Metropolis

Kepemimpinan Bangsa

Oleh: Aru Elgete

Radarbekasi.id – Ramadan sudah memasuki malam-malam terakhir. Menurut para khutoba (penceramah) saban salat tarawih, sepuluh malam terakhir merupakan babak final. Sebab, siapa pun yang menghidupkannya dengan berbagai peningkatan ibadah dan pendekatan kepada Allah, maka akan dijauhkan dari siksa api neraka.

Namanya juga final, maka hanya segelintir saja yang akan berkompetisi di dalamnya. Itulah sebabnya, di masjid dan musala, baik di perkampungan maupun di perkotaan, jamaah salat Tarawih kian maju. Lelucon para ustadz, rumah ibadah mengalami kemajuan. Artinya, yang tetap menghidupkan masjid dan musala dengan salat tarawih, hanya sedikit.

Namun, bukan itu yang akan dibahas dalam tulisan ini. Saya tertarik untuk membahas soal imam Tarawih yang kemudian dianalogikan dengan kepemimpinan bangsa. Karena memang, pada zaman Rasulullah dulu, masjid menjadi sentral peradaban. Maka, bukan tidak mungkin, untuk menjadi seorang pemimpin bangsa, kita mencontoh dari gaya kepemimpinan imam Tarawih.

Imam, berasal dari kata ummun yang berarti ibu. Sudah jamak kita ketahui bahwa seorang ibu memiliki sifat penyayang. Sikapnya santun yang tentu selalu merasa berkewajiban untuk menyenangkan dan menenangkan hati sang anak. Ibu tak akan mungkin membuat si buah hati kecewa dan terluka hatinya.

Seorang ibu tentu harus paham keadaan dan keinginan anak. Terlebih kalau memiliki anak lebih dari satu. Masing-masing anak memiliki perilaku yang berbeda, tinggal bagaimana ibu memahami segala hal yang dikehendaki anak, agar tidak terjadi keretakan dalam rumahnya.

Begitu juga halnya imam Tarawih. Jumlah rakaatnya berbeda-beda, ada yang berpendapat 36 rakaat, 20 rakaat, bahkan hanya delapan rakaat. Tentu semuanya memiliki argumentasi matang yang menjadi dasar kokoh untuk menjalankan Tarawih.

Terkait bacaan surat dan gerakan pun berbeda. Ada yang membaca surat dengan intonasi dan gerakan salat yang sangat cepat, tetapi ada pula yang lambat. Namun, ada juga yang biasa-biasa saja.

Sebagian ulama, menurut informasi yang saya dapat, berargumentasi bahwa kalau jumlah rakaatnya banyak maka lebih baik salat Tarawih dilakukan dengan gerakan yang agak cepat. Begitu pula sebaliknya, apabila tarawih dilaksanakan dengan jumlah rakaat yang sedikit, maka Tarawih dilakukan dengan gerakan yang tidak cepat.

Demikian juga halnya dengan bacaan imam. Kalau bacaan yang dipilih adalah surat-surat panjang, maka gerakan salat alangkah baiknya dipercepat. Namun jika surat-surat pendek yang dibaca, maka gerakan salat eloknya diperlambat.

Terlepas dari itu semua, menurut saya, seorang imam mestilah paham bagaimana kondisi para makmum yang mengikutinya. Kalau sebagian besar adalah orang yang sudah berusia lanjut, maka jangan cepat-cepat melakukan gerakan salat. Sementara apabila makmumnya sebagian besar adalah anak muda, jangan pula terlalu lambat gerakan salatnya.

Hal-hal itulah yang mestinya kita pelajari dan terapkan dalam mencari seseorang yang berjiwa kepemimpinan untuk bangsa di masa mendatang. Kita mesti cerdas dalam mencari pemimpin yang mengerti keadaan dan kemauan masyarakat Indonesia.

Sebab dewasa ini, untuk menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Selain harus mengeluarkan biaya yang mahal, seorang pemimpin juga seringkali hanya menjadi objek caci-maki rakyat. Sepertinya ada yang hal yang salah dan mesti diluruskan. Entah dari bagaimana kepemimpinan itu sendirk diterapkan, atau bisa jadi dari ketidakpuasan rakyat dalam dipimpin.

Dalam tradisi islam, misalnya, seorang pemimpin punya kriteria tertentu. Yakni empat sifat Nabi Muhammad. Berkata benar (shiddiq), menepati janji (amanah), cerdas (fathonah), dan transparan (tabligh). Keempatnya itulah dasar yang mesti ada dalam jiwa kepemimpinan setiap individu. Terlebih, kalau ingin menjadi seorang pemimpin bangsa.

Kalau empat sifat mulia itu terterap, maka sudah barang tentu makmum (masyarakat) akan sangat senang dengan keberadaan seorang pimpinannya (imam). Seperti itu pula sebaliknya. Imam akan paham bagaimana semestinya memperlakukan makmum dengan baik. Tidak semena-mena atau bahkan hanya menjadikan makmum sebagai objek yang pasif.

Karenanya, belajar dari sikap imam tarawih yang paham bagaimana kondisi makmumnya, kita akan menemukan sosok pemimpin yang benar-benar memiliki karakter seperti imam; yang memiliki sikap dan sifat keibuan. Penyayang, mengayomi, dan mengerti keinginan anak-anaknya.

Selamat menjalankan ibadah di sisa-sisa Ramadan ini. Semoga segala amal ibadah yang telah dikerjakan selama sebulan penuh dapat terejawantahkan dalam laku keseharian dalam 11 bulan pasca-Ramadan, hingga kita dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya. Wallahu A’lam…(*)

Close