Metropolis

Dorong Reforma Agraria

Aksi Mahasiswa Memperingati Hari Tani

Radarbekasi.id – memasuki 58 tahun paska diundangkannya undang-undang pokok Agraria (UU PA) nomor 5 tahun 1960 pada 24 September, situasi agraria ditanah air dinilai belum sepenuhnya lepas dari corak feodalisme, colonialism dan kapitalisme.

Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Front Mahasiswa Bekasi,  menggelar aksi dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional 24 September. Mahasiswa dalam agitasinya mencatat bahwa monopoli kekayaan Agraria terjadi hampir di semua sector kehidupan rakyat.

Dari seluruh persentasi luas daratan di Indonesia, mereka mencatat sekitar 71 persen wilayah daratan dikuasai oleh korporasi kehutanan, 16 persen dikuasai oleh koorporasi perkebunan dalam skala besar, 7 persen dikuasai oleh konglomerat, sementara rakyat kecil di Indonesia hanya menguasai 6 persen dari luas daratan di Indonesia.

Atas dasar itu, puluhan mahasiswa tersebut menilai bahwa reforma agraria yang sejati sesuai dnegan UU PA nomor 5 tahun 1960 tidak pernah serius dilaksanakan oleh pemerintah. Aksi yang dilakukan oleh puluhan mahasiswa tersebut sontak menarik perhatian dari pengguna jalan di depan kampus Universtas Islam 45 (Unisma) Bekasi.

Salah seorang peserta aksi  Muhammad Beni mengaku, selama ini kerap terjadi kasus kriminalisasi petani sampai dengan kasus pembunuhan petani yang terjadi di beberapa daerah menunjukkan betapa pemerintah tidak mengindahkan UU PA nomor 5 tahun 1960.

“Menuntut pemerintah mewujudkan reforma Agraria sejati nomor 5 tahun 1960, yang mana hari ini banyak kasus-kasus kriminalisasi petani disetiap daerah, banyak pembunuhan-pembunuhan yang terjadi akibat sengketa lahan antara pemerintah dan petani,” ungkapnya.

Sementara itu Koordinator Lapangan dalam aksi tersebut, Edo Damaro mengaku, pihaknya mendesak pemerintah dengan lima tuntutan,”Tuntutan ada lima yang pertama mewujudkan reforma Agraria sejati sesuai dnegan UU PA tahun 1960, yang kedua stop kriminalisasi terhadap petani, stop pembebasan lahan, stop impor dan wujudkan kesejahteraan petani,” ungkapnya, Selasa (25/9).

Dia mengaku akan terus mengkaji lebih dalam mengenai reforma Agraria dan akan membawa isu ini menuju pemerintah pusat. Mengenai persoalan Agraria di kota Bekasi ia menilai banyak kasus Agraria diantaranya adalah kasus penggusuran yang menimpa masyarakat di Pekayon dan belum ada tanda-tanda mengenai etikat baik dari pemerintah kota Bekasi. (sur)

Lebihkan

Artikel terkait

Close