Metropolis

Pondokmelati Lestarikan Budaya Ngebesan

Radarbekasi.id –Atraksi palang pintu mewarnai kegiatan negebesan yang dilaksanakan di Kecamatan Pondokmelati. Kegiatan ini sudah tahun ke tiga yang dilaksanakan berturut-turut.

Ratusan warga berkumpul dimuka perumahan Allure Mansion jalan Kampung Sawah, Jati Murni, Pondok Melati sejak pagi hari, mereka nampak bersiap untuk mengarak pengantin pria menuju kediaman mempelai wanita, ini merupakan satu tema yang adiangmat dalam lebaran Betawi Kecamatan Pondok Melati tahun 2018 ini yakni dengan tema “ngebesan”, kemarin.

Ratusan warga yang terdiri dari orang dewasa, remaja  hingga pelajar sekolah tersebut dipersiapkan untuk memeriahkan iring-iringan pria yang di persiapkan menjadi pengantin pria. Sekitar 500 orang beriringan berjalan sehingga barisan manusia tersebut mengular dan sontak mengundang perhatian warga yang dilalui ole hiring-iringan nganten tersebut hingga halaman masjid Agung Al-Jauhar YASFI Kampung Sawah.

Di barisan paling depan nampak barisan,  pemain hadroh yang mengiringi perjalanan rombingan dengan music hadroh, dibarisan kedua berjalan rombongan pengantin pria, dua barisan berikutn ya di isi oleh palang pintu dan barang-barang bawaan pengantin pria, sementara di barisan berikutnya masyarakat sekitar yang ikut iring-iringan, sepanjang jalan barisan terus bertambah panjang dengan masyarakat yang ikut bergabung hingga sampai ditujuan.

Ya,kegiatan tersebut merupakan lebaran Betawi. Kegiatan ini sudah kali ketiga dilaksanakn berturut-turut oleh di kecamatan Pondok Melati. Pada tahun 2016, tema yang diusung adalah seorang anak yang melakukan kunjungankerumah orang tuanya, sementara ditahun kedua yakni tahun 2017 tema yang di usung adalah mengarak ondel-ondel dan pesilat.

Sesampainya di tempat tujuan yang digunakan sebagai kediaman mempelai wanita, rombongan disambut dengan manusia petasan yang menyalakan petasan di badannya, nampak rentetan petasan di kalungkan di badannya. Di ketahui naman manusia Petasan tersebut adalah Bang Ji’I, ia manpak santai ketika puluhan petasan yang ada di badannya dinyalakan, sesekali itu menunggu petasan tersebut meletus dengan bersantai.

Sementara itu, berbagai bawaan yang dibawa  oleh rombongan pengantin pria dalam budaya ngebesan ini memiliki filosofi, diantaranya adalah beras dan kambing yang di bawa, ini memiliki filosofi bahwa mereka akan memelihara kambing tersebut untuk di nikmati bersama dengan keluarga, serta beras yang juga akan digunakan untuk makan bersama-sama. Demikian diungkapkan oleh ketua Komunitas Orang Bekasi (KOASI), Sarin Sarmadi.

“ Dan dang itu kalo orang-orang betawi kan buat masak dandang itu ya, jadi mereka jadi besan kalo itu harus pandai masakin buat suaminya. Kalo rebut dandang itu semacam ada penerimaan dari keluarga besan dari perempuan, jadi kalo dapetin perempuan itu gak semudah itu harus ada perjuangan dulu dimana kan kalo orang hidup kan ada perjuangan dulu nggak selamanya gampang kan, istilahnya dari miskin dulu samoe kaya gitu lah, nggak semudah apa yang dibayangkan kedepannya, kalo orang nikah aja gitukan ada perjuangannya disitu yang harus dijalanin, “ ungkapnya.

Pria yang biasa di panggil Bang Ilok tersebut mengungkapkan bahwa budaya semacam ini sudah tidak ditemukan di lingkungan masyarakat, maka dengan kegiatan ini dirinya ingin untuk menghidupkan kembali budaya yang sudah tidak ditemukan tersebut.

Sementara itu, Camat Pondok Melati, Ika Indah Yarti, ketika di temui oleh radar Bekasi mengungkapkan bahwa kegiatan ngebesan seperti yang sudah di saksikan bersama merupakan gambaran budaya yang ada pada masyarakat Betawi.

“ Gambaran ngebesan itu kan kao biasanya orang betawi itu kal ngebesan itu waktu jaman dulunya itu didatangi dan dengan membaca shalawat, diiringi shalawat-shalawat, nah jadi sama seperti yang kita liat bersama nah itu memang gambarannya. Jadi di arak-arak, bukan diarak tapi di iringi jadi terkesan arak-arakan jadi sebenernya itu di iringi satu kampung jadi cara nngebesannya itu ketempat mempelai perempuan, “ ungkapnya kepada radar Bekasi.

Ia menambahkan bahwa lebaran betawi ini dialksanakan usai lebaran Idul Fitri, selama tiga kali melaksanakan kegiatan semacam ini, Ika Indah Yarti menjeaskan bahwa putaran kegiatan ini adalah usai hari Raya.

“Ini kan selalu setiap tahun, saya dari pihak kecamatan selalu kami terlibat didalam kepanitiaan ini walaupun bukan panitia inti, tapi kita mendukung. Ini adalah acara kita bersama “ ungkapnya. (cr38/adv)

Related Articles

Back to top button