Metropolis

Sisi Lain Pemulung TPST Bantar Gebang

Bukan Warga Asli, Memiliki Rumah Mewah

Radarbekasi.id – Siapa bilang para pemulung itu berpeghasilan pas-pasan. Buktinya, para pemlung di TPST Bantargebang ini memiliki rumah mewah.

Keberadaan tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang ternyata tidak selalu menimbulkan stigma negative. Teberadaan TPST ternyata membawa berkah tersendiri bagi pemulung yang berada di sekitar TPST Bantar Gebang.

Ratusan permukiman pemulung dapat dijumpai di sekitar are TPST Bantar Gebang, mulai dari rumah permanen hingga rumah yang dibangun layaknya gubug. Selain keuntungan ekonomis yang mereka dapatkan dari TPST, namun sangat disayangkan keberadaan permukiman pemulung tersebut menambah kesan kumuh di lingkungan sekitar TPST.

Berdasarkan keterangan yang didapat dari warga setempat, secara kasat mata para pemulung di sekitar TPST Bantar Gebang tersebut hidup dalam lingkaran sampah yang kumuh dan terkesan tidak sehat.Namun siapa sangka bahwa dikampung halaman masing-masing para pemulung tersebut hidup dalam kemewahan.

Jauh dari lokasi TPST, Radar bekasi coba untuk berkomunikasi dengan masyarakat sekitar. Berbagai cerita pun didapat dari warga tersebut. Salah satunya adalah pemulung yang kerap memborong mobil untuk pulang ke kampung halaman, sampai dikampung halaman perspektif kumuh dan jorok seketika hilang melihat hunian mereka.

Kamah, wanita asli bantar gebang menceritakan sebagian masyarakat yang kerap mengantarkan pemulung menuju kampung halaman membawa cerita yang mengejutkan bahwa hidup mereka disana sangat jauh berbeda dengan kehidupan yang disaksikan selama ini.

“Pemulung disitu banyak, kalo kata orang yang pernah nganter kekampungnya mah rumahnya disana mewah-mewah, disini aja cari uang yang penting halal gitu kali ya, “ ungkapnya.

Hal senada pun diungkapkan oleh lurah Cikiwul, Warsim Suryana. Dia membenarkan jika kesan yang kumuh dan cenderung tidak sehat sangat berbeda dengan apa yang terjadi dikampung halaman.

Para pemulung tersebut bukan warga asli banar gebang melainkan masyarakat dari daerah lain yang sengaja datang untuk memulung di area TPST. Selain itu Warsim juga menuturkan bahwa para pemulung tersebut sulit untuk diatur mulai dari sanitasi hingga MCK yang terkesan tidak sehat.

“ Orang jauh mereka itu, kesan disini jorok kalo dirumahnya mah mentereng. Itu sifatnya nomaden tidak tetap, disini ada, pindah zona disana pindah lagi. Karena udah mata pencahariannya begitu, udah gitu susah diatur, udah ber KTP aja udah susah ,“ ungkapnya.

Tidak jauh dengan pola penambahan penduduk pendatang di kota besar, mereka bertambah dengan mengajak teman atau anak buah untuk mendulang rizki diwilayah tersebut, mulai dari satu pemulung mempunyai lima anak buah, lepas anak buahnya mahir dalam bidang tersebut maka akan membuat lapak sendiri dan kembali mengajak anak buah untuk mengais rizki begitu seterusnya. (sur)

Related Articles

Back to top button