Berita Utama

Marketing Meikarta Berjuang!

Radarbekasi.id – Meski belum ada kejelasan kapan akan dibayar gaji oleh manajemen Meikarta, namun sejumlah tenaga pemasaran (marketing) Meikarta, masih terus berjuang dan berusaha untuk mendapatkan haknya.

“Kami akan terus berjuang, karena gaji itu adalah hak kami sebagai pekerja,” kata Manager Marketing Meikarta, Al Aktanto kepada Radar Bekasi, Kamis (26/4).

Pria yang akrab disapa Tanto ini menjelaskan, pihaknya sudah bekerja sama dengan beberapa advokat (lawyer) untuk mendampingi menempuh jalur hukum secara perdata.

Selain itu, masalah pengaduan, pihaknya akan melaporkan kepada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Jawa Barat yang berada di Karawang, serta melaporkan kepada Mabes Polri, terkait adanya dugaan kecurangan yang dilakukan manajemen Meikarta, karena tidak membayar gaji para marketing.

Dijelaskan Tanto, untuk menguatkan adanya dugaan kesalahan serta tidak adanya tanggung jawab manajemen Meikarta kepada sejumlah marketing yang sudah menjual unit apartemen Meikarta, pihaknya sudah mengumpulkan bukti kuat berupa dokumen penting.

“Kami sudah siapkan berbagai dokumen penting sebagai alat bukti, bahwa marketing Meikarta yang sudah menjalankan tugas sebagaimana laiknya karyawan, namun gajinya tidak dibayar,” terang Tanto.

Sementara itu, salah satu Sales Manager Marketing Meikarta, Makmun menambahkan, pihaknya sudah membuat laporan kepada pengawas Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat.

“Kami sudah melaporkan apa yang dilakukan oleh manajemen Meikarta kepada para marketing Meikarta. Sebab, kalau tidak ada marketing, mana mungkin produk atau apartemen Meikarta bisa terjual. Karena bagaimanapun juga, marketing itu adalah asset sebuah perusahaan, jadi wajar saja bila marketing perlu diperhatikan,” bebernya.

Lanjut Makmun, meskipun tantangannya berat untuk memperjuangkan hak para marketing, namun dengan adanya dukungan moral dari sejumlah advokat yang akan membantu pihaknya dari aspek hukum dan secara administrasi, menambah semangat dalam memperjuangkan hak ratusan rekannya yang belum mendapatkan gaji.

“Kami akui, ini perjuangan yang berat, tapi kebenaran ini harus diungkap. Sebab kami masih yakin, hukum di negara ini masih ada yang berpihak kepada masyarakat kecil dan lemah seperti kami,” ucapnya optimis.

Sebelumnya, puluhan marketing Meikarta, kembali melakukan aksi demontrasi di depan Istana Negara, Jalan Merdeka Utara, Jakarta, dengan tuntutan masalah gaji yang tak kunjung belum dibayar oleh manajemen Meikarta.

Koordinator aksi, Al Aktanto mengakui, meski dalam aksi demontrasi tersebut tidak ada pihak Istana atau utusan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menemui mereka, tidak menyurutkan niat untuk terus menuntut pembayaran gaji dari pihak Meikarta yang merupakan bagian dari Lippo Cikarang (Lippo Group,red).

“Bagi kami tidak ada masalah, walaupun tidak bisa melakukan mediasi dengan perwakilan dari Istana. Tapi kami yakin, Pak Presiden Jokowi, mengetahui apa yang sedang kami perjuangkan,” kata pria yang akrab disapa Tanto ini kepada Radar Bekasi, Rabu (25/4).

Ia meyakini, dengan melakukan aksi di depan Istana Negara yang mendapat pengawal dan penjagaan dari pihak Kepolisian, orang nomor satu di republik ini (Presiden,red), bakal memberikan perhatian kepada rakyatnya yang haknya tidak dipenuhi.

“Kami sangat yakin, aksi yang kami lakukan itu tidak akan sia sia. Sebab jika karyawan yang sudah bekerja tidak digaji, itu merupakan sebuah pelanggaran. Oleh karena itu, kami sangat yakin, Bapak Presiden yang terhormat, akan mengambil kebijakan untuk menyelesaikan persoalan yang kami hadapi,” tuturnya.

Lanjut Tanto, setelah melakukan aksi demo di depan Istana Negara untuk mendapat perhatian dari pemerintah, pihaknya juga akan melaporkan pihak Meikarta kepada pengawas ketenaga kerjaan Provinsi Jawa Barat.

“Gaji itu hak, dan menyangkut pada kebutuhan hidup. Maka dari itu, berbagai cara akan kami lakukan untuk mendapatkan hak yang tidak dipenuhi oleh perusahaan yang menggembor-gemborkan bakal mengucurkan investasi sebesar Rp278 triliun itu,” tegas Tanto.

Sedangkan Direktur Informasi dan Komunikasi Publik Lippo Group, Danang Kemayan Jati berdalih, jumlah tenaga marketing Meikarta itu mencapai 20 ribu, dan kalau memang pihaknya ada masalah, tentu yang melakukan aksi unjuk rasa pasti banyak.

“Jadi perlu dipertanyakan tuntutan mereka kalau pihak kami (Meikarta,red) yang bermasalah. Pasalnya, yang melakukan aksi unjuk rasa hanya segelintir orang. Berarti yang puluhan ribu marketing lagi tidak ada masalah, sebab sistem yang kami terapkan itu bukan gaji, sesuai kesepakatan manajemen dengan tenaga marketing,” ucap Danang berkilah. (and)

Related Articles

Back to top button