Berita Utama

Sistem Zonasi Dinilai Tidak Berkeadilan

Tidak Ada SMPN di Durenjaya

Radarbekasi.id – Pelaksaan Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) daring tahap dua di Kota Bekasi hanya untuk jalur zonasi. Walaupun masih ada sekitar 1.900 kursi yang kosong, namun tidak semua peserta didik dapat mengisi kekosongan tersebut.

Warga Perumahan Durenjaya, Roeslan (54) terpaksa harus memasukan anaknya ke sekolah swasta. Walaupun berat karena ia dan istrinya sudah tidak bekerja, namun hal itu dilakukan agar anaknya bisa bersekolah.

Menurut dia, sistem zonasi pada PPDB Daring 2018 tingkat SMP di Kota Bekasi tidak adil bagi wilayah yang tidak punya sekolah negeri. Diwilayahnya dia contohnya, ada 14 sekolah dasar negeri tapi tidak ada SMP tingkat negeri sama sekali. Padahal, rata-rata siswa kelas 6 setiap SD mencapai 150 orang.

Didekat rumahnya ada satu sekolah SMP Negeri yaitu SMPN 32. Jaraknya hanya 600 sampai 700 meter. Namun masuk ke wilayah kelurahan lain. Hal itu membuat nilai tambahan hanya sebesar 150 poin karena masuk zonasi kecamatan. Untuk warga yang satu kelurahan akan mendapat nilai tambahan 180 poin. Sementara yang satu RW akan mendapatkan tambahan sebanyak 240 poin.

“Jadi walau NHUN (Nilai Hasil Ujian Nasional) 240,82 ( rata-rata 8 ) ya tetap kalah dengan yang nilaai 22 yang sewilayah dengan sekolah tersebut, jadi nggak adil . Anak saya rangking 29 dari 139 siswa kelas 6 satu sekolah. Gimana nasib siswa-siswa lain yang di bawah anak saya nilainya. Ingat ada 14 SD dikali 150 orang rata-rata per sekolah, itukan namanya zolim,” katanya, Rabu (11/7).

Harusnya, kata dia, pihak terkait mendata wilayah kelurahan yang ada dan tidak punya sekolah SMP Negeri sebelum menerapkan aturan tersebut. Lalu, bagi yang tidak ada SMP Negeri diberlakukan peraturan khusus yang memungkinkan anak-anak bersaing sehat dengan yang ada SMP.

“Apakah kami yang salah kalau kami tinggal di kelurahan yang nggak ada Sekolah SMP ?. Mas bisa bayangkan, jika ternyata sampai batas waktu tutup besok, ternyata skor anak saya berada di atas skor terendah, gimana perasaan ini ?. Mau marah sama siapa?,” katanya.

Dirinya juga menyarankan supaya peserta didik dapat memilih lebih dari satu sekolah ketika mendaftar. Untuk saat ini, kata dia, jika sudah daftar di satu sekolah dan tereleminasi, maka tidak bisa daftar di sekolah negeri lain karna sistem daring. Ia juga sudah mencoba mendaftar di SMPN 1 Kota Bekasi.

“Padahal jika dilihat saat ini, skornya masih di bawah anak saya , mas bisa bayangkan perasaan saya dan anak saya,” tuturnya Pukul 14.15.

Anak Roeslan saat ini tengah merajuk karena tidak  masuk di SMP Negeri. Mau tidak mau, ia harus mendaftarkan anaknya ke sekolah swasta. “Daripada nggak sekolah. Kami orang tua cuman nggak terima aja dengan aturan ini,” ucapnya.

Dirinya harus mengeluarkan biaya untuk menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Dia meminta bantuan anaknya yang paling besar untuk membayar biaya sekolah anaknya yang baru mau masuk SMP itu.

“Ya anak saya harus tetap sekolah , mau nggak mau ya ke swasta, walaupun nantinya akan tetasa berat. Harapan saya ya ada dengar pendapat dengan anggota dewan maupun Dinas Pendidikan Kota Bekasi. Saya hanya rakyat kecil biasa. Saya sudah nggak kerja lagi, istri pun sama,” tuturnya.

Ia menambahkan, sistem PPDB daring sebenarnya bagus asalkan dilakukan penelitian di setiap kelurahan untuk memastikan ada atau tidaknya SMPN negeri. “Harus PPDB yang Berkeadilan,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bekasi, Ali Fauzie mengklaim sistem zonasi sudah mengakomodir seluruh warga. “Sistem zonasi mengakomodir warga sekitar, warga yang tinggal se-RW dengan sekolah, warga yang tinggal satu kelurahan dengan sekolah dan warga yang tinggal satu kecamatan dengan sekolah, semua sudah terakomodir. Memang saat ini penambahan skor tentu saja berbeda antara yg satu dengan yang lain,” ujarnya.

Dirinya tidak menanggapi ketika ditanya solusi dari Disdik Kota Bekasi jika di kelurahan warga tersebut tidak ada sekolah negeri dan menyebabkan nilai tambahan anak menjadi kurang karena hanya bisa ikut zonasi kecamatan. (neo)

Lebihkan

Artikel terkait

Close