Politik

Transpatriot Picu Kericuhan di Debat Pilkada

Radarbekasi.id – Debat publik calon wali kota dan wakil wali kota putaran kedua yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Kota Bekasi di Hotel Santika sempat diwarnai kericuhan, Kamis (3/5). Pemicunya, pembahasan Bus TransPatriot yang belum beroperasi alias mangkrak.

Kericuhan bermula ketika memasuki segmen dimana kedua paslon saling lempar pertanyaan. Saat itu, calon wali kota nomor urut 2, Nur Supriyanto bertanya perihal bus Transpatriot yang mangkrak. Menurut Nur, bus tersebut seharusnya dapat dinikmati masyarakat.

“Berarti ini ada perosalan apa dari sisi perencanaan, ini bahaya loh, ini harusnya BPK dan KPK melihat ini, ada satu anggaran yang tidak terlaksanakan, sudah belanja tapi tidak digunakan kenapa?,” tanya Nur kepada calon wali kota nomor urut 1, Rahmat Effendi.

Pria yang akrab disapa Pepen itu menjawab dengan tegas bahwa bus tersebut baru dibeli tahun 2017. Ia menjelaskan, kota lain seperti Yogyakarta dan Palembang yang lebih dulu menerapkan konsep serupa membutuhkan waktu dua sampai tiga tahun.

“Kalau besok Pj Wali Kota melimpahkan pada Badan Usaha Milih Daerah (BUMD) kemudian melapor ke DPRD, serta bekerjasama dengan pihak manapun, selesai sudah. Jadi enggak perlu ke KPK ngapain, orang barangnya dibeli, kecuali kalau di markup, baru panggil KPK,” tegasnya.

Setelah itu, Nur mendapat kesempatan untuk menanggapi jawaban tersebut. Menurutnya, jawaban tersebut masih di luar harapannya. “Saya tadinya berpikir pak Rahmat akan mengatakan begini, ‘Oke saya pemimpin, saya tanggung jawab semua, saya akan selesaikan apapun yang saya lalukan,” jelasnya.

Pepen langsung menimpal tanggapan Nur. Ia menilai bahwa argumentasi Nur telah menyudutkan aspek pribadi. “Rasanya udah menyerang pribadi, ini udah nyerang pribadi,” tuturnya.

Pendukung Rahmat Effendi langsung berteriak menyoraki Nur. Beberapa diantaranya terlihat berdiri dan nyaris maju ke dekat panggung. Hal itu menyebabkan debat sempat terhambat. Moderator pun beberapa kali menenangkan massa.

Terpisah, Komisioner KPU Kota Bekasi Syafrudin mengaku, prihatin dengan kericuhan yang terjadi dalam debat kandidat tersebut. Terlebih, kepada kedua paslon yang tidak menonjolkan terkait, penguatan program kerjanya masing-masing saat debat kandidat.

“Dan saya pikir efek dari kedua paslon tidak menonjolkan pengutan program kerjanya saat debat jadi faktor para pendukung bereaksi yang juga saya pikir tidak perlu terjadi,” katanya.

Secara umum, menurut dia pelaksanaan kegiatan debat kandidat putaran kedua yang difasilitasi KPU Kota Bekasi dapat berjalan lancar hingga selesai. (neo)

Related Articles

Back to top button