BEKACITIZEN

Operasi Khusus Politik Gangster Proxy AS di Timur Tengah

Oleh: Dynno Chressbon

Pemerintah Korea Utara menyatakan kekesalan atas skenario “Politik Gangster” Presiden AS Donald Trump. Kemlu Korut menyebut Menlu AS, Pompeo membuat tuntutan seperti gangster dalam pembicaraan mengenai program nuklirnya.

Menlu AS, Mike Pompoe langsung merespons Kemlu Korut jika tuntutannya seperti gangster, maka dunia adalah sebuah kelompok gangster yang sangat besar. Dia menegaskan, hanya mengulangi pernyataan yang pernah disampaikan sebelumnya. Juga karena sudah disepakati di Dewan Keamanan (DK) PBB.

Pompeo menegaskan,  sanksi internasional yang dipimpin AS terhadap Korut akan terus diberlakukan hingga proses denuklirisasi rampung. Mantan Direktur CIA yang kini menjadi Menlu AS itu menilai, sanksi menjadi penjamin Korut akan memenuhi semua janji mereka

AGENDA RAHASIA OPERASI “POLI TIK GANGSTER” PROXY AS-ISRAEL DI KORUT DAN IRAN.                                                   

Sikap protes Korut diabaikan dan skenario ” Politik Gangster” yang dicurigai Korut, terus dijalankan  AS dengan meminta DK-PBB memerintahkan penghentian segera semua pengiriman produk minyak olahan ke Korut. Permintaan AS diajukan setelah ditemukan pelanggaran pembatasan impor oleh Korut.

Sebuah laporan rahasia AS dikirim ke komite sanksi PBB yang memperkirakan 759.793 barel produk minyak telah dikirim ke Korut antara 1 Januari dan 30 Mei. Jumlah melebihi kuota tahunan yang telah ditetapkan pada angka 500 ribu barel. Sejumlah kantor berita internasional melaporkan, pasokan ilegal itu disediakan melalui pengiriman kapal di laut oleh kapal tanker Korut.

Yang menarik, media di AS ikut  membantah tudingan Korut mengenai adanya operasi ” Politik Gangster. Media di sana malah menuding Korut sebagai ” Negara Pemeras”. Koran Wall Street Journal edisi Minggu (8/7), misalnya. Koran ini melaporkan isu dokumen versi Israel bahwa Korut memeras Israel membayar USD 1 miliar agar berhenti menjual teknologi rudal ke Iran dan negara musuh lainya yang menjadi ancaman bagi negara Israel. Upaya itu dilakukan pada 1999.

“Upaya pemerasan yang dituduhkan itu dan berujung kegagalan terjadi selama pertemuan antara Dubes Israel untuk Swedia Gideon Ben Ami dan Duta Besar Korut Son Mu-sin untuk Swedia, saat keduanya bertemu di sebuah kafe di Stockholm. Berita ini dikutip media Israel Haaretz dari Wall Street Journal, Selasa (10/7).

MODUS OPERASI INTELIJEN HIBRID    “POLITIK GANGSTER ” PROXY AS-ISRAEL-SAUDI DI IRAN DAN TIMUR TENGAH.

Bersamaan dengan tekanan proxy AS, skala operasi aktual kolaborasi intelijen hibrid asimetris untuk meli ndungi Israel dan Saudi, semakin ditingkatkan. Militer Israel menambahkan divisi baru di kesatuan khusus bernama “Proyek Khusus” atas instruksi Kepala Staf Umum Militer Israel, Gadi Eizenkot. Proyek rahasia ini bertujuan mendukung sikap Saudi agar ikut berperang melawan Iran dan poros resistensinya di Irak, Suriah, Libanon, Yaman, kelompok Ikhwanul Muslimin, HAMAS, Hizbullah, Ansarullah,  dan pendukung kemerdekaan Palestina di Turki, Kaukasia, Asia Selatan,  dan Asia Tenggara.

Koran-koran Israel, Jerusalem Post dan Maariv, misalnya, memberitakan bahwa Eizenkot mengangkat Jenderal Nitzan Alon (mantan Kepala Kantor Operasi Tentara Israel) sebagai penanggung jawab pertama proyek ini.  Pada masa  Ariel Sharon dan Ehud Olmert menjabat sebagai PM Israel,  Meir Dagan (Direktur Mossad  saat itu) adalah penanggung jawab proyek intelijen rahasia ini. Jerusalem Post mengklaim, Alon juga akan menjadi koordinator antara Israel dan AS terkait dengan Teheran dan upaya menggulingkan pemerintahan Iran.

Salah satu proyek “Politik Gangster” yang berhasil dijalankan divisi ini  adalah lahirnya organisasi oposisi intelijen bernama NCRI (Dewan Perlawanan Nasional Iran) yang berbasis di Paris. Kelompok ini berusaha mengudeta pemerintahahan ulama Syiah di Iran melalui organisasi Mujahidin Rakyat Iran (Mujahidin-e-Khalq) yang berpusat di Albania dan Kurdistan-Irak. Gerakan ini pernah tercatat sebagai organisasi teroris oleh AS dan Uni Eropa, namun status itu dicabut berkat lobi Israel.

“Iran dengan tegas mengutuk semua kekerasan dan teror di mana saja, dan siap bekerja dengan semua pihak untuk mengungkap apa yang merupakan taktik jahat bendera palsu,” ujar Menlu Iran Mohammad Javad Zarif di Twitter, Selasa (3/ 7). Iran menyerukan tindakan keras terhadap NCRI di Paris, Riyadh,  dan Washington.

PROYEK POLITIK RAHASIA ” TAKTIK JAHAT ” PROXY AS-ISRAEL-SAUDI DI TIMUR TENGAH.

Adanya tudingan operasi gabungan “Politik Gangster ” dan ” Taktik Jahat Bendera Palsu ” oleh proxy AS- Irael-Saudi, dibenarkan mantan Kepala Badan Intelijen Luar Negeri Israel (Mossad) 2011 ketika diwawancarai Uvda TV Israel. Bekas Kepala Mossad Tamir Pardo mengungkapkan, badan intelijen Israel tersebut merupakan organisasi kejahatan dengan lisensi. Komentar itu membuat PM Israel, Benjamin Netanyahu tersinggung.

Dalam wawancara di Uvda TV itu, Pardo blak-blakan menyebut agen mata-mata yang pernah dia pimpin sebagai “sindikat kejahatan denga n lisensi”. Dia juga menuduh Neta nyahu mencoba menyadap teleponnya pada 2011. Netanyahu  tak terima dengan komentar Pardo. “Mossad bukan sindikat kejahatan,” kata Netanyahu pada rapat kabinet mingguan, yang dilansir Times of Israel, Selasa (5/6).

“Ini adalah organisasi yang mulia, organisasi melakukan pekerjaan yang diberkati, melawan terorisme dan kami semua memberi hormat,” bela Netanyahu. Dalam laporannya, Uvda TV mengatakan, Netanyahu telah meminta kepala Shin Bet sebelumnya, Yoram Cohen, untuk menyadap komunikasi para pejabat pertahanan senior, termasuk Pardo dan Kepala Staf IDF Benny Gantz. Menurut laporan tersebut, tidak ada bukti atau kekhawatiran khusus bahwa Gantz dan Pardo membocorkan rahasia negara. Mossad saat ini dipimpin Yossi Cohen.

CARA OPERASI GABUNGAN ” THE DEAL OF CENTURY ” PROXY AS-ISR AEL-NEGARA ARAB                                     

Dalam rangka operasi gabungan intelijen bersandi ” Kesepakatan Abad Ini “, biro-biro intelijen negara Arab bertemu dengan Kepala Mossad sebagai pengendali utama operasi ” Politik Gangster dan operasi  Taktik Jahat “, seperti disinyalir pemerintah Korut, Iran, Suriah, Yaman, Libanon, Palestina-Hamas, Turki,  dan Rusia.

Pertemuan dengan Kepala Mossad, Yossi Cohen ini dilakukan secara rahasia sekitar sepuluh hari lalu (18/ 6), menyusul meningkatnya hubungan rahasia sebagian negara Arab dengan Israel. Menurut situs Israel Arutz Sheva, (28/6) pertemuan ini digagas Jared Kushner (menantu dan penasihat Presiden Donald Trump) dan Jason Green Blatt (utusan khusus Trump untuk urusan Timteng). Mereka berdua juga dikabarkan menghadiri pertemuan tersebut.

Mereka yang dilaporkan turut hadir di pertemuan itu adalah Adnan al-Salam al-Jundi (Kepala Biro Intelijen Yordania),Jenderal Abbas Kamil (Kepala Biro Intelijen Mesir), Khaled bin Ali al-Humaidan (Kepala Biro Intelijen Saudi), dan Majid Faraj (Kepala Biro Intelijen PLO).

Harian Israel Hayom juga pernah melaporkan bahwa para petinggi Mesir, Yordania, Saudi, dan UEA menyatakan dukungan terhadap proposal Trump, kendati PLO sendiri menentangnya. Kushner dalam wawancara dengan harian al-Quds mengatakan, proposal perdamaian tengah mendekati tahap akhir. Menurutnya, jika Presiden Palestina Abbas tidak mau bekerja sama, dia sendiri yang akan mendeklarasikan isi kesepakatan tersebut.

PERLAWANAN PLO ATAS TEKANAN AS-SAUDI & KETAKUTAN PM ISRAEL ATAS RESISTENSI IRAN-HAMAS

“Kami menolak upaya AS memaksakan keputusan mereka pada masalah Palestina ya ng paling sensitif,” kata Presiden Palestina Mahmod Abbas saat bertemu Presiden Rudia, Vladimir Putin di Moskow, seperti dilansir Al Arabiya pada Ming gu (15/7).

Bersamaan dengan kunjungan Presiden Palestina ke Rusia, PM Israel, Netantahu mengaku di depan Parlemen Israel, telah melakukan pembicaraan dengan Presiden AS, Donald Trump via telepon  terkait Iran dan Suriah. Dia menyebut, Trump sependapat dengan dirinya bahwa konfl ik di Suriah menimbulkan ancaman serius bagi Israel. Sebelumnya pada Sabtu (14/7), Netanyahu memerintahkan serangan militer di Jalur Gaza yang dikuasai HAMAS serta membombardir pos militer Suriah yang sedang diserbu juga oleh kelompok Al-Qaeda dan ISIS di Alepo, sejak Jumat (13/7).

“Saya berterima kasih kepada Trump atas sikap kerasnya terhadap Iran. Dia menegaskan kembali komitmennya kepada keamanan Israel dan kesediaannya membantu Israel di berbagai bidang,” kata Netanyahu, Minggu (15/7).

CARA IRAN KONTRA OPERASI INTELIJEN “SEGITIGA SETAN” PROXY AS DI TELUK PARSI DAN PALESTINA.

Merespon pertemuan rahasia intelijen proxy AS untuk mengintimidasi poros sesistensi Iran, Irak, Libanon, Yaman, Suriah, Rusia, Turki dan Palestina, Komandan Senior Garda Revolusi Iran, Jenderal Yahya Rahim Safavi menuding AS, Saudi,  dan Israel bersekongkol melemahkan Teheran. Tudingan ini muncul setelah Iran kembali dilanda demo di beberapa kota sejak Senin (25/6) karena nilai mata uang Iran jatuh, diserang investor proxy  AS-Israel-Saudi.

“‘Segitiga Setan’ dari Amerika Serikat, Israel,  dan Arab Saudi berusaha melemahkan Iran. Kita harus menetralisasi rencana musuh untuk perang ekonomi dan operasi psikologis,” kata Rahim Safavi, pada Rabu (27/6), yang dilansir Fars News. Pernyataannya tersebut didukung Presiden Iran, Hassan Rouhani.

“Enam Presiden AS sebelum yang sekarang juga melakukan upaya tetapi gagal mencapai tujuan jahat mereka. Jika AS memiliki kekuatan untuk mengalahkan Republik Islam Iran, mereka tidak perlu bersekutu dengan negara-negara tercela di Timur Tengah untuk menciptakan kekacauan dan ketidakamanan di Iran,” katanya seperti dikutip dari Russia Today, Minggu (1/7).

Ketika Washington terus menganca m sekutunya untuk menghentikan impor minyak Teheran, Presiden Iran Hassan Rouhani baru-baru ini berjanji membawa AS “bertekuk lutut. “Kami tidak akan menyerah dan akan mempertahankan martabat nasional dan historis kami di muka AS,” papar Rouhani se perti dikutip Russia Today, Minggu (1/7).

INTRIK PROXY AS MENEKAN EROPA UNTUK DUKUNG ISRAEL-SAUDI PERANGI IRAN-TURKI-RUSIA DAN PALESTINA 

Sementara itu, cemas atas respons revolusi Iran, Menlu AS, Mike Pompeo, terus mendesak negara-negara Eropa berada di belakang AS untuk memangkas Iran dari pasar energi dunia. Hal itu diungkapkannya selama pembicaraan bersama Menteri Energi AS Rick Perru dan Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Federica Mogherini duduk satu meja dalam Dewan Energi AS-Uni Erop a (UE).

“Iran terus mengirim senjata ke Timur Tengah, dalam pelanggaran mencolok terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB. Kami meminta sekutu dan mitra kami untuk bergabung dengan kampanye tekanan ekonomi kami terhadap Iran.  Kita harus memotong semua dana yang digunakan rezim Iran untuk mendanai terorisme dan perang proksi. Tidak ada yang tahu kapan Iran mungkin mencoba untuk menimbulkan terorisme, kekerasan,  dan ketidakstabilan di salah satu negara kita selan jutnya,” tukasnya. (*) Pengamat Intelijen

Related Articles

Back to top button