Pendidikan

Murid Suka Melaporkan Temannya

Oleh: Mar’atus Sholihah, S. Pd

Radarbekasi.id – “ Bu guru, tadi Laila  buang sampahnya sembarangan padahal sudah saya bilangin bu, tapi ga mau dengerin”. Tidak lama kemudian kembali lagi dan melaporkan lagi “ Bu guru Fahri sama Jihan ga mau menyapu kelas padahal hari ini mereka jadwalnya piket”. Ga lama  kembali lagi, dan mengatakan “ Bu guru tadi Alif  ga mau nulis bu padahal kan harusnya menyelesaikan tugasnya tapi malahan main-main bu”.

Tidak jarang guru mendapatkan laporan atau aduan dari murid-murid seperti di atas. Kemudian bagaimana kita menyikapinya?

Dalam dunia pendidikan guru dan murid adalah komponen yang sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling terkait satu sama lain. Dunia guru yang selalu berhubungan dengan banyak murid dari berbagai daerah, kultur dan latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Setiap murid juga memiliki sifat keunikan masing-masing. Ada murid  yang cuek, ada murid yang selalu ingin diperhatikan, dan ada juga murid yang sering mengadu atau melaporkan setiap kejadian yang dialaminya atau yang dilihatnya. Baik yang berhubungan dengan dirinya atau tidak.

Menghadapi murid yang berbeda  karakter tersebut, guru harus mempunyai sikap dan ucapan yang bijak supaya tidak menyinggung atau membuat muridnya merasa tidak nyaman. Memang tidak mudah dan terkadang membutuhkan tenaga ekstra. Apalagi disaat bersamaan guru sedang menyelesaiakan koreksian atau tugas yang lain. Di waktu yang bersamaan tersebut datang murid kita melaporkan hal-hal yang dianggap mengganggunya atau tidak sesuai dengan peraturan di dalam kelasnya. Malah terkadang murid yang melapor atau mengadu ke guru adalah murid yang sama. Sehingga guru agak  merasa terganggu.

Biasanya murid yang masih suka mengadu atau melaporkan setiap kejadian adalah murid tingkat SD dan yang berada di kelas rendah  yaitu antara kelas 1 dan  2. Hubungan guru dan murid di kelas-kelas  tersebut masih sangat dekat karena biasanya sekolah masih menggunakan system guru kelas. Sehingga apapun yang terjadi di dalam kelas mutlak guru harus mengetahuinya.

Lalu apakah murid yang sudah naik ke kelas 3 berhenti mengadu? Belum tentu. Terkadang kebiasaan mengadu atau melaporkan sesuatu masih menjadi kebiasaan. Walaupun di usia tersebut diharapkan sudah lebih mampu menyelesaiakan masalah-masalah kecil yang dihadapinya. Laporan atau pengaduan murid yang terlalu sering itulah yang diakui atau tidak, membuat guru harus menahan napas sejenak untuk berfikir jernih dan mampu menanggapi aduan atau laporan murid tanpa nada tinggi. Kenyataan dilapangan,  guru yang selalu dianggap sempurna di mata murid kita, dituntut untuk mampu menghadapi berbagai masalah dan karakter murid tanpa pengecualian.

Guru adalah orang tua kedua disekolah. Jadi sudah menjadi kewajiban guru sebagai orang tua tidak hanya datang ke sekolah untuk mengajar atau menyamapaikan pelajaran sesuai   dengan kurikulum yang berlaku. Tetapi juga menanamkan moral dan pembiasaan-pembiasaan yang baik, salah satunya sabar dan bijak menghadapi aduan atau laporan murid kita.

Berbahagia sekali jika sebagai guru  selalu menjadi tempat laporan atau pengaduan oleh murid-murid kita. Artinya, anak murid kita sangat mempercayai dan merasa nyaman bersama gurunya di sekolah.

Menurut Andi Ardianto, S. Pd, Guru sudah sepatutnya bersikap bijak dalam menghadapi setiap aduan muridnya. Pikiran jernih guru mutlak diperlukan . Jangan sampai mereka lari karena kita salah menyikapi aduannya.

Ada beberapa alasan mengapa murid suka mengadu atau melapor kepada guru, antara lain :

Pertama, Mentaati aturan. Murid yang sudah paham tentang suatu aturan dan jika ada temannya yang melanggar atau tidak sesuai maka dia akan mengadu atau melaporkan kepada guru.  Misalnya ketika ada murid yang melaporkan ada temannya yang tidak memakai kaos kaki. Hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang salah atau dilanggar oleh temannya, sehingga temannya tadi dilaporkan kepada guru dengan harapan besok tidak melanggar lagi atau melakukan sesuatu sesuai aturan.

Kedua, Ingin dipuji. Secara naluri manusia ingin diperhatikan dan dipuji. Begitupun murid seusia SD (kelas 1-3) masih senang mencari perhatian dan senang dipuji. Mereka selalu ingin diperhatikan oleh orang-orang disekitarnya, terutama orang tua dan orang yang dianggap dekat dengannya yaitu guru. Karena perhatian yang diperoleh dari orang tuanya berkurang atau bahkan tidak ada, karena kesibukan orag tuanya, mereka mencari perhatian dan pujian dari orang lain salah satunya dari guru. Walupun sebenarnya hal-hal yang diadukan tidak penting dan sepele, bahkan kadang laporannya pun berlebihan. Tetapi ketika laporannya ditanggapi dengan bijak maka murid tadi akan merasa senang dan merasa mendapat perhatian lebih dari gurunya atau pujian yang baik untuk dirinya.

Ketiga, Percaya kepada guru. Diakui atau tidak, kita sebagai orang dewasa jika mempunyai suatu masalah, akan menceritakan kepada teman atau orang terdekat yang kita percaya. Begitupun dengan anak didik kita. Murid hanya akan bercerita dan mengadukan hal-hal yang mengganggunya kepada orang yang dipercaya. Mereka beranggapan bahwa gurunya adalah sosok yang dipercayainya yang tidak akan langsung menyalahkan. Sehingga nyaman untuk diajak bicara dan sebagai tempat untuk mengadu. Kepercayaan yang diberikan kepada kita sebagai gurunya, sangat bermanfaat bagi kita. Yaitu akan lebih memudahkan guru untuk menasehatinya. Dan kepercayaan tersebut juga memudahkan guru untuk menyampaikan meteri pelajaran yang ingin kita sampaikan.

Semoga kita sebagi guru selalu mendapatkan kepercayaan dari murid-murid kita dan mampu menjadi tempat pengaduan atau laporan yang dapat menyelesaian masalah murid kita dengan bijaksana.(*)

Related Articles

Back to top button