Berita Utama

Awasi Penggunaan BBM Bersubsidi

Radarbekasi.id – Pemberlakuan kenaikan harga BBM jenis Pertamax menuai respon beragam dari kalangan mahasiswa di Kota Bekasi.

Pasca diberlakukannya kenaikan tersebut, mereka meminta pemerintah melakukan pengawasan penggunaan BBM bersubsidi (PSO). Hal itu agar tetap sasaran untuk masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah kebawah.

Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Bekasi, Halason menganggap bahwa kenaikan BBM adalah kebijakan yang cukup disesalkan.

Namun dirinya menilai kenaikan BBM harus tetap dilaksanakan seiring dengan perkembangan harga minyak dunia.

Terkait dengan hal itu, Halason meminta untuk pemerintah lebih serius dalam penanganan pengawasan penggunaan BBM, pasalnya BBM bersubsidi yang tidak mengalami kenaikan harga merupakan hak masyarakat menengah kebawah.

Sementara BBM non subsidi yang saat ini mengalami kenaikan selayaknya digunakan oleh masyarakat dengan kekuatan ekonomi menengah keatas.

”Seharusnya dalam penanganan penggunaan BBM harus lebih diawasi. Supaya masyarakat menengah kebawah atau kita katakan marhaen tidak merasakan dampaknya, “ ungkap Halason kepada Radar Bekasi, Rabu (10/10).

Rencananya GMNI Bekasi akan melakukan pertemuan guna mengkaji perihal kenaikan harga BBM yang baru saja diberlakukan. Pasalnya penekanan BBM harus tepat sasaran kepada masyarakat diberbagai lapisan.

Sementara itu, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi (BEM FE) Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Malik Hakim, melihat fenomena ini sebagai imbas dari nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah dewasa.

Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini dianggap mempengaruhi siklus ekonomi di Indonesia. Tidak dinaikkannya BBM bersubsidi merupakan upaya untuk menstabilkan ekonomi masyarakat ditingkat ekonomi menengah kebawah.

Namun ia menghawatirkan jika dampak dari kenaikan yang terjadi BBM bersubsidi menjadi salah sasaran.

“Ditakutkan ketika rakyat mampu juga menikmati BBM bersubsidi tersebut, akhirnya yang kembali disusahkan adalah rakyat menengah kebawah. Saya disini meminta kepada pemerintah untuk memberi legitimasi dan pengontrolan agar BBM bersubsidi dan non subsidi sesuai pada rule nya,” papar Malik.

Ketepatan sasaran pengguna BBM bersubsidi memang menjadi kekhawatiran oleh beberapa mahasiswa yang merespon pemberlakuan kenaikan BBM non subsidi.

Beberapa mahasiswa masih menganggap kenaikan BBM non subsidi ini merupakan hal yang wajar untuk menjaga stabilitas ekonomi negara.

Ditempat yang sama, mahasiswa UNISMA lainnya, Ricky Erviantara menilai bahwa bagi masyarkat kecil, pengguna BBM bersubsidi tidak akan terganggu dengan kenaikan BBM non subsidi yang baru saja diberlakukan.

“Mengenai ketepatan pengguna BBM, saya rasa masyarakat hari ini sudah cukup dewasa dengan porsinya. Kalaupun ada oknum dari golongan menengah keatas pengguna BBM bersubsidi, saya rasa hal ini wajar, karena oknum memang ada di semua golongan. Hal ini lah yang seharusnya dikaji oleh pemerintah dan kemudian dibuatkan langkah untuk memperbaikinya,“ ungkap mahasiswa yang juga Sekertaris Umum Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKMA) PGSD Nasional tersebut. (sur)

Tags
Lebihkan

Artikel terkait

Close