Pendidikan

Belajar Menjadi Pembelajar

Oleh: Rachmani Dewi

Radarbekasi.id – Belajar. Kegiatan apakah yang sering kita asosiasikan dengan kata ini? Apakah kita mengasosiasikannya dengan kegiatan duduk manis di depan meja dengan berbagai buku yang harus dibaca, berbagai rangkuman yang harus ditulis, dan berbagai latihan soal yang harus diselesaikan? Ataukah kita dapat segera membayangkan hal lain seperti berada di tepi kolam renang, di dapur dengan berbagai peralatan memasak, atau bahkan berada  di suatu tempat yang benar-benar asing?  Yang jelas  gambaran pertama yang kita tampilkan merupakan representasi pikiran bawah sadar kita tentang makna belajar.

Menurut Gagne dalam bukunya The Conditions of Learning (1977) , belajar merupakan sejenis perubahan tingkah laku, yang keadaannya berbeda dari sebelum individu berada dalam situasi belajar dan sesudah melakukan tindakan serupa itu. Perubahan yang terjadi  disebabkan adanya suatu pengalaman atau latihan, bukan yang disebabkan karena reflex atau perilaku naluriah. Sedang menurut Moh. Surya (1981:32) belajar adalah proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru, sebagai hasil pengalamannya berinteraksi dengan lingkungannya. Dari 2 pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah proses perubahan pada diri seseorang.

Mari kita mengingat kembali saat anak-anak kita tengah belajar mengendarai sepeda roda dua. Kebanyakan saat pertama memiliki sepeda,mereka memilih sepeda yang memiliki dua roda kecil di belakang yang dapat membantu mereka menguasai keseimbangan sehingga tidak mudah terjatuh. Lama kelamaan satu ban kecil dilepas. Hingga kemudian kedua ban kecil tersebut tidak diperlukan lagi karena ia dapat mengendarai sepeda roda duanya dengan lincah. Ada pula anak yang membutuhkan tangan kita untuk sejenak menemaninya menguasai keseimbangan diri. Perlahan dengan bantuan tangan kita, ia mulai mempelajari hal yang harus dilakukannya agar tidak jatuh saat harus bersepeda. Sehingga akhirnya yang dilakukan oleh kita adalah melambai dan mengangkat jempol baginya sebagai tanda penghargaan atas keberhasilannya.

Keterampilan itu diantaranya koordinasi antara gerak tangan, kaki dengan mata, melatih keseimbangan tubuh, mengenali medan yang dilalui sehingga ia tahu kapan saat untuk melaju kencang, berbelok, menambah kekuatan mengayuh, dan keterampilan kelincahan bersepeda lainnya.

Kini, bayangkan apa jadinya bila anak kita yang tengah belajar itu terjatuh, kemudian kita  mencelanya, memarahinya karena telah membuat sepedanya tergores, dan ekspresi negatif lainnya. Alih-alih bertambah pintar, yang terjadi adalah ia akan meletakkan sepedanya di sudut rumah  dan berusaha melupakan keinginannya bisa bersepeda. Sebaliknya bila kita bersikap positif seperti menyemangatinya agar mencoba lagi, memberi arahan dengan baik, atau memeriksa kondisi sepeda yang dirasa menyebabkannya terjatuh, akan membuatnya tetap bersemangat untuk terus belajar menguasai sepedanya.

Proses seperti belajar bersepeda roda dua itulah yang menjadi tantangan bagi kita sebagai guru dan orang tua untuk dihadirkan agar dapat menjadikan belajar berbagai mata pelajaran menjadi tantangan yang menyenangkan. Bila kita dapat memahaminya maka kita akan lebih mudah pula memahami hal yang membuat anak kita tetap bersemangat dalam belajar.

Ada hal yang dapat kita lakukan agar menjadikan proses belajar sebagai proses yang menantang dan menyenangkan;

Berikan berbagai gambaran tentang pilihan karir yang sesuai dengan minatnya dan kompetensi diri yang dibutuhkannya.

Sebagai contoh, kita dapat memberi gambaran karir yang dapat diraihnya bila terlihat anak menyukai kereta api. Tidak hanya masinis atau teknisi saja, ada pilihan karir lainnya seperti  insinyur mesin, insinyur logam, bahkan ahli IT, dan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan dunia perkeretaapian. Setelah itu kita dapat jelaskan pada mereka bahwa untuk meraihnya, ada pelajaran tertentu yang harus dikuasai sebagai kompetensi diri.

Memberi penguatan positif terhadap keberhasilan yang berhasil diraihnya meskipun belum besar,. Tujuannya untuk menghargai apa yang sudah dilakukannya, berempati terhadap kesulitsannya dan tidak mencela kekurangan atau kesalahan yang dilakukannya

Memperhatikan kebutuhan fasilitas belajar yang diperlukan.

Kebutuhan yang disediakan bukan saja kebutuhan yang berkaitan dengan peralatan tulis dan buku-buku pelajaran sekolah saja. Namun bila kita ingin agar anak kita menyukai bahasa asing, maka kita dapat menyediakan berbagai buku bacaan yang berbahasa asing. Begitu juga media lainnya yang menunjang anak untuk meningkatkan kompetensi dirinya

Mendampinginya secara fisik pada saat ia belajar.

Kehadiran orang tua pada masa awal penanaman disiplin belajar amat penting.. Kelak pada saatnya ia akan memperlakukan  belajar sebagai proses yang penting yang harus dilakukan dengan disiplin.

Mengarahkan cara belajar yang sesuai dengan kepribadiannya dan gaya belajar yang sesuai dengannya.Dalam hal ini orang tua diharapkan telah mengenal jenis kecerdasan yang dimiliki anak dan mengetahui gaya belajar yang sesuai dengannya.

Dari 5 poin di atas diharapkan orang tua dapat membentuk mental anak sebagai pembelajar yang kuat. Pembelajar yang mencintai proses belajar dan tidak mudah putus asa bila belum berhasil meraih prestasi yang diinginkan. (*)

Lebihkan

Artikel terkait

Close