Berita Utama

Gandeng Rumat Pasarkan Produk Hasil Penelitian

Radarbekasi.id – Sejumlah perusahaan pemula berbasis teknologi hasil kolaborasi pembinaan Balai Inkubator Teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Technolgy Business Incubation Center Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi menjalin kerjasama dengan Rumah Perawatan Umat (Rumat). Kerjasama dengan salah satu jaringan rumah perawatan luka diabetes ini untuk memasarkan sejumlah produk hasil penelitian yang dikembangkan oleh BPPT.

Kepala Balai Inkubator Teknologi BPPT, Anugerah Widiyanto, mengatakan beberapa produk binaan yang akan dipasarkan oleh Rumat diantaranya magneo+ dan beras analog. Keduanya merupakan produk hasil penelitian dari BPPT.

“Produk tersebut akan diedarkan di semua unit Rumat yang ada di Indonesia,” ujar Anugerah, usai penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di The Evitel Hotel, Minggu (13/5).

Kerjasama tersebut diawali dengan penandatanganan MoU antara PT Global Indotech Madani, selaku produsen magneo+ dan PT Agrotek Pintar Nusantara untuk beras analog dengan Rumat.

Anugerah menjelaskan, magneo+ digunakan untuk mengurangi nyeri sendi bagi penderita diabetes. Sedangkan beras analog adalah beras yang terbuat dari campuran beras merah dan sagu yang memiliki indeks glikemiks yang rendah, sehingga selain mengenyangkan dan aman bagi penderita diabetes.

“Beras analog sudah di uji kliniskan di daerah Yogyakarta,” jelasnya.

Dikatakan Anugerah, BPPT memiliki banyak produk hasil penelitian yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Namun, selama ini pihaknya sedikit terkendala dalam pemasaran produk hasil penelitiannya tersebut.

Oleh karena itu, pihaknya menggandeng Rumat. “Kami sengaja menggandeng Rumat, karena rumah perawatan luka diabetes ini memiliki pangsa pasar yang cukup luas dan kebetulan produk penilitian BPPT sesuai dengan kebutuhan Rumat,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Rumat, Dadang Suharto mengatakan, Rumat memiliki 68 cabang yang tersebar di pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Melalui kerjasama pemasaran produk tersebut, penderita diabetes di Indonesia bisa mendapatkan obat yang berkualitas.

“Kami ingin penderita diabetes ini bisa sembuh. Mudah-mudahan, dengan kerjasama ini nantinya masyarakat akan mendapat manfaat dari produk-produk hasil penelitian BPPT,” katanya.

Dadang menambahkan, keputusan BPPT menggandeng Rumat untuk memasarkan produk hasil penelitian merupakan pilihan yang cukup tepat. Mengingat Rumat memiliki banyak pasien yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Satu bulan pasien kita mencapai 30 ribu. Jadi dengan pangsa pasar yang sudah ada, maka saya kira akan mudah memasarkan produk hasil penilitian BPPT,” imbuhnya.

Soal penderita diabetes, Dadang mengungkap fakta, bahwa Indonesia menduduki peringkat kelima dunia untuk penderita diabetes. Bahkan pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan banyak dari penderita diabetes.
“Penanganan diabetes menjadi fokus Rumat apalagi yang sudah menderita luka kronis,” pungkasnya. (oke)

Related Articles

Back to top button