Berita Utama

Dinkes: Jangan Khawatirkan Vaksinasi MR

Radarbekasi.id – Dinas Kesehatan Kota Bekasi mengeluarkan surat edaran ke Puskesmas yang ada di wilayah setempat. Hal itu menyikapi informasi di luar Pulau Jawa tentang vaksinasi Measles Rubella (MR atau Campak dan Rubella).

Diketahui bahwa, Pemkot Bekasi sudah melakukan vaksinasi MR pada tahun 2017 lalu. Surat edaran itu diberikan agar warga yang anak-anaknya telah mengikuti vaksinasi itu tidak khawatir karena sejumlah persoalan lain di luar daerah.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Dezi Syukrawati mengatakan, hal ini dilakukan agar masyarakat bisa mendapat informasi yang benar dan tidak khawatir dengan vaksin MR yang digunakan.

“Untuk mencegah, supaya ketika masyarakat ingin tahu, bisa melalui puskesmas terkait dengan informasi yang ada,” ujarnya, Jumat (3/8).

Ia menjelaskan, dari informasi yang diperoleh pihaknya, vaksinasi MR dilakukan sebagai upaya pencegahan dan perlindungan terhadap penyakit dan diharapkan tidak ada generasi yang cacat.

Dirinya menghimbau supaya orang tua di Kota Bekasi yang anak-anaknya telah mendapatkan vaksinasi MR tidak khawatir. “Kita harus yakin dan kembali ke hati nurani kalau kita ingin anak kita sehat percaya saja,” ucapnya.

Pada tahun 2017, ada sebanyak 92 persen anak dari target nasional sebesar 732 orang di Kota Bekasi untuk melakukan vaksinasi MR. Dezi mengatakan, ada sejumlah kendala dalam proses vaksinasi yang dilakukan.

Beberapa persoalan tersebut ialah dilematis masyarakat Kota Bekasi tentang persoalan halal dan haram vaksin yang digunakan. Lalu, kasus vaksin palsu yang pernah terjadi di Kota Bekasi serta adanya kelompok warga anti vaksin.

Namun, persoalan itu dapat teratasi dengan dilakukannnya pendekatan dan pemberian pemahaman yang tepat tentang manfaat dan kualitas dari imunisasi MR.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pendekatan lintas sektoral dengan pihak kepolisian, ulama dan Wali Kota Bekasi kala itu juga mengeluarkan surat edaran terkait dengan vaksinasi tersebut.

“Kita intens secara program ke tempat yang memang tempat yang kita anggap sulit. Kemudian pendekatan lintas sektoral juga dilakukan,” ujarnya. (neo)

Lebihkan

Artikel terkait

Close