Pendidikan

Ekosistem Berpendidikan di Sekolah

Oleh: Siti Mugi Rahayu, M.Pd.

Radarbekasi.id – Sekolah merupakan salah satu ruang yang seharusnya menjadi tempat di mana kebahagiaan ditemukan. Mengapa demikian? Pendidikan merupakan proses yang tidak mudah. Dia harus membawa siswa yang menjadi subjek pembelajar yang aktif, sehingga semua kegiatan yang dilakukan siswa memberikan jejak yang bermanfaat bagi pembangunan bangsa.

Ketika sekolah menjadi tempat yang tidak membahagiakan, maka proses yang dilakukan di dalamnya pun menjadi proses yang asal jadi. Menjadi proses yang dilakukan ABS (Asal Bapak Senang), alias suatu langkah formalitas agar siswa yang belajar memiliki status sudah melaksanakan jenjang pendidikan tertentu, tanpa ada manfaat dari pendidikan itu sendiri. Padahal, proses pendidikan formal itu sendiri memakan waktu yang tidak sebentar.

Sekolah dasar saja enam tahun, ditambah sekolah menengah enam tahun, belum lagi jika mereka melanjutkan ke universitas. Maka, minimal 12 hingga 15 tahun anak bangsa bergelut dengan buku dan semua teori bangku sekolah.

Salah satu hal yang kurang popular bagi kebahagiaan siswa adalah perolehan nilai yang tinggi di sekolah. Jika dikaitkan dengan angka, maka kebahagiaan belajar siswa otomatis pupus.  Di Indonesia, bukan merupakan rahasia lagi ketika nilai masih dianggap sebagai salah satu indikator keberhasilan.

Hukum positif Indonesia menampilkan peran nilai yang begitu tinggi dalam sebuah proses belajar. Sehingga, bukan menjadi hal aneh juga ketika masyarakat secara umum menagih perolehan angka baik san sangat baik di rapor anaknya masing-masing.  Termasuk penjaringan masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan jalur rapor. Ini menjadi pekerjaan rumah bagi guru agar sekolah bisa mengantarkan anak-anaknya masuk dengan nilai yang dihasilkan dari sistem  penilaian yang dibuatnya.

Anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak-anak dulu yang memiliki ruang bermain yang luas dan memiliki beban belajar yang notabene lebih sedikit. Anak-anak sekarang kurang meluapkan kebahagiaan masa kecilnya, sehingga mereka kurang eksis, namun memiliki tuntutan hasil belajar yang cukup tinggi. Mereka tidak memiliki ruang untuk membangun emosi secara seimbang.

Ruangan ini semakin tidak diperoleh di rumah, karena kebutuhan materi juga membuat kedua orang tua harus bekerja dan melepas perhatiannya pada sang buah hati. Kebutuhan pada sekolah menjadi menguat. Namun, apa daya jika sekolah dan masyarakat juga tak mampu menjadi tempat tumpuan anak-anak untuk belajar dan memperbaiki keseimbangan emosinya, apalagi meningkatkan kompetensi keterampilan dan sikapnya.

Keadaan ini yang mau tidak mau membuat sekolah seharusnya mengalah saja. Biarlah sekolah, sebagai organisasi yang lebih “berpendidikan”, membenahi dirinya terlebih dahulu, terutama membenahi iklim pendidikan yang harusnya termuat di dalamnya. Sekolah harus mengalah menjadi pihak yang memulai sistem  pendidikan yang baik. Mulai dari tenaga pendidik, lingkungan, bahkan perajutan peran orang tua yang mulai hilang. Ini semua harus benar-benar tercermin dari sekolah.

Jangan sampai, sebagai institusi pendidikan, sekolah sama sekali tidak memiliki ekosistem pendidikan yang baik. Misalnya, pembiaran terjadinya perundungan, guru yang merokok di lingkungan sekolah, pembiaran kegiatan mencontek, dan sebagainya. Kita, sebagai masyarakat, pendidik, dan orang tua tahu bahwa anak-anak sedang dalam keadaan krisis karakter, namun kita membiarkan kurangnya support system  yang mendukung sistem  pendidikan yang terbaik. Kita kurang menyadari darurat pendidikan yang terjadi.

Coba sadari, darurat pendidikan akan tertuduhkan lebih banyak pada sekolah sebagai institusi pendikan. Bukan pada perusahaan-perusahaan yang merekrut tenaga kerja, juga bukan pada keluarga yang gagal. Karena sekolah jelas-jelas institusi pendidikan, tempat di mana proses belajar berlangsung, walaupun kita tahu bahwa semua pihak menjadi bagian dari tanggung jawab besar tersebut.

Guru harus bekerja dalam kondisi terbaik, karena posisinya sebagai orang yang mendidik. Bagaimana pula hasil didikannya jika gurunya bukan orang-orang terbaik yang menjaga dirinya dan hasil pendidikannya. Untuk itu, sekolah harus membangun sistem  pendidikannya sendiri yang mampu memberikan ruang untuk pengembangan diri siswa dan membangun kreativitas mereka agar siap membangun bangsa. Jangan bebankan semua pelajaran hanya dalam bentuk teori yang membuat daya kritis mereka justru tidak ada.  Jangan juga hanya mengajar untuk tujuan memenuhi beban kurikulum. Bahkan, seratus tahun yang akan datang pun tidak akan memberikan perubahan pada karakter siswa, jika kita hanya bertujuan memberikan nilai tinggi pada rapor mereka.

Era berat seperti saat ini membutuhkan guru yang berfungsi sebagai motivator. Guru yang rela menjadi role model dan menginspirasi, serta bersemangat membangun karakter anak didiknya. Untuk itu, perlu ada transformasi mendasar pada sistem pendidikan di negeri kita. Sistem pendidikan yang menyediakan ruang kreativitas bagi anak didik, agar mereka bahagia menjalankan proses belajarnya. Namun, sistem  pendidikan juga perlu mengubah imej masyarakat terhadap angka-angka yang jarang diterjemahkan sebagai kemampuan anak didik yang sesungguhnya. Nilai di rapor janganlah dianggap sebagai kemampuan guru dalam mengajar. Ini salah satu bentuk tekanan yang merusak arti dari angka-angka yang tertera tersebut. Biarlah nilai adalah terjemahan dari kompetensi anak didik yang sesungguhnya. (*)

Related Articles

Back to top button