BEKACITIZEN

Nasionalisme ala Keluarga Koeswoyo

Oleh: Budiman Hakim

Radarbekasi.id – SEJAK masih kecil, saya adalah fans berat band Koes Plus. Saya mengoleksi seluruh kaset mereka. Tentu kita semua masih ingat rangkaian seri lagu Nusantara yang begitu melegenda.

Lagu Nusantara I adalah salah satu lagu Pop Indonesa karya Koes Plus yang kalo gak salah diproduksi tahun 1971. Setelah sukses dengan lagu tersebut lalu muncul serial lagu Nusantara 2, Nusantara 3, Nusantara 4 sampai akhirnya sampai Nusantara 9.

Begitu ngefansnya saya pada Koes Plus, sehingga setiap saya hendak berkunjung ke rumah teman di bilangan Kebayoran Baru, saya sengaja melewati Komplek Keluarga Koeswaoyo yang berlokasi di Jalan, Haji Nawi Raya no. 72. Kalau kebetulan ada personil Koes Plus yang lagi berada di luar, saya langsung dadah-dadah… Halo Om Tony, halo Om Yok, Halo Om Yon. Norak banget ya gue? Hehehehe.

Nah, berpuluh-puluh tahun kemudian, saya kebetulan lewat lagi di komplek tersebut. Saat memasuki jalan itu, saya gak berharap apa-apa. Karena saya tau Om Tony sudah meninggal dunia.

Om Yon juga sudah gak ada. Apakah Om Yok masih tinggal di situ? Bukan cuma gak tau, saya malahan gak yakin apakah rumah besar di sana masih dimiliki oleh keluarga Koeswoyo.

Baru saja sampai di rumah tersebut, saya melihat ada keramaian di sana. Banyak orang berkumpul lesehan, mereka makan dengan lahap sambil ngobrol dengan riang gembira.

Saya tersenyum dan ikut bahagia ngeliat pemandangan menyenangkan tersebut. Beberapa ibu-ibu berjilbab tersenyum dan mengajak saya masuk namun saya menggelengkan kepala lalu berlalu meninggalkan tempat itu.

Belum lagi bergerak lebih dari 10 langkah, tiba-tiba saya mendengar suara musik dari tempat itu. Bukan suara musik dari CD tapi suara live music. Dan tau gak apa lagunya? NUSANTARA! Masya Allah! Apakah ini kebetulan? Bisa jadi. Bisa juga tidak. Lagu tersebut melemparkan saya ke jaman masih unyu-unyu dulu. Ya ampuuun…

Saya jadi terharu banget sampe melangkah balik lagi lalu berdiri di luar pagar untuk menikmati lagu tersebut. Band itu beranggotakan anak-anak muda yang cukup piawai karena mampu menyanyikan lagu Nusantara dengan persis seperti para pendahulunya.

Saat lagu berakhir, saya masih bengong dengan mata agak berkaca-kaca karena terharu. Pikiran saya melompat ke beberapa panggung Koes Plus yang pernah saya datangi. Pernah saya nonton mereka main di Istora bersama group Panbers dan The Mercy’s. Pernah juga di Taman Ria Monas, di Ancol, rasanya cukup banyak saya ngikutin mereka manggung

“Hey, Mas! Ngapain kamu bengong di situ dari tadi. Ayo masuk!” Sekonyong-konyong sebuah suara perempuan menyapa saya.

“Oh, terima kasih. Saya cuma numpang dengerin lagu aja,” sahut saya tersenyum.

“Kalo mau dengerin musik ya masuk aja. Yuk, sambil makan?” kata perempuan itu lagi. Dia memakai baju putih dan berkacamata. Wajahnya selalu tersenyum dan parasnya menyenangkan.

“Gak usah! Saya bukan undangan, kok,” kata saya berkeras.

“Loh? Acara ini memang untuk publik. Jadi Mas gak perlu undangan. Yuk!” Dengan santainya perempuan itu menggamit tangan saya lalu menyeret saya masuk ke dalam rumah.

Kalo soal makanan, saya memang agak lemah di bagian itu. Apalagi perempuan manis yang nawarin saya ini sepertinya tulus banget ngajaknya. Tanpa sungkan saya ambil makanan lalu ikut duduk lesehan bersama tamu-tamu lain sambil mendengarkan band yang menyanyikan seri lagu Nusantara lainnya.

Gila! Barokah banget hari ini. Udah makan enak gratis sambil menikmati live music lagu-lagu Koes Plus. Wuiiiiihh! Nikmat mana lagi yang bisa kita dustakan? Begitu orang bilang.

“Hampir setiap tahun, keluarga kami mengadakan acara seperti ini di hari kemerdekaan,” kata perempuan itu lagi.

“Saya percaya itu. Gak ada orang yang bisa menyangkal nasionalisme Koes Plus. Seri lagu Nusantara itu adalah bukti kongkrit!” kata saya sambil melahap ayam goreng berlumuran kuah sayur lodeh yang rasanya sedap banget.

“Betul! Pemahaman itu juga ditekankan ke kami, generasi selanjutnya. Itu sebabnya hari kemerdekaan buat kami, keluarga Koeswoyo, sangat penting,” sahut wanita itu dengan senyum yang luar biasa manisnya.

“Oh? Berarti Mbak juga keluarga Koeswoyo, ya? Nama Mbak siapa? Saya Budiman Hakim,” kata saya sambil mengulurkan tangan karena memang dari tadi kami lupa untuk berkenalan resmi.

“Chicha! Perlombaan mau dimulai! Yuk, ikutan? Chicha!!!” Tiba-tiba sebuah suara keras memanggil.

“Nama saya Chicha, “katanya sambil menyalami saya. Setelah itu dia berdiri, menengok ke arah orang yang memanggilnya dan berteriak, “Coming!!!”

“Loh? Mau ke mana? perlombaannya, kan, di sana.” kata perempuan tadi sambil menunjuk ke satu arah, “Elo jalan aja duluan. Gue sholat dulu. Selesai zuhur gue ntar nyusul,” kata Chicha lalu masuk ke dalam rumah.

Haaaah??? Jadi perempuan itu Chicha? Masya Allah! Yang bener? Surprise banget jadinya. Ketika saya tanyakan pada tamu lainnya ternyata benar dia adalah Chicha Koeswoyo. Bocah yang nyanyin lagu ‘Helly guk guk guk’ eh emang itu judul lagunya ya? Hehehehe…

Selesai makan, saya berjalan ke arah tempat perlombaan diadakan. Di sana saya ngeliat Chicha sedang sibuk ikut lomba makan kerupuk bersama anak-anak kecil.

Nampaknya dia enjoy banget bersama anak-anak. Sebaliknya, anak-anak tersebut juga terlihat dekat sekali padanya. Ada yang gelendotan, ada yang nggangguin dan ada juga yang narik-narik bajunya ngajak nyanyi bareng.

Pada dasarnya, Chicha memang orang yang gampang akrab. Dengan santai dia ngumpulin anak-anak itu lalu bernyanyi bersama. Saya selalu suka ngeliat orang yang disukai anak-anak.

Kenapa demikian? Karena anak-anak itu jiwanya masih murni. Mereka dengan mudah dapat menentukan berdasarkan instingnya untuk bergaul hanya dengan orang baik. Secara intuisi, anak-anak dapat membedakan mana orang baik dan mana orang yang tidak baik.

Ngeliat Chicha begitu sibuk, saya gak mau mengganggunya. Saya gak mau menyela suasana gembira yang sedang dinikmati oleh anak-anak itu. Dengan diam-diam saya memutuskan untuk pergi dari tempat itu.

Sepanjang perjalanan saya masih terus memikirkan peristiwa di rumah keluarga Koeswoyo barusan. Keluarga itu hebat banget! Berbeda dengan orang lain yang cuma mengklaim nasionalisme di mulut doang, mereka bener-bener mengimplementasikannya dengan tindakan sehari-hari. Memang terlihat sederhana tapi pasti sangat berarti buat tamu-tamu yang datang. God bless you, keluarga Koeswoyo!

Selamat Hari Kemerdekaan RI ke 73. (*) Karyawan Swasta

Related Articles

Back to top button