Berita Utama

Memoles Kota Merebut Hati Warga

Radarbekasi.id – Dua paslon wali kota dan wakil wali kota tampil apik dalam debat kandidat terakhir tadi malam. Masing-masing tampil meyakinkan memaparkan program mewujudkan Kota Bekasi yang modern, ramah dan aksesibel. Sebuah tema debat pamungkas KPU Kota Bekasi di Pilwalkot Bekasi yang disiarkan televisi sepekan sebelum pencoblosan.

Debat ketiga ini melibatkan sejumlah panelis. Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Putu Elvina. Wakil Ketua Ombudsman RI Lely Pelitasari Soebekty. Dosen Planologi Universitas Trisakti Yayat Supriyatna. Dan Wakil Perkumpulan Penyandang Disabilitas.

Dalam sambutannya, Ketua KPU Kota Bekasi, Ucu Asmara Sandi menyampaikan debat paslon yang terakhir ini diharapkan bisa menjadi gambaran bagi para calon pemilih untuk mencoblos calon wali kota dan wakil wali kota pada 27 Juni mendatang.

’’Semoga warga Bekasi mendapat gambaran yang lebih memadai dari masing-masing calon agar saat memilih nanti sesuai dengan pilihannya. Dan jangan golput,’’ seru Ucu.

Debat diawali dari paslon nomor urut satu, Rahmat Effendi-Tri Adhianto Tjahyono memaparkan konsep kota modern yang ramah dan aksesibel.

Rahmat mengatakan, Kota Bekasi genap berusia 21 tahun. Penduduknya 2,7 juta. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) kedua terbaik di Jawa Barat. Laju pertumbuhan ekonomi 6,2 persen.

’’Kami ingin Bekasi Cerdas, Maju, Kreatif, dan Ihsan. Penjabarannya tentu akan sangat panjang. Tapi ada 45 program prioritas yang relevan dengan pembangunan yang ramah, dan aksesibel bagi masyarakat Kota Bekasi. Ini yang akan menjadi RPJMD Kota Bekasi ke depan,’’ paparnya.

Rahmat menambahkan, sebenarnya kota modern di Kota Bekasi sudah berlangsung lewat program Smart City. ’’Kita mempersiapkan Smart City untuk kerja. Big data sedang proses. Anggaran bukan masalah. Untuk itu perlu kapasitas SDM. Indeks kepuasan masyarakat sudah 80 persen,’’ bebernya.

Terkait perizinan, pelayanan dan maslah pengangguran, calon wakil wali kota Tri Adhianto menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan konsep Bekasi Tekno Park dalam rangka memberi satu proses pelayanan. ’’Kita juga buat market place. Dan pemerintah memberi jaminan dan kepastian hukum,’’ imbuhnya.

Soal pendidikan, Rahmat memastikan tingkat kepuasan masyarakat Bekasi sudah sangat tinggi. ’’10,8 persen kepuasan masyarakat dari wajib belajar sembilan tahun. Bahkan, kami berani mengambil kewenangan provinsi untuk pendidikan SMA/SMK sederajat,’’ ungkap Rahmat lagi.

Terkait sistem penerimaan siswa baru, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Online dengan sistem zonasi kuota lima persen, Rahmat menyatakan Kota Bekasi sudah menjadi percontohan bagi kota-kota lain yang akan menerapkan PPDB Online.

’’Bekasi dari perwalnya sudah menjadi rujukan dari kota-kota lain. Bukan hanya lima persen. Yang penting bagaimana mampu memberi pelayanan tanpa diskriminasi. Bahkan sudah dibentuk Satgas untuk pengaduan masalah terkait PPDB Online,’’ pungkasnya.

Terkait status sebagai kader parpol dan bagaimana mengelola pemerintahan tanpa ada konflik kepentingan partai, Rahmat memastikan dirinya sudah menghibahkan hidupnya untuk masyarakat Bekasi.

’’Betul kami ini kader parpol. Tapi begitu terpilih menjadi wali kota. Kami pastikan menjadi milik masyarakat,’’ imbuhnya.

Berikutnya giliran paslon nomor urut dua, Nur Supriyanto-Adhy Firdaus diberi kesempatan memaparkan konsepnya. Paslon usungan PKS dan Gerindra itu menyatakan membangun Kota Bekasi yang modern dan ramah harus dimulai dari sumber daya manusia (SDM).

’’Prinsipnya yang pertama membangun SDM-nya terlebih dahulu. Ini berarti membangun kekuatan yang mendasar pada keluarga. Selanjutnya, memberi pelayanan prima kepada masyarakat. Modern harus memberi kemudahan bagi publik baik di bidang pendidikan, perizinan, dan kesehatan. Serta membangun infrastruktur yang terintegrasi dan terpadu,’’ paparnya.

Membangun SDM lewat keluarga, imbuh Nur Supriyanto, selama ini tugas itu sudah dijalankan oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). Menurut Nur, P2TP2A juga punya andil terhadap penyelenggaraan Kota Ramah Anak. Tapi saying anggarannya sangat terbatas.

’’Tahun 2016 dan 2017 anggaran P2TP2A sangat terbatas. Kalau kami diberi amanah memimpin Kota Bekasi, kami akan lakukan intervensi anggaran dengan memberi Rp1 miliar untuk P2TP2A,’’ ungkap Nur.

Terkait akses untuk para penyandang disabilitas, Nur menyatakan selama ini Kota Bekasi tidak memiliki Perda Disabilitas. ’’Kita dorong untuk membuat Perda khusus bagi Disabilitas. Sehingga nanti terintegrasi pelayanan bagi mereka. Baik pendidikan, kesehatan, hingga tenaga kerja,’’ tandasnya.

Nur mengakui, tingkat partisipasi warga Bekasi terbilang rendah bahkan belum bangga. ’’Belum ada yang dibanggakan, kecuali macet, banjir, dan panas. Untuk membangun kultur bangga sebagai orang Bekasi, kami akan membangun destinasi wisata yang ikonik,’’ tandasnya.  (neo)

Related Articles

Back to top button