Pendidikan

Kenangan Lezatnya Menjadi Reader Para Tuna Netra

Oleh: Iim Kamilah

Radarbekasi.id – Semilir angin yang berhembus sore ini serta rindangnya pohon beringin yang rimbun dengan dedaunan melemparkanku pada kenangan manis di masa silam.  Sekitar 29 lalu (oww…sudah lama sekali ya) saat aku masih kuliah di kota Bandung tepatnya di Politeknik ITB. Suatu sore sepulang kuliah, aku bersama para anggota komunitas kemanusiaan mengikuti suatu kegiatan.  Nge-reader, begitulah kegiatan yang diadakan teteh-teteh senior kali ini.  Start dari masjid,  kami dengan penuh semangat menuju Wiyata Guna di jalan Pajajaran.

Pertama sekali di bawa ke sana, aku belum tahu Wiyata Guna itu tempat untuk apa, ada siapa saja di dalamnya, dan harus bagaimana selama di sana.  Aku hanya mencoba taat saja dan mematuhi intruksi para teteh.  Berkat bimbingan mereka, kami para Junior akhirnya mengerti apa yang harus kami lakukan.

Wiyata Guna ternyata sebuah area luas tempat bermukim para tunanetra.  Sekilas kulihat, cukup banyak kegiatannya. Sayup-sayup dari kejauhan terdengar suara mereka yang sedang berlatih musik.  Kami duduk-duduk sebentar di bawah rimbunan pohon beringin yang hijau sambil menunggu intruksi para teteh yang sedang mengurus teknis nge-reader kami nanti.

Akhirnya, aku diberi tugas bersama seorang anggota junior lainnya untuk menuju sebuah ruangan.  Di situ terkumpul banyak anak-anak tunanetra.  Ruangannya mirip asrama. Sebagian dari mereka sedang belajar mencuci. Kemudian seorang anak tuna netra didatangkan ke hadapan kami.  Anak tersebut kami bantu untuk membacakan sebuah buku.  Sungguh terharu hatiku saat membacakan.  Ucapan syukur memiliki mata yang normal dua-duanya terpatri di hati.  Ternyata cukup banyak mahlukMu yang tidak sempurna dan sekedar untuk membacapun harus meminjam mata orang lain.

Selesai dari ruangan itu, kami diminta untuk beralih tempat.  Kini kami menemui seorang mahasiswi yang besok akan ujian.  Salut sekali aku melihat mahasiswi tersebut.  Meskipun tak dapat melihat tapi semangat belajarnya tinggi.  Kami mulai membacakan bahan-bahan perkuliahannya yang akan diujikan besok hari. Untuk kesekian kalinya kuucapkan syukur pada yang Maha Kuasa.  Lega dan bahagia dapat menolong orang yang sangat membutuhkan pertolongan.  Selesai kegiatan ini, kami pun pulang langsung ke rumah masing-masing.

Kini aku tahu bagaimana cara menjadi reader (pembaca) untuk tuna netra.  Kegiatan ini sungguh sangat berkesan.  Aku merasa ketagihan ingin menjadi reader lagi.
Pernah kuceritakan pengalaman ini pada seorang teman kuliahku.  Sungguh saya terkejut karena dia pun punya program kegiatan yang sama di Wiyata Guna. Dia pun seorang reader. Pembicaraan kami pun menjadi nyambung. Kami merasa menjadi orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan.

Nikmatnya menjadi reader membuat aku ketagihan.  Hingga akhirnya, setelah tamat kuliah dan wisuda sudah dilangsungkan, aku punya nadzar.  Bila aku tamat kuliah, aku akan nge-reader selama 10 kali.  Jadi meskipun tidak bersama-sama dengan komunitas lagi, aku lanjutkan kegiatan ini secara individual. Terimakasih ya teteh-teteh atas ilmunya padaku.  Atas kesabaran teteh-teteh membimbing kami berkhidmat kepada sesama yang cacat fisik.

Begitulah, sekitar 7 kali aku nge-reader di Wiyata Guna. Yang aku bantu waktu itu adalah staff pimpinan Wiyata Guna.  Beliau minta dibacakan surat-surat resmi yang ditujukan padanya.  Beliau menyambut baik uluran tangan ini.  Selanjutnya 3 kali lagi, aku nge-reader para tetanggaku. Seorang guru yang tuna netra, pengajar di SLB.  Beliau sangat mandiri dan bersuamikan suami yang tuna netra pula.  Beberapa buku tipis yang Beliau sodorkan kubacakan hingga selesai.  Berikutnya, aku nge-reader ke pasangan suami istri tuna netra.  Pekerjaannya sebagai pemijat.  Kami menjadi akrab dan cukup bersahabat.  Alhamdulillah, reader dapat menjadi pengkhidmatan yang nikmat.

Kini, kota Bandung dan para sahabat komunitas kemanusiaan baik yang dulu Junior dan Senior serta seluruh kenangan indah selama bersama selalu terpatri indah dalam kalbu. (*)

Related Articles

Back to top button