Berita Utama

Sainte Lague Dorong Parpol dan Caleg Kerja Ekstra

Radarbekasi.id – Sistem hitung suara pada Pileg 2019 yang menggunakan metode Sainte Lague murni diperkirakan memengaruhi raihan kursi parpol dan caleg. Sistem Sainte Lague yang mengandalkan pembagian bilangan ganjil 1, 3, 5, 7 dan seterusnya itu, sangat berbeda dengan Bilangan Pembagi Pemilih pada Pemilu sebelumnya.

Ketua KPU Kota Bekasi, Ucu Asmara Sandi menjelaskan perbedaan penghitungan suara untuk Pileg 2019 tersebut. ’’Sistem Sainte Lague ini, jika partai sudah dapatkan kursi pertama, maka untuk pembagian berikutnya partai tersebut akan dibagi 3,” ungkap Ucu.

Dicontohkan dia, jika hasil suara partai A mendapat 24 ribu suara. Sementara partai B mendapat 15 ribu suara. Partai C mendapat 9 ribu suara. Tahap pertama, jumlah suara masing-masing parpol tersebut akan dibagi 1 untuk penentuan kursi pertama. Hasilnya, partai A yang berhak dengan jumlah suara tertinggi, yakni 24 ribu suara (24 ribu:1).

Penentuan kursi kedua, sambung dia, partai A yang sudah dapatkan 1 kursi pertama, suara totalnya akan dibagi 3. Sementara partai B dan C yang belum dapatkan kursi, tetap akan dibagi 1 untuk total suaranya. Dengan perhitungan tersebut, maka partai B lah yang berhak dapatkan kursi kedua.

Dengan sistem penentuan ini, imbuhnya lagi, mau tak mau, caleg dan partai harus bekerja sama dalam peraihan suara terbanyak. Menang secara individual untuk suara caleg, tetapi suara partai tak terdongkrak, akan mempengaruhi proses duduknya calon di legislatif. Dalam artian, caleg juga dituntut memenangkan partai.

“Partai juga berjuang untuk dapatkan suara terbanyak. Selain untuk pribadi (suara caleg), juga untuk membuat partai dapatkan suara tertinggi. Ini kan saling dukung-mendukung. Tidak semata-mata hanya suara caleg individual. Semua parpol memasang orang-orang yang punya suara banyak (elektabilitas tinggi). Istilahnya berjuang sama-sama,” ucapnya.

Sistem perhitungan suara penempatan kursi Sainte Lague murni ini juga disampaikan Ucu, membuat partai ikut memberikan kontribusi penting pada majunya caleg baik di DP RI, DPRD Provinsi, maupun DPRD Kabupaten/ Kota.

“Sistem terlihat tak useless. Tidak serta merta menghilangkan parpol. Tetap saja partai yang dihitung kemudian lanjut ke caleg-calegnya,” katanya.

Lebih lanjut, dalam proses Pileg dan Pilpres nantinya akan ada lima kotak suara yang akan digunakan dalam pemilihan. “Lima kotak suara, yakni kota DPR RI, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota, DPD serta terakhir adalah kotak suara Presiden dan Wakil Presiden,” ungkapnya.

Diagendakannya pileg dan pilpres secara serentak juga disebut akan mempengaruhi persentase golput dalam Pemilu 2019 tersebut. Pasalnya, berbeda dengan tahun sebelumnya, dimana pileg dan pilpres dilakukan di waktu berbeda, 2019 ini, pileg dan pilpres dilakukan bersamaan. (sar)

Lebihkan

Artikel terkait

Lihat Juga

Close
Close