Metropolis

Mengunjungi Ponpes Miftahul Huda

Sempat Ditolak Warga, Santrinya Berasal dari Luar Bekasi

Radarbekasi.id – Pondok pesantren Miftahul Huda, merupakan salah satu lembaga pendidikan berlandaskan Islam di Kota Bekasi. Seperti apa?

Tahun 2007 sebuah pesantren mulai dibangun pada sebidang tanah berukuran 100 meter, tapatnya di lingkungan kelurahan Jati Rangga kecamatan Jati Sampurna Kota Bekasi. Usai pembangunan ditahun 2007, pesantren yang diberi nama Miftahul Huda tersebut mulai menerima santri untuk pertama kalinya.

Pada tahun 2008 tersebut santri pertama Pondok Pesantren yang berdiri kokoh ditengah budaya masyarakat yang masih kental tersebut sebanyak 15 orang, mereka berasal dari Tanggerang dan babakan banten Bekasi.

Pesantren ini tidak berdiri dan berkembang dengan sendirinya, melainkan dinahkodai oleh sosok Kyai yang tidak kenal menyerah dalam mendirikan pesantren dilingkungan kecamatan jati sampurna tersebut. Dia adalah Kyai Ruston Nawawi, alumni pesantren Miftahul Huda Tasik Malaya yang juga merupakan pusat dari pesantren Miftahul Jannah yang dipimpinnya saat ini.

Radar Bekasi mencoba untuk menggali historis pendidrian pesantren yang berdiri diatas tanah 100 meter tersebut, Niat ini disambut baik oleh Kyai pimpinan pesantren tersebut dan akhirnya beliau bercerita panjang periha pendirian pesantrennya tersebut.

Kyai Ruston Nawawi menjelaskan , tahun 2006 ia diberikan tanah wakaf oleh salah satu tokoh terkemuka dilingkungannya yang dikenalnya dengan Haji Jamil, tidak main-main tanah tesebut berukuran 2600 meter.”Kalau pak ustad siap silahkan kelola, “ ujar nya menirukan perkataan tokoh masyarakat yang memberikan tanah wakaf tersebut kepadanya.

Ketika peroses pembangunan dimulai, tiba-tiba tokoh masyarakat di lingkungan kelurahan Jati Rangga memprotes rencana pendirian pesantren tersebut dengan alasan tidak sesuai dengan paham yang dianut mayoritas masyarakat. Akibatnya tanah tersebut diambil alih kembali oleh ahli waris, setelah kejadian tersebut, Kyai Ruston Nawawi berkomitmen keras untuk tetap mendirikan pesantren.

Singkat cerita pasca kejadian tersebut, berbekal uang Rp45 Juta Kyai Ruston Nawawi membeli sebidang tanah berukuran serratus meter dan sisanya untuk membangun hingga 2008 siap untuk menerima santri.

Hingga saat ini, pondok pesantren Miftahul Jannah memiliki 65 santri yang berasal dari berbagai daerah seperti Kuningan, Cirebon, Karawang, Jakarta, Tanggerang , Bekasi dan Sukabumi. Seluruh santri di pondok pesantren yang dibangun dengan susah payah tersebut berlatar belakang Yatim dan Dhuafa sehingga mereka dibebaskan dari biaya selama berada di pondok.

Selain di pesantren, 65 santri tersebut juga mengenyam pendidikan formal mulai SD, MTs dan Perguruan tinggi. Untuk siswa yang menempuh perguruan tinggi, pesantren telah bekerja sama dengan Institute Pembina Rohani Islam (IPRIJA) Jakarta Timur sedangkan untuk santri tingkat SMA mereka masih harus ikut kejar paket.

Tidak banyak perbedaan dari pesantren lainnya, sehari-hari santri disini memang mengisi hari-hari nya dengan mengaji dan memperdalam ilmu agama. Namun ada satu perbedaan yakni program pasaran ramadhan yang selalu dilakukan setiap tahunnya.

“Pasaran Ramadhan merupakan Program dari pusat yaitu pondok pesantren miftahul huda Tasik Malaya yang kita ikuti sebagai cabang disini. Jadi ini berupa kajian khusus Ramadhan, yakni mengkaji kitab pendiri pesantren Miftahul Huda Tasik KH. Choer Afandy tentang akidah islamiah untuk mempertebal keimanan dan keyakinan ilmu tauhid, “ ujar Kyai Ruston Nawawi kepada Radar Bekasi.

Sepupu dari pimpinan pondok pesantren Miftahul Jannah, Amirullah menambahkan, pesantren ini merupakan pesantren yang tetap kokoh berdiri ditengah-tengah budaya masyarakat. Tantangan yang hebat harus dihadapi diawal pendirian pesantren tidak menyurutkan semangat untuk mendirikan pesantren yang di idam-idamkan. (cr38)

Lebihkan

Artikel terkait

Close