BEKACITIZEN

Pemilih Bekasi (tak) Cerdas

Oleh: Asep Saputra

Radarbekasi.id – Beberapa waktu lalu, Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Bekasi telah memplenokan jumlah hak pilih pada Pemilu 2019 nanti. Dari 12 kecamatan, warga Kota Bekasi yang telah tercatat sebagai pemilih berjumlah 1.499.681. Jumlah itu meningkat sedikit dibandingkan pemilih pada Pilkada kemarin sebanyak 65.330 pemilih.

Yang menggembirakan, berkaca pada hasil Pilkada Juni kemarin, partisipasi warga dalam pemilihan cukup signifikan. Pengguna hak pilih mencapai 70 persen lebih. Kita perlu memberikan apresiasi khusus kepada komisioner KPUD Bekasi yang telah bekerja optimal untuk menyosialisasikan pesta Pilkada.

Di luar itu, tentunya kita memberikan apresiasi yang tinggi kepada masyarakat. Bahwa ternyata mayoritas masyarakat masih sangat peduli dengan Pilkada. Bahwa mereka meyakini masa depan Kota Bekasi ditentukan oleh pilihan yang tepat di bilik suara.

Lain Pilkada, lain pula Pemilu 2019. Secara pribadi, saya hanya khawatir partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 tak seantusias Pilkada. Setidaknya terdapat empat alasan mengapa prediksi saya, partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 jauh lebih kecil dari capaian Pilkada.

Yang pertama adanya ketidakpercayaan public terhadap partai politik. Sebagaimana survey yang dirilis Indobarometer baru-baru ini, masyarakat dipastikan enggan memilih partai politik, kecuali karena alasan ketokohan kadernya. Partai politik selama ini diasumsikan sebagai salah satu organisasi yang paling korup.

Alasan yang kedua, adanya kejenuhan dari masyarakat terhadap capaian dan perilaku anggota dewan selama ini. Masyarakat menjadi pesimis akan kontribusi dan pengaruh parlemen dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat luas. Hasil perjuangan dinilai masih sangat parsial, dan terkungkung di kelompok-kelompok tertentu.

Yang ketiga, minimnya kreatifitas Bacaleg. Kontribusi kreatifitas kampanye Bacaleg saya nilai memberikan dampak tersendiri dalam memaksa pemilih untuk berpikir kritis. Sementara itu lazimnya, para Bacaleg tidak memiliki konsep kampanye yang kreatif dan subtantif. Yang berisi pointer-pointer kreatif tentang perjuangan DPR dalam mendukung pemerataan kesejahteraan dan lain sebagainya. Yang berkaitan dengan metoda transfer pemahaman bagi masyarakat betapa DPRD memiliki peran yang sama krusial dengan eksekutif dalam menjembatai kepentingan masyarakat.

Alasan yang terakhir adalah factor apatisme masyarakat sendiri. Golongan masyarakat yang seperti ini sudah bebal dengan sosialisasi. Padahal sektor ini lumrahnya tidak saja berasal dari masyarakat kelas bawah yang merasa Pemilu belum memberikan perubahan besar terhadap dirinya dan keluarga. Kalangan ini juga berasal dari elemen masyarakat kelas atas yang merasa bisnis dan usahanya akan tetap berjalan kendati anggota DPRD berganti.

Sebagai salah satu ketua partai di Kota Bekasi, tentu yang saya sampaikan di atas adalah otokritik terhadap saya dan seluruh kader Nasdem. Bahwa dalam rangka menyukseskan Pemilu 2019 dengan harapan dapat menghasilkan wakil-wakil rakyat yang kompeten, Partai Nasdem memiliki pekerjaan rumah yang sangat besar.

Kepercayaan masyarakat terhadap partai politik tidak akan meningkat bilamana kader parpol sendiri tidak berupaya mentransformasikan diri sebagai pelayan public. Kader partai yang mencalonkan diri sebagai Caleg harus bermindset melayani, bukan dilayani. Harus memiliki insting untuk mencari masalah di tengah-tengah masyarakat untuk difasilitasi penyelesaiannya.

Kejenuhan masyarakat juga mesti dijawab dengan kerja nyata. Bahwa ketika terpilih, yang bersangkutan adalah wakil rakyat, bukan Cuma wakil partai politik terkait. Kader partai harus mampu meyakinkan masyarakat betapa kerja-kerja politik adalah ikhtiar untuk berbagi kesejahteraan dan Bekasi yang lebih baik.

Maka karenanya dibutuhkan kreatifitas. Bagaimana seorang kader partai yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat mampu memahami masalah di lingkungannya. Bahwa kader partai mampu berkontribusi, mengkoneksikan para pihak, mencari jalan keluar, dan mewujudkan tatanan lingkungan yang lebih baik.

Apalagi di tengah-tengah tingginya perkembangan digitalisasi, maka mau tidak mau para kader partai yang mencalonkan diri harus mampu mentransfer agenda-agenda perubahan kepada masyarakat melalui pendekatan yang keren dan konstruktif. Yang kemudian bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam seluruh tahapan Pemilu 2019.

Selebihnya, kita serahkan saja kepada warga Kota Bekasi. Akankan mereka mau menjadi pemilih yang cerdas atau tidak? Siapkah mereka menolak uang demi menjaring wakil-wakil rakyat yang pantas dan layak? Maukah mereka meluangkan sedikit waktunya untuk memilih yang terbaik diantara yang baik?

Karena perubahan Kota Bekasi kedepan ditentukan sepenuhnya oleh 1.499.681 warga yang telah terdaftar sebagai pemilih pada Pemilu 2019 mendatang. Maka benar adanya sebuah ungkapan, “cerdas warganya, maju kotanya”.  (*) Ketua DPD Nasdem Kota Bekasi

Related Articles

Back to top button