai hati dan lebih cepat hilang oleh waktu, sedangkan perkataan sinis dan makian yang terucap akan tetap membekas di dalam hati.

‘’Wahai Bapak dan Ibu Guru, jaga lisan dan tindakan, karena aku, kamu dan kita semua adalah panutan yang digugu dan ditiru.” (*)

Related Articles

Back to top button