Berita Utama

Nur Serang Balik Pelapor ke Polisi

Radarbekasi.id – Calon wali kota Bekasi nomor urut dua bakal mempolisikan orang yang telah melaporkan dirinya atas dugaan pelanggaran kampanye ke Panwaslu belum lama ini.

Hal ini dikemukakan kuasa hukum Nur Supriyanto, Hiu Hindiana. Menurutnya, pelaporan yang dituduhkan pelapor telah mencoreng nama baik Nur Supriyanto sebagai calon wali kota Bekasi.

“Untuk membersihkan nama baik klien, kami akan melapor balik pelapor ke Polres Metro Bekasi Kota. Ini dilakukan juga sekaligus untuk mengembalikan nama klien kami,” kata Hiu.

Hiu menjelaskan, laporan dugaan pelanggaran itu secara tidak langsung telah mencoreng nama kliennya di tengah tahapan kampanye pada pesta demokrasi lima tahunan Kota Bekasi.

“Laporan itu telah memunculkan perspektif justifikasi. Masyarakat sudah terlanjur menduga kliennya melanggar aturan,” jelasnya.

Sebagai informasi, laporan terhadap Nur Supriyanto dilakukan oleh seorang warga yang merujuk adanya foto Nur Supriyanto bersama sejumlah pelajar SMP IT Gameel Ahlaq, di Kelurahan Sepanjang Jaya, Rawalumbu. Dalam foto itu nampak para pelajar mengacungkan dua jari, simbol kampanye dari pasangan urut nomor dua.

Namun, laporan itu mentah alias tak membuktikan Nur Supriyanto melanggar aturan Pilkada yang diatur dalam Peraturan KPU dan Per Bawaslu.

Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kota Bekasi pun telah menghentikan kasus Nur karena tak memenuhi unsur pelanggaran Pasal 69 Huruf i dengan ketentuan pidana pasal 187 ayat 3.

Calon wali kota nomor urut dua, Nur Supriyanto mengaku belum mengetahui siapa yang melaporkan dirinya ke Panwaslu. Namun, ia menegaskan menyerahkan sepenuhnya kepada kuasa hukumnya sebagai tindak lanjut.

“Sudah ada kuasa hukum yang akan melaporkan. Nanti saya tunggu saja proses dan hasilnya seperti apa,“ ujarnya.

Nur lanjut menjelaskan bahwa dia tidak memiliki niat sama sekali untuk hadir ke SD-IT Gammel Akhlaq. “Semua terjadi begitu saja, secara natural,” kata Nur Supriyanto.

“Sekolah itu kebetulan lokasinya berdampingan dengan masjid tempat saya salat Zuhur. Habis salat, saya duduk-duduk, sebab suasana saat itu memang sedang hujan. Kemudian ada temen saya, yang kebetulan juga orang sekolah itu (tidak tahu apakah dia itu guru, kepala sekolah atau apa) menyapa dan saya diajak oleh beliau ke sekolah, disana pun saya tidak lama,” ungkap Nur.

Cawalkot yang diusung Partai Gerindra dan PKS itu juga mengaku tidak sama sekali memiliki niat berkampanye, apalagi, sambung Nur, dirinya paham betul soal larangan berkampanye di lingkungan pendidikan.

Nur menegaskan tidak ada satupun tempat yang dilarang dikunjungi oleh pasangan calon. Sejumlah tempat mulai dilarang untuk didatangi apabila tujuannya adalah berkampanye.

“Semua tempat itu boleh, yang ga boleh itu ke masjid kampanye, ke sekolah kampanye. Jadi datang ke sekolah boleh kok. Buktinya Panwas sudah memutuskan saya tidak melakukan pelanggaran,” tandasnya. (sar)

Related Articles

Back to top button