Metropolis

Puasa dan Kepemimpinan

Oleh: Abdul Harits, S.Pd "Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Bekasi"

Radarbekasi.id – Sebulan berpuasa di bulan Ramadan untuk menempa diri. Sebagaimana diketahui bahwa puasa adalah salah satu ibadah terbesar dan sebaik-baiknya amalan ketaatan.

Puasa Ramadan adalah puasa tertinggi. Wajib hukumnya bagi semua muslim. Allah menyatakan amalan puasa adalah untuk-Nya dan Dia langsung memberikan balasan berlipat-lipat, dikhususkan dengan pintu surga dan dipanggillah orang-orang yang berpuasa darinya untuk masuk, tidak akan memasuki surga lewat tidak akan memasuki surga lewat pintu tersebut, kecuali orang-orang yang berpuasa.
Banyak hikmah yang terkandung dalam bulan tersebut, ada nilai sosial, kemanusiaan, solidaritas, kebersamaan, persahabatan yang terus dicari untuk dinikmati dalam nilai-nilai ibadah Ramadan ini.

Ramadan sebagai bulan ibadah, harus dapat dimaknai dengan semangat pengamalan ibadah yang sempurna. Ramadan sebagai bulan petunjuk, harus diimplementasikan dengan semangat dalam mengajak kepada jalan yang benar.
Ramadhn sebagai bulan kemenangan, harus dimaknai dengan memenangkan kebaikan atas segala keburukan. Ramadan sebagai bulan ampunan, harus kita hiasi dengan meminta dan memberikan ampunan.

Puasa adalah sebuah medan pengusaan diri. Dimana semua umat Islam, baik dia rakyat maupun pejabat atau pemimpin berkewajiban yang sama menunaikan ibadah puasa. Tidak ada bedanya, kecuali bagi para pejabat atau pemimpin yang memimpin tentu berkewajiban memperkuat layanan kepada masyarakatnya sebagai aktualiasisasi amanah dan menjadikannya sebagai ibadah.

Maka sangat disadari bahwa melalui ibadah puasa, seorang pemimpin akan menyadari bahwa tindakan manusia sangat terkait dengan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT. Sehingga kesadaran bahwa tugas dan tanggungjawab seorang pemimpin ini tidak dimaknai dalam hubungan yang materialistis—bahkan ekonomis belaka—tetapi berada dalam ruang lingkup pengabdian diri kepada kekuasaan tunggal, Allah Swt. Oleh karena itu, ketaatan seorang pemimpin terhadap sang Khalik akan menggiringnya pada suatu tindakan dan sikap yang benar-benar diridai-Nya.
Ibadah puasa yang dilakukan dengan penuh kesungguhan oleh seorang hamba dan mengharapkan rida Allah Swt., maka akan menjadi modal penting bagi seorang pemimpin yang kuat, tangguh, dan andal dalam menempuh cobaan dan tantangan kepemimpinan. Sebagai manifestasi dari ibadah puasa, seorang pemimpin akan selalu optimis dengan kehidupan sehari-hari, terutama dalam menjalankan kewajibannya kepada Allah, Rasul, dan rakyatnya.

Oleh karena itu, ibadah puasa yang dilakukan dengan penuh kesadaran tersebut mampu menumbuhkan sikap tanggungjawab dalam diri seorang pemimpin. Tanggungjawab itu terkait dengan adanya balasan dan ganjaran dalam setiap apa yang akan dilakukannya. Ketika ia berbuat baik, sekecil apapun, maka Allah akan memberikan balasannya, dan jika ia berbuat kejahatan, meski sekecil apapun, Allah pun akan membalasnya. Puasa, dengan demikian, menjadi bulan pendidikan tanggungjawab bagi para pemimpin.

Dalam sebuah hadist: dari Syuraik, dari Abu Hushain, dari Al Wabili sahabat dekat Mu’adz bin Jabal, dari Mu’adz, ia berkata, Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ’’Barangsiapa yang ditakdirkan oleh Allah Azza Wa Jalla untuk menjadi pemimpin yang mengemban urusan orang banyak, lalu ia menghindar dari orang yang lemah dan yang membutuhkan, Allah pasti akan menutup diri darinya di hari kiamat.”

Ibnu Hajar mengatakan: Dalam hadits ada ancaman keras terhadap orang yang menjadi hakim bagi masyarakat, yaitu jika ia menghalangi diri untuk memenuhi hak-hak orang atau jika ia menyia-nyiakan rakyatnya tanpa udzur. Dalam hal ini para ulama bersepakat bahwa dianjurkan untuk melayani orang yang datang lebih dulu lebih, juga mendahulukan musafir daripada orang yang tidak sedang safar, terlebih lagi jika musafir tersebut khawatir ketinggalan rombongan.

Dalam hadits ini juga dijelaskan bahwa pemimpin yang menyingkirkan pintu atau penghalang lainnya (untuk melayani rakyat) ia akan mendapat kepercayaan rakyat, kehormatan, keamanan, kebijaksanaan, kemuliaan akhlak, serta bisa memahami keadaan rakyatnya. (*)

Related Articles

Back to top button