Pendidikan

Tantangan Baru untuk Sekolah Favorit

Guru Mesti Sabar Mendapatkan Siswa Kemampuan Rendah

Radarbekasi.id – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 14 Tahun 2018 yang mengatur sistem zonasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), berdampak kepada sekolah. Seperti apa?

Anggapan sekolah favorit dan tidak favorit kerap kali muncul saat penerimaan Siswa Didik Baru (PPDB). Dikotomi antara favorit dan tidak favorit berdampak merugikan sekolah tertentu, dan di sisi lain menguntungkan salah satu sekolah. Upaya ini disambut beragam masyarakat, ada yang pro, ada yang kontra.

Sebagai sekolah favorit warga Kota Bekasi,  SMAN 5 Bekasi harus mengikuti aturan dari pemerintah mengenai PPDB ini.  Turheni,  Humas di SMAN 5 Bekasi mengaku selalu mengikuti kebijakan pemerintah yang ada.  Kalau diliat tujuan dari pemerintah untuk pemerataan sekolah kami setuju saja.

“Bagus atau tidaknya sekolah kan bagaimana dari sekolahan menyikapinya. Ada kok siswa yang nilainya biasa biasa saja.  Jika tadinya SMA tersebut terjaring terunggul dan karena adanya jalur zonasi atau jalur PPDB lainnya seharusnya tidak jadi masalah.  Karena pada dasarnya karakteristik siswa itu beda beda dan ini adalah tantangan baru buat kami, ” katanya.

Turheni menuturkan, SMAN 5 Bekasi tidak  khawatir dengan jalur PPDB yang ada.  Karena jika menemukan siswa yang kemampuannya dibawah standar, pihak sekolah akan menyikapinya. Menurutnya, guru harus  mampu merubah siswa agar  tidak tertinggal dengan rekannya.

“Sebagai guru harus melayani setiap murid yang memiliki karakteristik berbeda. Ada yang dibawah rata rata, ada juga yang diatas.  Kalau mereka di bawah rata- rata biasanya para guru memberikan pelajaran tambahan.  Jika ada yang kurang nilainya kita seperti biasa melakukan remidial agar sesuai dengan KKM. Tapi kalau mereka sudah diatas rata rata ua kita tinggal memperdalam saja, ” lanjutnya.

Turheni mengatakan,  walaupun mendapatkan murid yang di bawah rata rata karena PPDB,  guru selalu memberikan kesepakan kepada muridnya agar mereka tidak merasa terbebani juga.  Sehingga tidak ada masalah dengan pengelompokan dan penempatan kelas.

“Kita juga akan memberikan pelayanan yang berbeda untuk siswa yang intelektualnya di bawah standar.  Kami sebagai guru juga akan menyarankan bagi siswa siswa yang berprestasi harus melanjutkan kemana.  Dan jika yang mereka yang intelektualnya rendah kita juga bisa menyarankan ke tempat kuliahan dengan jenjang D1 atau D3 jika mereka tidak mendapatkan jenjang S1, ” tutupnya.(*)

Related Articles

Back to top button