BEKACITIZEN

Membedah Kekuatan Adidaya Ulama (Bag-1)

Oleh: Fadlin Guru Don

Radarbekasi.id – Percaturan politik dalam menghadapi hajatan akbar di tahun 2019 sedang gencar dibicarakan. Hampir semua stasiun televisi dan media sosial tak luput dari pemberitaan politik.

Jual-menjual figur hingga penyetoran muka dari para tokoh, sepertinya tidak lagi menjadi rahasia publik. Negara tidak lagi berperan sebagai payung kepentingan rakyat tetapi sudah menjadi panggung drama para elite.

Perdebatan kedua kubu pemerintah dan oposisi tidak pernah selesai, layaknya kisah perebutan tahta oleh skuad pandawa dan kurawa. Mereka berperang satu sama lain demi menduduki tahta kerajaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pembahasan nama Joko Widodo dan Prabowo Subianto nyaris tidak pernah terlewatkan setiap saat. Semua media online maupun media mainsteam sepertinya tidak bisa hidup tanpa memberitakan kedua nama tokoh ini.

Desain politik sudah terbangun, pembentukan koalisi hampir selesai, lalu apa yang harus ditunggu oleh rakyat?

Pertarungan Joko Widodo dan Prabowo Subianto tidak hanya dinanti oleh rakyat tetapi Ulama dan tokoh-tokoh Islam juga sedang mengambil peran dan menunggu agenda rakyat tersebut.

Banyak yang menggiring opini bahkan mencoba memanipulasi kenyataan bahwa suara ulama tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keputusan akhir dari Pilpres 2019 nanti.

Ini wajar, karena biasanya orang yang dalam keadaan panik atau terdesak bisa saja terlihat kuat padahal sedang tak berenergi, berusaha bahagia padahal suasana hatinya sedang gundah gulana. Itulah pilihan hidup orang yang jiwanya sedang dalam keadaan yang amat terjepit.

Apakah lantaran ada sebagian ulama yang terlihat berbeda dari yang lain, lalu semua umat Islam dipaksakan untuk tidak mendengarkan kebenaran. Jika alasan ini maka sesungguhnya mereka sudah keliru besar. Sama saja mereka sedang terus berjalan padahal di depan mereka terdapat lubang besar, yang pada akhirnya mereka tenggelam dan terjerumus didalamnya.

Upaya penggiringan tesebut di atas, tentu dilakukan untuk mengubah mindset publik agar tidak terlalu percaya dengan ulama. Jikalau umat Islam tidak percaya lagi kepada ulama, lantas rakyat harus percaya siapa? Apakah harus percaya kepada anggota Partai, Timses, Pengamat, Mahasiswa atau kepada pemerintah?

Lalu, sebarapa besar presentasi kebenaran dari orang-orang ini jika harus menggeser kebenaran yang disampaikan para ulama?

Patriotisme Mahasiswa yang Hilang

Apabila pilihan jawaban dari sederetan pertanyaan diatas adalah mahasiswa maka sangatlah benar, tetapi itu dulu. Kenyataan yang harus kita terima bahwa gerakan mahasiwa hari ini sudah kehilangan arah.

Ibarat kapal pesiar yang kehilangan nahkoda, yang terus berjalan dengan kecepatan tinggi namun melingkari lintasan yang sama, memiliki muatan yang besar tetapi putus harapan ingin membongkar muatannya kemana. Itulah analogi sederhana mahasiswa kita saat ini yang tak punya nyali dan pasrah atas keadaan.

Pengaruh gerakan mahasiswa sebelum reformasi memang pernah menjadi cikal bakal perjuangn Nasional. Namun sangat disayangkan hari ini bahwa mereka sudah terkontaminasi oleh pola pikir pragmatis dan kepentingan lambung dan usus.

Di tengah sakratnya negeri ini, ada yang selalu ditunggu dan dinantikan oleh rakyat, yaitu gerakan intelektual Mahasiswa. Namun, mereka sudah kehilangan identitas dan jati diri.

Rakyat sangat merindukan mahasiswa yang progresif yang identik dengan “Sami’na wa Analisis” yang selalu mendengar, membaca dan terus berjuang atas semua problema sosial yang terjadi, kemudian mengaung-mengaung membela serta andil dalam menawar solusi.

Harapan itu pupus oleh kondisi mahasiswa sekarang yang sudah menjelma menjadi makhluk polos dan lugu yang sangat identik dengan istilah “sami’na wa atho’na” yang hanya bisa menerima, mengamini serta tunduk dan taat kepada kehendak kekuasaan.

Kabar yang menggembirakan sempat hadir pada saat Aliansi Bem seluruh Indonesia ingin beraksi lewat mimbar lapangan dalam rangka mengoreksi kebijakan pemerintahan Jokowi. Tetapi semua itu hanya wacana dan setingan saja.

Rupanya mahasiswa lebih banyak belajar berakting daripada belajar menjadi generasi bangsa yang baik. Mereka semua sudah lebih memilih jalan instan daripada jalan proses.

Jalan hanya untuk sekedar kenyang bukan jalan yang mengenyangkan orang lain. Sudahlah Mahasiswa kamu tidak ada lagi di hati rakyat. Cukuplah kamu menjadi kenangan saja…!

Realita ini tak terbantahkan lagi. Hal ini Membuktikan bahwa jiwa patriotisme dan daya juang mahasiswa telah terbunuh. Mahasiswa sudah tak punya taring lagi untuk menggigit kebijakan- kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat.

Ulama Juru Kunci Kemenangan Pilpres 2019

Siapapun bisa berdalih, siapapun bisa menafsir, itulah seninya dalam politik. Politik ibarat kata seperti mesin ATM, di dalamnya banyak uang tetapi perlu pin atau password yang benar agar bisa ditunaikan. Oleh karena itu, menurut Penulis bahwa Ulama adalah Password tersebut yang akan menjadi kunci misi 2019 ganti Presiden.

Berawal dari Kasus penistaan agama yang menimpa Ahok, gerakan ulama mulai mendapat tempat dihati rakyat. Patut diakui bahwa gerakan yang telah mengundang tangisan nurani serta mengobarkan semangat jutaan manusia itu telah berhasil menyatukan umat Islam. Maka tidak ada yang mustahil bahwa keberpihakan ulama menjadi rahasia dibalik kemenangan Pilpres ditahun 2019.

Revolusi sebuah negara di dunia tidak sedikit disebabkan oleh konstruksi pikiran dari tokoh-tokoh besar yang penulis istilahkan sebagai “the great Individual”. Tokoh-tokoh besar (great Individual) inilah biasanya berada pada gerbong oposisi yang terus mengkritik dan menentang kebijakan pemerintah, sekaligus sebagai penawar dahaga disaat negara kehilangan kendali.

Banyak fakta sejarah yang mengisahkan perananan tokoh-tokoh besar atau tokoh tokoh agama. Misalnya, Gerakan revolusi Iran pada tahun 1979 yang diprakarsai oleh Ayatullah Khomeini yang menentang program “Reformasi Putih” di bawah pimpinan Syah Reza Pahlevi.

Reformasi agraria dan tercatat bahwa sudah beberapa kali mahasiswa menancapkan taji intelektualitasnya secara aplikatif dalam memajukan peradaban bangsa ini dari masa penjajahan Belanda, Masa Penjajahan Jepang, Masa Pemberontakan PKI, Masa Orde Lama, Hingga Masa orde baru.

Peran mahasiswa hampir tidak pernah absen untuk selalu ikut serta dalam mengawal dan mendukung perjuangan bangsa Indonesia.

Pendidikan yang sengaja dibuat oleh sekutunya Amerika Serikat untuk mempersempit pengaruh kaum Mullah atau bangsawan Iran dan tuan tanah. (*) Direktur Strategi dan Analisis Data Lembaga Analisis Politik Indonesia

Related Articles

Back to top button