Pendidikan

Guru atau Baby Sitter?

Oleh: Ari Widiastuti. S.Pd.

Guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar, pengertian menurut KBBI. Namun secara umum,  guru tidak hanya mengajar saja, tetapi juga membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Artinya, bahwa tanggung jawab guru kepada peserta didik lebih berat daripada orang tua di rumah. Terutama untuk sekolah-sekolah yang melaksanakan sistem pendidikan full day school. Mengapa demikian? Full day school merupakan sistem belajar satu hari penuh di sekolah. Siswa belajar dari pagi hingga sore hari.

Intensitas pertemuan antara guru dengan anak lebih sering daripada dengan orang tua di rumah. Hal ini dapat dikatakan bahwa guru adalah orang tua kedua di sekolah setelah orang tua kandung.  Di sekolah gurulah yang berperan sebagai orang tua pengganti.

Namun, saat ini peranan guru di sekolah terutama sekolah-sekolah swasta yang melaksanakan sistem full day school sangat memprihatinkan. Dikatakan memprihatinkan bukan karena materi yang diterima, tetapi perlakuan yang kurang baik dari peserta didik itu sendiri. Teguran guru hanya dianggap angin lalu saja oleh mereka. Bahkan sampai ada peserta didik ketika dinasihati oleh guru, mereka menunjukkan wajah yang tidak senang (mencibir) dan ada juga yang membantah hingga membentak guru. Patutkah hal seperti itu dilakukan oleh peserta didik kepada guru? Sakit hatikah guru diperlakukan seperti itu? Jawabnya “TIDAK” karena guru menyadari hal ini merupakan bagian dari tanggung jawabnya. Di sini tanggung jawab guru sangat berat karena sebagian orang tua menganggap bahwa baik tidaknya karakter anak, pintar tidaknya anak, bisa tidaknya anak bergantung dari gurunya.

Sebenarnya hal itu tidak sepenuhnya benar karena seharusnya ada kerjasama yang baik antara orang tua dan guru dalam hal mendidik dan membimbing anak. Mungkin karena mereka merasa sudah membayar mahal biaya sekolah sehingga menyerahkan semua tanggung jawab anaknya kepada guru. Bahkan ada pula orang tua yang sering meminta tolong ke guru padahal hanya hal sepele saja. Ada yang minta anaknya diingatkan jika belum minum obat, ada yang minta anaknya diingatkan jika anaknya belum makan. Untuk ukuran anak TK-SD wajarlah, tetapi kalau sudah SMA/K seharusnya anak bisa mandiri apalagi untuk masalah seperti itu. Anak nilainya merah guru disalahkan. Anak di rumah sikapnya kurang baik guru juga yang disalahkan.  Anak ada PR atau ulangan, guru/wali kelas yang ditanya. Anak belum pulang sampai rumah, guru/wali kelas juga yang ditanya. Seharusnya sebagai orang tua harus paham betul dengan keadaan atau kondisi anak.

Orang tua yang memahami kondisi anaknya ketika diajak bekerja sama sangat baik responnya. Namun sebaliknya, orang tua yang tidak memahami kondisi anaknya ketika diajak bekerja sama malah kembali menyalahkan sekolah dalam hal ini adalah guru.

 

Dalam hal ini tanggung jawab guru ibarat seperti Baby Sitter jika anak yang mereka titipkan menangis karena suatu hal Baby Sitter-nyalah yang disalahkan padahal belum tentu Baby Sitter yang salah karena orang tua beranggapan bahwa anaknya sudah dititipkan sama Baby Sitter sehingga tanggung jawab anak sepenuhnya adalah tanggung jawab Baby Sitter. Sama seperti guru, sebagian orang tua meyerahkan sepenuhnya tanggung terhadap anaknya diserahkan kepada guru baik dari segi karakter maupun akademiknya. Masih banyak orang tua beranggapan bahwa anaknya bersikap baik jika di rumah dan tidak percaya jika anaknya bersikap tidak baik di sekolah. Kalau kita perhatikan tidak semua sikap anak itu sama ketika di rumah dan di luar rumah. Ada anak jika di rumah atau di hadapan orang tuanya terlihat baik dan penurut, tetapi ketika di sekolah justru berlawanan. Begitu juga sebaliknya, anak terlihat baik dan penurut di sekolah, tetapi di rumah berlawanan. Hal seperti ini seharus bisa dipahami dan diketahui oleh orang tua sehingga bisa lebih bijak menyikapi ketika berkomunikasi dengan sekolah.

Oleh karena itu, kerjasama yang baik antara orang tua dengan sekolah (guru) akan menghadirkan generasi yang lebih baik lagi. Artinya, orang tua bisa mengerti dan memahami kondisi anak ketika di rumah dan di luar rumah. Ketika di rumah otomatis tanggung jawab dipegang oleh orang tua. Luangkan waktu untuk berkumpul dengan anak jika kedua orang tua yang bekerja sehingga bisa mengenal betul karakter anaknya. Ketika anak di sekolah sudah pasti menjadi tanggung jawab sekolah.

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa” jangan sampai slogan tersebut disalahratikan. Banyak orang hebat di dunia ini semua itu karena jasa guru. Profesi guru adalah profesi yang paling tinggi kedudukannya. Guru banyak melahirkan orang-orang hebat yang soleh dan solehah. Hormati gurumu layaknya kamu menghormati orang tuamu. Terima kasih untuk para guru yang telah mendahului kita. Jasamu akan tetap ada sampai akhir dunia. (*)

Lebihkan

Artikel terkait

Close