Politik

Pengamat: Kawan Bisa jadi Lawan

Persaingan Caleg Makin Ketat

Radarbekasi.id – Banyaknya jumlah partai politik (parpol) yang menjadi peserta Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 dan Calon Anggota Legislatif (Caleg), akan membuat persaingan semakin ketat.

Sehingga tidak menutup kemungkinan, sesama caleg dari satu partai yang notabene sebelumnya “kawan”, bisa menjadi lawan.

Pengamat Politik Kota Bekasi, Adi Susila menyampaikan, dalam sistem Pemilu di Indonesia, selain jumlah partai, ada juga perhitungan individu. Akibatnya adalah, antar calon akan berlomba-lomba untuk memperoleh suara terbanyak. Istilahnya, kawan jadi lawan.

Karena itulah, kata Adi, banyak caleg yang tidak melakukan sosialisasi sebagaimana mestinya jika sudah ada calon yang kuat dari partai yang sama di dapil tersebut.

“Kuat dalam artian secara sosial maupun ekonomi. Kendati demikian, kompetisi antar individu itu bagus bagi partai. Supaya masing-masing caleg benar-benar bekerja. Tidak cuma mendompleng nama besar partai,” ujarnya.

Dengan sistem perhitungan saat ini, metode Sainte Lague Murni, ada perbedaan besar dalam perebutan jumlah kursi antar parpol. Peluang caleg-caleg di suatu parpol besar semakin terbuka lebar untuk tetap duduk di kursi legislatif. Karena pembagian kursi benar-benar dihitung berdasarkan perolehan suara parpol.

“Makanya setiap caleg benar-benar harus punya tim pemenangan sendiri. Timses itu pun harus solid. Selain untuk memberi sumbangsih ke suara partai, sekaligus juga untuk antisipasi terjadinya kecurangan penggelembungan suara di internal parpol,” bebernya.

Adapun Sekretaris DPD Golkar Kota Bekasi, Heri Budi Susetyo menilai, perebutan kursi legislatif di Pileg 2019 merupakan dinamika kontentasi yang wajar dalam sebuah persaingan politik. Meski begitu, persaingan perlu diatur melalui mekanisme partai yang baik.

“Memang persaingan antar partai ada, tapi juga ada internal partai, karena ada no urut caleg. Tetapi untuk Partai Golkar di Kota Bekasi, kami sudah membagi masing-masing distrik dan wilayah, sehingga ada teritori masing-masing,” tutur Heri.

Menurut Heri, yang paling penting adalah semangat para kader untuk memenangkan Partai Golkar, serta memiliki mimpi dan harapan yang sama.

“Yang penting semangatnya, karena persamaan kami jauh lebih besar dari perbedaan yang ada. Cita-citanya sama, ingin Golkar menang, kursi di legislatif Kota Bekasi bertambah,” harapnya.

Heri tidak memungkiri, perbedaan dan dinamika dalam dunia politik pasti ada. Namun, Partai Golkar tetap solid dan berkomitmen untuk mendorong dan membesarkan partai.

“Kami tidak akan saling menjelekkan sesama kader. Kami memiliki harapan dan mimpi yang sama untuk memenangkan dan membesarkan Partai Golkar,” tegas Heri.

Sementara itu, Sekretaris PDIP Kota Bekasi, Tumai mengaku, caleg PDIP akan menerapkan sistem gotong royong untuk meraih simpati masyarakat.

“Kami akan melakukan gotong-royong untuk meraup suara. Dengan begitu, maka kami yakin akan mampu meraih kursi sebagaimana yang diharapkan,” tukasnya.

Tumai mengklaim, dalam internal PDIP tidak ada persaingan, namun yang menjadi ancaman adalah dari caleg lain. Maka dari itu, itu caleg PDIP dari DPRD hingga DPR RI harus bersinergi untuk meraup suara.

“Semua parpol dan caleg memiliki basis massa tersendiri. Untuk itu basis masa yang ada di PDIP harus dijaga, sehingga tidak berpindah haluan pada saat melakukan pencoblosan,” tutupnya. (sar)

Related Articles

Back to top button