Berita Utama

FPLN Tak Bisa Berbuat Banyak

Radarbekasi.id – Forum Peternak Layer Nasional (FPLN) menyatakan tidak bisa berbuat banyak dengan kondisi tingginya harga telur ayam dipasaran yang dipicu karena kondisi pelemahan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Presiden FPLN, Musbar Mesdi, mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang sudah menyentuh angka diatas Rp14 ribu mempengaruhi harga telur dipasaran. Ia menyebut, 55 persen pakan ternak yang berkomponen jagung dan katul masih diproduksi di dalam negeri.

Namun, sekitar 30 sampai 35 persen bahan baku ternak diimpor dari Amerika Selatan dan Australia. Kondisi kurs rupiah saat ini memicu tingginya biaya impor dipasaran dunia.

“Tingginya biaya impor sudah terjadi sejak Februari-Maret 2018. Celakanya pada April 2018, rupiah terhadap dolar AS terus melemah. Ini membuat harga telur sekarang semakin tinggi,” kata Musbar di Kemang Pratama Bekasi, kemarin.

Dengan kondisi pelemahan rupiah saat ini, peternak dalam negeri tidak bisa berbuat banyak. Harga telur dipasaran yang tinggi, kata dia, bisa saja dijual lebih rendah melalui subsidi Pemerintah, tetapi hal itu dinilai akan menambah beban negara. “Bisa saja disubsidi, tapi akan memperberat keuangan negara,” tukasnya.

Menurutnya, meskipun harga telur ayam cukup tinggi, namun tetap diterima masyarakat. Ia mengungkap, harusnya masyarakat juga berbahagia karena telur ayam yang dibelinya itu tidak mengandung residu antibiotik.

“Di satu sisi akan memberikan nilai tambah, terutama generasi start up agar nilai produkfitasnya bisa meninggkat dan tidak gampang sakit,” tukasnya.

Berdasarkan pantauan Radar Bekasi, harga telur ayam di Pasar Baru Kota Bekasi mencapai Rp29 ribu per kilo gram, dari semula Rp21 ribu per kilo gram.

Salah satu pedagang di Pasar Baru, Asep (27) menjelaskan kenaikan harga dimulai sejak selesai Lebaran. Harga terus merangkak sekitar Rp500 sampai Rp1.000 per hari.

Asep mengungkap jumlah telur ayam yang dapat dibeli dari pemasok di Blitar, Jawa Timur, juga dibatasi. Biasanya Asep dapat membeli 2,8 ton, namun saat ini dijatah 2 ton.

“Tapi tetap kita ambil karena yang beli tetap normal,” ujar Asep. (oke)

Related Articles

Back to top button