Metropolis

Mengenal Ulama KH. Muhammad Yusuf

Dikenal Kharismatik, Menciptakan Kitab Rurukunan

Mengenal Ulama KH. Muhammad Yusuf
Salah satu cucu KH. Muhammad Yusuf, salah satu ulama yang mensyiarkan agama Islam di ujung selatan Kota Bekasi

Radarbekasi.id – Kitab Rurukunan masih menjadi pegangan cucu dari ulama yang berdakwah menyebarkan agama islam di ujung selatan Kota Bekasi, KH. Muhammad Yusuf. Seperti apa?

Di  wilayah yang berbatasan dengan Cileungsi ini lah KH. Muhammad Yusuf atau yang akrab dipanggil mbah guru dan mbah juragan ini berdakwah menyebarkan agama Allah. Demikian dikatakan salah satu cucu kiai kharismatik yang lahir tahun 1880an Wildan Fathurrahman.

Pemuda yang aktif berorganisasi pada okp pelajar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) menuturkan, kakeknya merupakan  ulama tegas yang sangat disegani oleh murid-muridnya. Berdasarkan cerita yang ia dapatkan dari orangtuanya serta guru yang menjadi murid langsung, kakeknya merupakan guru yang segani oleh muridnya terutama ketika mereka tidak lancar dalam membacakan kitab rurukunan yang dikarang oleh kakeknya.

“Sosok guru yang sangat dihormati dan ditakuti oleh mereka yang tidak bisa lancar membacakannya dan takut di ta’jir pula dengan jepretan rotan yang siap mendarat ditangan mereka apabila tidak hafap, “ ujar Wildan menggambarkan keadaan kala itu.

Muhammad Yusuf rutin melakukan pengajian di sebuah masjid perbatasan Bekasi Bogor yang tidak jauh dari kediamannya yakni masjid Bantar Gebang, yang kini bernama Masjid Jami’ Al-Ikhlas.

Pengajian rutin dilaksanakan diwaktu ba’da maghrib sampai dnegan isya’, dihadiri oleh masyarakat dari berbagai kampung disekitarnya yakni kampung bulak dan kampong ciketing. Bahkan masyarakat pun datang untuk melaksanakan shalat jum’at di masjid pimpinan KH Muhammad Yusuf tersebut karena memang masjid itu adalah masjid pertama yang berdiri di daerah Bantar Gebang.

Guru yang dihormati tersebut tutup usia di umurnya yang ke 60 tahun, kiai yang menyebarkan agama Islam di daratan Kota Bekasi tepatnya di wilayah bantar gebang tersebut dibunuh secara keji oleh penjajah Belanda pada saat itu.

“Beliau tutup usia kurang lebih di usia 60an pada tahun 1940an, dibunuh dengan keji oleh para garong dan antek penjajah belanda dan dimakamkan di komplek pemakaman keluarga di belakang masjid Al-Ikhlas, “ ungkap Wildan mengingat kakeknya.

Menurut Wildan, harapan mbah guru dengan keberhasilan saudara, anak, cucu dan muridnya yang pulang menempuh pendidikan di pondok di berbagai daerah untuk berjuang mensyiarkan agama Islam. Perkembangannya terlihat dengan berdiri kokohnya sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al-Muhtadin yang didirikan oleh keluarga Besar KH Muhammad Yusuf serta lembaga-lembaga keagamaan yang didirikan oleh murid-muridnya kala itu.  (cr38)

Related Articles

Back to top button