Pendidikan

Jangan Padamkan Literasi Ramadan

Oleh: Siti Ropiah

Radarbekasi.id – Pesona ramadan menciptakan literasi tiada henti, salah satunya literasi secara tekstual. Literasi secara tekstual di antaranya banyak orang yang membaca alquran bahkan mengkhatamkan alquran. Dan tidak sedikit pula yang membacanya disertai dengan terjamah. Kondisi seperti ini yang biasanya tidak terjadi pada bulan bulan lain selain Ramadan. Berbagai trik dilakukan untuk dapat membaca alqur’an dan mengkhatamkannya. Di antaranya dengan membaca minimal satu juz perhari, seperti dengan model odoj ( one day one juz), dengan harapan dapat mengkhatamkan alqur’an pada bulan Ramadan walau hanya satu kali. Bahkan ada pula yang memiliki trik yang lebih jitu lagi dengan cara setiap selesai shalat wajib menyempatkan untuk membaca al qur’an minimal satu juz. Berarti satu hari lima juz, dengan harapan khatam al qur’an minimal empat kali khatam (setelah dipersiapkan beberapa hari tidak membacanya karena ada udzur syar’i yang diterima oleh perempuan).

Ternyata al qu’an tidak hanya dibaca, namun lebih lanjut bentuk literasi berikutnya adalah mengkaji alqur’an melalui penafsiran dan pemahaman terhadap isi dari alqur’an. Hal ini dilakukan di berbagai tempat baik melalui media elektronik maupun majlis ta’lim,  sekolah sekolah atau tempat lainnya yang dimungkinkan dapat terlaksana pengkajian tersebut, semisal rumah makan sambil ngababurit istilahnya. Pada bulan Ramadan ini, kesempatan yang selalu dimanfaatkan berbagai media untuk menyampaikan materi materi yang terdapat dalam al qur’an bahkan bukan saja dalam bentuk kajian, namun dalam bentuk lainnya, seperti lomba tahfidz al qur’an, lomba dakwah, cerita drama atau sejarah bahkan kuliner, yang secara keseluruhan membawa kepada kebaikan sebagaiman yang diamanatkan dalam al qur’an.

GLS atau gerakan literasi sekolah yang diamanahkan oleh pemerintahan, dapat terlihat lebih jelas di sekolah pada saat Ramadan tiba. Karena setiap sekolah baik di bawah Kementrian Pendidikan Nasional maupun di bawah Kementrian Agama, melaksanakan kegiatan keagamaan yang dikenal dengan istilah “Pesantren Ramadan”. Pesantren Ramadan ini diisi dengan membaca al qur’an bersama sama dan mendengarkan kajian kajian al qur’an yang disampaikan oleh beberapa guru bahkan para siswa berdiskusi seputar keislaman.

Pesona Ramadan sangat dahsyat dan mengagumkan tidak hanya literasi dalam betuk membaca atau mengkaji, namun dapat menciptakan karya berupa buku. Hal ini terjadi pada group KGPBR (Komunitas Guru penulis Bekasi Raya) yang berlomba lomba menciptakan buku di bulan penuh berkah ini. Anggota KGPBR ingin melakukan sesuai pesan Allah dalam qs al alaq aya1 yang diakhiri dengan kata khalaq dengan arti mencipta. Maksudnya perintah Allah tidak terbatas hanya sampai membaca, namun wajib pula mengeksplore bahkan mencipta. Berdasarkan dalil di atas, maka para guru di group KGPBR memanfaatkan waktu Ramadan untuk mengaplilasikan sebagaimana perintah Allah dalam al qur’an.

Pesona ramadanpun begitu memukau , karena dapat menciptakan literasi dalam arti kontekstual. Terlihat dari gerakan berbagi yang dilakukan beberapa orang atau komunitas dengan memberikan makan untuk berbuka bahkan untuk sahur kepada orang orang yang membutuhkan baik  di masjid masjid maupun di jalan. Sasaran diberikan kepada  tukang becak,  pemulung , pengemis atau anak jalanan.  Sekelumit cerita tentang pesona Ramadan. Ramadan tanpa disadari gelombang positif bertemu ketika waktu berbuka bagi orang yang berada di perjalanan, khususnya di kereta api.

(pengalaman temanku) tanpa mengenal satu sama lain, bahkan bukan dengan orang yang sama.

Namun ketika adzan magrib berkumandang, serentak orang orang yang berada di dalam kereta membuka apa yang dimiliknya. Kemudian tanpa disadari mereka masing masing berbagi dengan orang yang di sekitarnya, adakalanya dengan bertukar makanan yang dibawanya walau tak seberapa. Tanpa rasa malu atau sungkan, mereka lakukan hal tersebut . Hal ini terjadi hanya di bulan ramadan. Menurut temanku itu, ia rasakan kenikmatan luar biasa pada saat berbuka dengan situasi dan kondisi seperti itu. Maka amat layak bila Ramadan dijuluki sebagai bulan penuh kebaikan, karena orang berlomba lomba melakukan berbagai kebaiakan, yang dikenal dengan istilah fastabiqul khairat.

Gerakan berbagi pada bulan Ramadan, merupakan efek dari telah tertanam dalam jiwa tentang amalan wajib yang harus dilakukan oleh umat Islam di bulan Ramadan, yaitu zakat. Tujuan zakat fitrah adalah untuk memberikan makan pada orang orang miskin, agar pada saat hari

kemenanganan umat Islam, tidak ada satupun umat Islam yang tidak merasakan kebahagiaan hari raya. Selain zakat fitrah, juga terdapat zakat mal. Zakat mal merupakan kewajiban hanya bagi yang memiliki kelebihan dari apa yang dimilikinya dengan memenuhi ketentuan nishab dan haul (masuk setahun dan ukurannya, walau adakalanya zakat mal tidak menggunakan ketentuan ini, seperti zakat rikaz atau barang temuan). (*)

Lebihkan

Artikel terkait

Close