Jurnalisme Warga

Merebut Hati Generasi Milenial

Oleh: Muhtar S. Syihabuddin

Radarbekasi.id – PEMILU 2019 merupakan momentum penting bagi generasi milenial untuk menentukan arah lebih tegas dalam melanjutkan pembangunan nasional.

Generasi milenial ini bisa dibilang pemilih pemula, karena usia muda yang masih steril dari kepentingan politik nasional yang sudah relatif mapan. Ada karakter khas sesuai dinamika zamannya.

Generasi milenial berkembang dinamis ketika revolusi tekhnologi informasi telah berhasil memberikan harapan baru bagi anak muda. Mereka secepat kilat bisa berselancar di dunia maya untuk menelan informasi yang pada saat bersamaan melahirkan persepsi untuk kemudian menjadi preferensi pilihan politik mereka. Dinamika ala milenial sarat dengan daya kritis yang cepat, karena serbuan informasi yang bisa menjadikan mereka untuk menbandingkan satu isu politik dengan isu lainnya.

Dalam beberapa kasus, generasi meillenial lebih memilih apa yang mereka bisa pahami sekaligus mampu memberikan ruang dialog terbuka. Diskusi dunia maya yang cendrung mengarahkan mereka pada satu topik dan atau kepentingan tertentu tidak akan maraih simpati, bahkan cendrung mendapat umpan balik ekstrim. Mereka percaya setiap tema adalah milik bersama sebagai insan bangsa tanpa melebihkan satu kepentingan akan kepentingan lainnya.

Boleh jadi, mereka juga telah berhasil menafsirkan hak dasar politik mereka, sehingga sangat sulit untuk dipengaruhi kepentingan politiknya. Hanya yang bisa dengan jelas dan tegas memperhatikan kebutuhan terkini mereka yang bisa meraih simpati. Dibutuhkan cara tersendiri dalam meraih simpati generasi yang terbilang baru dan dinamis ini.

Karenanya, siapa yang cakap dan tepat menggunakan media informasi, akan meraih apa yang diinginkan. Bagi siapa yang alergi atas kebutuhan baru generasi milenial akan ketinggalan ditelan oleh cepatnya perubahan yang melanda dunia infomasi kita.

Jendela informasi itu bernama Internet, yang merupakan teknologi informasi dan komunikasi yang paling digemari sekaligus fenomenal. Internet sebagai media sosial dan komunikasi telah membantu penggunanya untuk terhubung antara satu dengan yang lainnya melalui situs jejaring sosial tanpa terbatas ruang dan waktu. Internet merembas ke segala penjuru kehidupan kita.

Perkembangan internet mengubah masyarakat dunia nyata menjadi masyarakat dunia maya. Dunia maya itulah yang kemudian membidani terlahirnya  masyarakat digital atau new media yang notabene merupakan karakter khas generasi milenial.

Media baru atau media jejaring sosial begitu kuat mempengaruhi politik, yang berimbas pada dunia politik secara keseluruhan; dari mulai partai politik, pemilihan umum, positioning partai politik dan para politisi, marketing politik, kampanye politik, komunikasi politik, hingga pencitraan. Semuanya dapat disajikan melalui dunia digital.

Dunia digital merupakan dunia maya, namun pada zaman sekarang nyaris didefinisikan sebagai dunia nyata; bahkan seakan-akan manusia sekarang tidak lagi mampu membedakan yang maya dan yang nyata atau bahkan yang nyata dianggap maya dan yang maya dianggap nyata.

Dalam sebuah resensi buku berjudul Communicator-in-Chief: How Barack Obama Used New Media Technology to Win the White House yang ditulis oleh Jarvis pada 2010 silam menyatakan bahwa situs untuk kampanye Obama mengorganisasi lebih dari seratus lima puluh ribu kegiatan, menciptakan lebih dari tiga puluh lima ribu kelompok, memiliki lebih dari 1,5 juta akun dan mendapatkan lebih dari USD 600 juta dari 3 juta donor.

Kampanye tersebut juga menggunakan YouTube untuk iklan gratis, mengirim alamat iklan tersebut kepada para pendukung dan meminta kepada pendukung untuk meneruskan iklan tersebut kepada teman dan keluarga mereka. Akun Facebook Obama mempunyai 3.176.886 pendukung dan lewat situs MySpace Obama mendapat 987.923 orang teman.

Kampanye juga menggunakan text messaging untuk berhubungan dengan pemilih muda dan mengirim email sebagai counter attacks. Kampanye Obama yang high-tech, menggunakan Internet utuk mencek fakta informasi, counter attacks, memperkuat koneksi kepada pendukung dan selalu siap dalam konsep 24/7 yaitu dapat dihubungi selama 24 jam setiap hari.

Kampanye politik kini sudah tidak lagi membicarakan bagaimana kita harus membagi-bagikan kenikmatan sesaat kepada para pemilih yang belum tentu nantinya pemilih tersebut akan memilih yang bersangkutan, akan tetapi nilai kampanye politik kini menjadi berkembang sebagai the education voter dengan adanya bantuan internet sebagai media baru. Pada akhirnya internet dan politik memiliki keterkaitan dan memberikan hubungan timbal balik tersendiri.

Aktifitas di dunia maya tersebut dapat sedikit menguntungkan para politisi untuk melakukan kampanye secara cuma-cuma dan lebih mudah, hanya saja harus memiliki manajemen komunikasi yang baik. Adanya aktifitas di dunia maya tersebut menjadi suatu alasan tersendiri untuk kalangan politisi menggunakan internet sebagai media kampanye.

Terciptanya suatu masyarakat jaringan yang tidak lain adalah suatu struktur sosial masyarakat pada awal abad 21 yang terbentuk oleh komunikasi berbagai jaringan digital. Jaringan merupakan suatu struktur sosial yang dibentuk dari simpul-simpul (yang umumnya adalah individu atau organisasi) yang diikat dengan satu atau lebih tipe relasi spesifik seperti nilai, visi, ide, teman, keturunan, dan lainnya.

Dampaknya; masyarakat digital, dalam praktik sosial, melahirkan budaya dan trand yang seragam sebagai manifestasi dari pilihan bebasan (praktik sosial) namun pilihan bebas itu, sejatinya bukan pilihan dirinya sendiri, melainkan pilihan atas kehendak para penguasa digital, dan digital dijadikan instrumen atau alat untuk mempengaruhi, atau bahkan mengontrol praktik sosial.

Masyarakat digital tidak boleh menutup mata; sebab di era digital habitus, modal, dan ranah telah dikuasai oleh para penguasa digital. Begitu juga dalam bidang politik; dimana politik secara strukturalisme Bourdieu telah dikuasai, dikontrol, dan diarahkan oleh digital.

Partai politik  mempunyai tantangan unik dan inspiratif, terkait dengan perkembangan peran digital dalam sosialisasi yang berusaha meraih simpati generasi milenial. Harus berani mengubah cara berkomunikasi sekaligus memilih konten cepat saji tanpa menanggalkan substansi yang ditawarkan ke publik.

Inilah era di mana partai politik tidak lagi tergantung pada pengerahan massa dan tatap muka. Produk politik dipasarkan melalui pesan digital yang disebar ke jutaan titik penerima pesan secara cepat dalam waktu bersamaan. Lalu akan menjadi bola salju aspirasi yang nantinya diproduksi dalam gerak perjuangan partai.

Banyak bukti di mana “demokrasi digital” ini telah berbuah. Dari Barrack Obama hingga fenomena keterpilihan Jokowi yang cukup singkat; seorang pengusaha mebel, menjadi Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta hingga menjadi Presiden. Semua itu berkat sebuah peran nyata dari demokrasi digital di tanah air.

Kita harus melihat secara jeli peran perangkat lunak bernama medsos dalam menaikkan kedudukan partai politi di mata generasi milenial. Sekarang sudah lumrah menengok dan mendapatkan informasi tentang yang telah dan akan dilakukan partai politik melalui media sosial.

Partai politik, tinggal memperkecil risiko salah pilih media dan konten yang disebar di dunia maya. Apakah akan mendapatkan popularitas tapi ternyata tidak dipercaya untuk dicoblos dalam pemilu? Atau menjadi populer sekaligus dipercaya menjadi kanal aspirasi rakyat? Atau malah menjadi bumerang tidak terbendung, karena dalam jagat medsos, sering terjadi serangan balik yang tidak bisa diterka hanya karena salah pilih model dan konten kampanye. (*) Peneliti Senior RMPolitika.

Lebihkan

Artikel terkait

Close