Pendidikan

Belajar dari Polisi dan Atlet

Radarbekasi.id – Salah satu stasiun televisi swasta menayangkan sebuah berita dengan tajuk yang cukup menggelitik jiwa dan pikiran. Jumat petang, 13 Juli 2018 terpampanglah di sana sebuah berita dengan judul “Polisi Aniaya Pelaku”. Dari judul saja sudah pasti membuat gemas para penggemar setia berita. Bagaimana bisa seorang yang katanya pelindung, pengayom dan pembela masyarakat justru bertindak tak sesuai slogannya?

Diceritakan bahwa, polisi tersebut adalah pemilik sebuah mini market di Pangkal Pinang yang mendapati dua orang ibu dan seorang anak kecil yang mencuri di tokonya. Berita ini bisa jadi heboh, karena video perlakuan polisi tersebut terhadap terduga pelaku pencurian viral di media sosial. Si bapak “Polisi” dengan entengnya melayangkan pukulan kepada terduga pelaku yang duduk bersimpuh di depannya sambil tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Sungguh pemandangan yang memilukan sekalipun pelaku melakukan sebuah kesalahan.

Apakah berhak setiap aparatur negara  mengambil tindakan seperti itu? Apakah bijak jika seragam aparatur negara dijadikan tameng bahwa mereka dapat berbuat seenaknya? Maling tetap saja salah, lantas kita berhak untuk menyiksanya? Ada apa dengan negeri ini. Mengapa semua seakan tak memiliki aturan?

Seharusnya orang yang memahami hukum tahu, penyelesaian yang baik untuk kasus seperti itu. Bukan main hakim sendiri apalagi dilakukan di depan anak di bawah umur yang tentu saja akan menjadi contoh yang nyata bagi anak itu. Maka dari itu,  fungsi serta  peran guru dan orang tua dalam mencetak generasi yang baik harus semakin diperhatikan. Sebab anak kecil adalah peniru ulung, jangan sampai mereka meniru hal yang tidak terpuji.

Hal baik yang seharusnya dilakukan adalah  pelaku dibawa ke pihak yang berwajib untuk dimintai pertanggungjawaban yang lebih resmi. Memukul pelaku bukan penyelesaian terbaik, justru akan menimbulkan masalah baru dan paradigma masyarakat yang buruk terhadap polisi akan semakin sulit dihilangkan. Meskipun tidak  semua polisi memiliki tabiat yang buruk. Banyak juga polisi yang tidak menyalahgunakan seragamnya untuk kepentingan pribadi.

Harta, jabatan, semuanya hanya titipan. Kapanpun Tuhan mengambilnya kita tak dapat menolak. Lantas apa yang bisa disombongkan? Kasus ini tentunya dapat dijadikan sebuah pelajaran bahwa bersikap arogan tak akan membawa hasil berupa penyelesaian masalah.

Masih di waktu yang sama media pun menayangkan sebuah berita yang berkaitan dengan dunia olah raga. Pelari asal lombok, Lalu Muhamad Zohri berhasil meraih medali emas dalam kejuaran lari tingkat internasional di Finlandia. Pelari yang awalnya tidak diunggulkan ini, malah mengakhiri pertandingan dengan gelar juara. Hal yang paling spesial lagi adalah kondisi sang atlet yang jauh dari kata mapan. Kondisi ini menjadi berita yang sangat menarik minat masyarakat untuk menelusurinya lebih dalam.

Berbondong-bondong orang menghadiahi sang atlet yang telah mengharumkan Indonesia di dunia internasional. Ada yang memberangkatkan umrah, ada yang memberikan uang puluhan sampai ratusan juta, dan perebutan  kesempatan untuk dapat merenovasi rumah sang atlet yang jauh dari kata layak. Dari sini kita dapat belajar bahwa Tuhan memiliki kekuasaan. Ketika Ia katakan “jadi” maka “jadilah”. Sebab tak ada yang mustahil bagi Tuhan. Lewat hal yang tak diduga derajat kita sebagai hambanya dapat diangkat. Seperti yang dialami oleh Lalu Muhammad zohri.

Siapa yang menyangka hanya dengan mengikuti lomba lari kehidupan seseorang akan berubah. Tetapi, itulah kehendak Tuhan. Dia akan memberikan kebahagiaan kapada siapa saja hambanya yang selalu bersyukur, dan memberikan azab bagi hambanya yang melupakan rasa syukur. Berkah tidak diberikan berdasarkan jabatan, kecantikan, atau kekuasaan. Setiap insan sama di mata Tuhan, yang membuat beda adalah keimanan dan ketaqwaannya.

Dari kedua hal inilah kita belajar, bahwa sikap yang kau tanam itulah yang akan kau petik. Ketika sesorang tega menganiaya seseorang maka berimbas kepada sesuatu hal dalam kehidupannya menjadi hilang atau tidak baik. Sekalipun orang yang dianiaya melakukan kesalahan. Sebab dalam Alquran Tuhan tidak mengajarkan untuk berbuat aniaya. Manusia diajarkan memiliki rasa kasih sayang dan pemaaf. Bukankah Allah saja yang Maha Esa adalah maha pengampun dosa?

Sedangkan Zohri, si atlet sederhana namun pantang menyerah, membiasakan dirinya untuk selalu memiliki motivasi untuk berjuang. Usahanya itulah yang membuka jalan baginya untuk menjadi hero dari zero, dari seseorang yang tidak dianggap menjadi dianggap. Maka, berhentilah bersikap semena-mena, kita tak akan pernah tahu. Takdir kehidupan, hari ini kita di atas besok bisa jadi kita di bawah. Tanamkan kebaikan pada orang lain, agar lain waktu kita dapat memanennya. Belajar tak selalu harus dari buku dan sekolah. Pengalaman dan cerita orang lain juga dapat menjadi guru terbaik. Hakikatnya, hidup yang kekal adalah alam kematian. Dunia ini hanya sementara. (*)

Related Articles

Back to top button