BEKACITIZEN

Kelirumologi Tafsir Filsafat

OLEH: JAYA SUPRANA

Radarbekasi.id – GARA-GARA Friedrich Nietzsche sesumbar “Gott is tot” yang apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia bermakna “Tuhan sudah mati” maka berbagai pihak tega hati menafsirkan Nietzsche adalah seorang insan atheis jahanam yang menginspirasi angkara murka Adolf Hitler.

Die Froehliche Wissenschaft

Pernyataan Nietzsche bahwa “Tuhan sudah mati” muncul dalam buku “Di froehliche Wissenschaft” (Ilmu Pengetahuan Riang Gembira) yang apabila dialihbahasakan ke bahasa Indonesia kira-kira bermakna sebagai berikut : “Tuhan sudah mati. Tuhan tetap mati. Dan kita telah membunuhnya. Bagaimanakah kita, pembunuh dari semua pembunuh, menghibur diri kita sendiri? Yang paling suci dan paling perkasa dari semua yang pernah dimiliki dunia telah berdarah hingga mati di ujung pisau kita sendiri. Siapakah yang akan menyapukan darahnya dari kita? Dengan air apakah kita dapat menyucikan diri kita? Pesta-pesta penebusan apakah, permainan-permainan suci apakah yang perlu kita ciptakan? Bukankah kebesaran dari perbuatan ini terlalu besar bagi kita? Tidakkah seharusnya kita sendiri menjadi Tuhan-Tuhan semata-mata supaya layak akan hal itu pembunuhan Tuhan? “.

Sindiran

Apabila kita membaca tulisan Nietzsche secara lebih cermat dan jernih bebas dari beban prasangka maka dapat disimpulkan bahwa sebenarnya Nietzsche bukan atheis alias tidak percaya adanya Tuhan namun sekedar secara ironis humoristis menyindir  angkara murka manusia yang dikiaskan membunuh Tuhan dengan perilaku sepak terjang kejahatan, kejahanaman, kebengisan manusia yang disebut Nietzsche  sebagai “pembunuh dari semua pembunuh”. Nietzsche sinis mencemooh manusia seharusnya menjadi “Tuhan-Tuhan” yang melakukan pembunuhan Tuhan. Dengan menyatakan bahwa Tuhan dibunuh oleh manusia berarti secara logika dapat disimpulkan bahwa Nietzsche percaya Tuhan sebenarnya ada sebab jika Tuhan tidak ada maka mustahil bisa dibunuh oleh manusia atau siapa pun.

Pemberhalaan

Juga sebenarnya bukan kesalahan Nietzsche apabila Hitler memberhalakan Nietzsche sebagai filosof favorit pujaan Hitler yang kemudian memanfaatkan nama agung Nietzsche sebagai alasan filosofis demi membenarkan angkara murka mengobarkan Perang Dunia ke II dan pembantaian jutaan kaum Yahudi . Tampaknya Nietzsche mengalami nasib naas mirip Machiavelli, Smith, Mill, Marx, Sartre dan para mahapemikir yang pemikirannya sengaja ditafsirkan secara keliru oleh mereka yang memanfaatkannya sebagai deodoran alias pengharum aroma sepak-terjang perilaku diri sendiri masing-masing yang sebenarnya busuk. (*)

Related Articles

Back to top button