Berita Utama

Pembangunan Halte Tuai kritik

Radarbekasi.id – Pembangunan halte yang dilakukan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Bekasi menuai kritik. Pasalnya, halte itu berdiri di atas trotoar dan dinilai mengganggu pejalan kaki.

Anggota Forum Pejalan Kaki (FPJ), Bally Fadillah mengatakan, pihaknya menyayangkan perencanaan pembangunan sepuluh halte di Kabupaten Bekasi dengan menghabiskan anggaran sekitar Rp900 juta pada tahun 2017. Pasalnya, ada halte yang berdiri di atas trotoar.

Kondisi halte tersebut menurut dia, seperti tidak ada pemeliharaan karena tidak terawat. Hal itu dapat terlihat dengan banyaknya coretan dan kaca pecah.

Ia menjelaskan bahwa pembangunan halte melanggar Undang-Undang nomor 34 tahun 2006 tentang Jalan Pasal 34 ayat 4 dan UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Pasal 45 yang menyebutkan bahwa trotoar merupakan sarana bagi pejalan kaki.

“Apalagi aturan Permenpu nomor 03/PRT/M/2014/2011 tentang pedoman perencanaan, penyediaan, dan pemanfaatan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki di kawasan perkotaan pasal 10 jelas. Dan Mereka tabrak begitu saja,” kata mahasiswa yang kini juga menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP Panca Sakti Cikarang ini.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Bekasi, Suhup, mengakui apabila pihaknya membangun halte bus di atas terotoar. Namun demikian dirinya meyakini tidak melanggar peraturan yang dimaksud, karena pembangunan halte merupakan kepentingan masyarakat.

“Kita memang sengaja bangun halte di atas trrotoar, karena minimnya lahan yang berada di tempat tersebut namun demikian lokasi tersebut sangat membutuhkan hal sebagai ruang tunggu masyarakat untuk naik kendaraan umum atau kepentingan publik,”tuturnya.

Ia menjelaskan, pihaknya telah membuat Detail Engenering Detail (DED) sebelum melakukan pembangunan. Sehingga penentuan titik halte yang berada di atas trotoar sudah diperhitungkan. “Jadi kita buat haltenya itu terbuka, sehingga tidak meganggu masyarakat atau pejalan kaki,”ujarnya.

Kata dia, desain halte yang dibuat konsultan DED merupakan halte terbuka tidak seperti hal bus way yang tertutup. “Karena dari hasil perhitungan. Kosultan DED sudah memperhitungkan keterbatasan lahan  dan pola pergerakan jalan kaki,”ujar Suhup. (and)

Related Articles

Back to top button