Budaya

Nostalgia Masa Muda, Album Pertama Saat Lanjut Usia

Oleh : Muhammad Fakhran al Ramadhan

Radarbekasi.id – Menikmati suasana kota di sore hari akan lebih sempurna jika ditemani lagu favorit. Secara tak sengaja lagu yang terputar di aplikasi spotify memainkan salah satu tembang dari Sex Pistols yang berjudul Pretty Vacant. “There is no point in asking, you’ll get no reply, Just remember a don’t decide, I got no reason it’s all too much, you’ll always find us out to lunch. We’re so pretty oh so pretty, we’re pretty vacant.” Dengan aksen penutur Inggris asli yang kental, suara Johny Rotten akan selalu terngiang oleh para pecinta music punk terutama band Sex Pistols. Menganggukkan kepala saat lagu dimainkan dan melemparkan senyum kepada penumpang angkutan umum adalah hal yang paling sering saya lakukan sambil menunggu pengemudi ojek dalam jaringan datang untuk menjemput.

Beberapa kali saya membaca tulisan Vacant yang tercantum pada taksi yang sedang melintas. Terlihat juga beberapa lowongan pekerjaan yang tertempel di halte atau Job Vacancy, sebagai kata benda dari Vacant. Arti Vacant sebagai kata sifat yang diambil dari kamus Oxford adalah “not filled or occupied; available to be used, dan showing no interest or activity.” Dalam Bahasa Indonesia, Vacant memiliki arti tidak berisi, tidak berpenghuni, tidak mengandung arti, dan tidak ada yang menjabat.

Kisah ini bukan bagian dari mata kuliah Space, Time, and Modernity yang sedang saya ampu ataupun sebuah naskah teater tetapi apa yang saya atau mungkin anda sering lihat, dengar, dan rasakan di ruang publik. Akan selalu ada cara kreatif yang dilakukan orang untuk mengembalikan kejayaan masa lalu. Jose Van Djick (2006) mengkaitkannya antara pengamalan individu dengan memori kolektif yang berkaitan dengan memori manusia yang selalu diwujudkan, dikukuhkan, dan dilegalkan dan pengalaman kolektif akan selalu dinarasikan. Masa lalu itu bersifat magis. Belum ada teknologi yang mampu membuat waktu berjalan mundur. Kecuali jika anda sedang jalan-jalan ke museum, Bundaran Hotel Indonesia, dan Monumen Nasional di Jakarta. Kecuali anda memiliki rekaman kaset lama dan memutarkannya kembali. Kecuali jika anda memiliki foto yang akan selalu terkenang di rumah.

Kedekatan seseorang dengan lagu, desain baju, musisi, lirik, gaya hidup, dan apapun itu saat mereka masih muda atau saat masih anak-anak akan selalu diulang-ulang dan diputar di dalam radio atau dimainkan di layar televisi dalam bentuk dan tema besar yang mewakili setiap jamannya. Tetapi ingatan yang terkandung dalam produk budaya akan selalu dikemas untuk merayakan nostalgia dan bagaimana merek itu dikemas untuk dijual dan dipasarkan. Bisnis Ingatan. Menguntungkan nampaknya.

Kaum muda disini menjadi roda perputaran untuk membeli produk nostalgia karena mereka memiliki cukup ‘kekuatan’ untuk mendatangi, membeli, mengonsumsi, mengartikulasi sesuatu yang bertemakan masa lalu. Jumlah mereka akan terus bertambah dan suara mereka akan sangat lantang di ruang publik menyuarakan tentang indahnya masa lalu itu (padahal belum tentu mereka lahir dan besar di masa itu). Sangatlah menarik untuk para pemilik modal menjadikan kaum muda sebagai alat politik dan alat ekonomi ketimbang dengan generasi yang lebih tua dan kelompok masyarakat yang kurang beruntung.

Banyak cara kreatif yang dilakukan semua orang untuk mengubah cara pikir masyarakat tentang subkultur dengan cara mengunggah video di laman youtube, pengalaman yang terekam dalam wordpress atau blog, cuitan di twitter, kuliah umum yang diselenggarakan di kampus, pembahasan tentang keseharian kaum muda, diskusi singkat dengan para pegiat skena dan juga mengadakan acara tribute to untuk mengenang band-band yang popular di masa lalu. Salah satu komunitas kolektif Punk Good Old Days (G.O.D.) berusaha menarasikan ulang apa yang terjadi di masa lalu yang dipilah dan dipilih agar menjadi ingatan kolektif.

Good Old Days (G.O.D.)Kolektif pada awalnya terinisiasi oleh gagasan untuk mengundang band beraliran Punk yang sudah lama untuk kembali menunjukan aksi mereka di panggung. Mengembalikan dan memperkenalkan mereka kembali ke skena Punk Jakarta dalam konteks sekarang atau memperkenalkan old days kepada new days. Konsep yang dihadirkan oleh komunitas kolektif ini berganti-ganti sesuai dengan apa yang terjadi di dalam masyarakat lokal ataupun trans-lokal. Good Old Days berusaha untuk mengkolaborasi antara yang lama dan baru dari pemilihan band-band yang tampil di acara tersebut dan pastinya band tersebut merepresentasikan konsep yang mereka usungkan, kenang Farhan Ramadhan saat di Pekan Raya Jakarta.

Mereka, para panitia memulai bergerak dan mengadakannya di Borneo Beer House Kemang pada tanggal 24 Maret 2017 dengan tema “Bring The Noise Like It’s 90’s”. Lalu, 2 Juli 2017, GOD dengan tema “Bring You Back to Those Good Old Days Again” dengan pemilihan Pekan Raya Jakarta (PRJ) di Panggung Budaya Gambir Ekspo sebagai tempat yang lebih luas dan masyarakat juga bisa menikmati pertunjukan 16 band Punk.

Dalam skala kecil, Good Old Days mengadakan “A Tribute to Bad Religion & Pennywise” pada tanggal 25 Oktober 2017 di I-Six Bar & Resto, Kemang dengan 10 penampilan band. Berikutnya, mereka mengadakan dengan skala kecil pertunjukan yang bertemakan “Maximum Rock n Roll Swindle: A Night for Ramones and Sex Pistols” di Joglo Beer House pada tanggal 23 Desember 2017 dengan 15 penampilan band. Kali pertama saya membaca tulisan Vacant sebagai sebuah band di poster acara tersebut. Karena saya memiliki janji untuk datang ke pesta pernikahan sahabat di Ciputat, saya harus melewatkan penampilan mereka malam itu. Good Old Days (G.O.D)Fest 2018 dengan tema “Bring You Back to Those Good Old Days & Making Punk Fun Again” menjadi baris-baris penanda yang menarik dan mudah diingat di dalam skena Punk Jakarta. Farhan menambahkan, “banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh pegiat Punk di Jakarta agar masyarakat mengenal kita bukan sebagai individu yang brutal. Kita (Punk) adalah Punk yang memang urakan dan memiliki konsep. Konsep yang selalu disuarakan adalah konsep saling membesarkan. Membesarkan band dan usaha teman-teman secara kolektif.”

Pada tanggal 2 Juli 2017 bertepatan dengan Bulan Ramadan, Good Old Days mengambil tema “Bring You Back to Those Good Old Days Again” dan saya mencuri-curi kesempatan untuk berbincang dengan para personel Vacant di samping panggung. Di hari itu, ditemani oleh Om Bob Marjinal, kami berbincang seru tentang memori masa muda mereka. Om Erick (Gitar), Om Igun (Vokalis), Om Joey (Bass), dan Om Jacob (Drum) adalah bapak-bapak Punk yang menyenangkan.

Mereka bercerita tentang masa muda sebagai punk ditengah-tengah maraknya aliran metal. Menjadi “Anak Metal” dan “Anak Punk” di era tersebut tidaklah mudah. Banyak citra buruk yang melekat pada identitas yang di marjinalkan oleh masyarakat. Remaja brengsek, perokok dan peminum, kasar, yang akan selalu didapati oleh orang yang memilih identitas tersebut. Menjadi beda adalah konstruksi ideologis yang selalu ditanamkan ketika masyarakat terjebak pada identitas yang seragam dan juga usaha konstruksi identitas bagi remaja yang sedang tumbuh. Mereka yang merasa dirinya termarjinalkan akan berusaha melibatkan diri dalam praktik sosial dan modal kultural agar menjadi “Anak Metal” atau “Anak Punk” di era tersebut.

Banyak kenangan yang tersampaikan saat saya bertemu para personel Vacant. “Kami bisa seperti sekarang, melakukan reuni karena Bobby Marjinal. Kita nyambung. Kita bisa kenal sama anak-anak Good Old Days,” kenang Om Igun. Om Joey menambahkan, “Menjadi punk saat tahun 1989 itu harus berdarah-darah. Karena kalau belum berdarah itu bukan Punk. Jaman kita itu lebih frontal. Dulu kami juga pernah satu panggung dengan Roxx, Suckerhead, Rotor, dan band-band yang beraliran Glam Rock, Heavy Metal, dan Trash Metal.  Om Bobby yang juga sedang mampir ke samping panggung sedikit bercerita tentang proses pembuatan album Kompilasi Pemberantas Korupsi. “lagu yang sudah ditulis Vacant (baca: Akal Bangsat) memang pas untuk kompilasi ini dan mereka juga sedang menggarap full album pertama mereka. Sekarang lagi proses mendesain CD dan booklet. Banyak yang Vacant perjuangkan melalui lagunya. Salah satunya Sacrifation dan Old Punk Never Die. Umur bukan halangan untuk tetap berkarya dan melawan”, kenang Om Bobby.  Album Kompilasi Pemberantas KPK juga diisi oleh Marjinal, Navicula, OM PMR dan juga band lain. Semoga dengan adanya album kompilasi ini, KPK akan memberantas koruptor dan tindakan korupsi hingga tuntas.

Never Mind The Future

Selama 29 tahun mereka tidak berkomunikasi, bukan berarti Vacant bubar. Tepatnya  pada tanggal 27 Mei 2017, mereka mengadakan konser reuni dan ini menjadi titik balik untuk kembali bermusik. Menurut saya, album ini unik karena di dalam kemasan CD terdapat booklet yang berisikan lirik, ucapan terima kasih, dan definisi Punk menurut masing-masing personel. Selain itu terdapat sejarah singkat terbentuknya Vacant. Proses rekaman album ini dilakukan di Taring Babi Studio dan Om Bobby Marjinal juga juga berperan dalam desain cover dan proses mixing serta mastering.

Pada tahun 1989, formasi awal Vacant terdapat Daeng Agung (Rhythm) dan Rudi Soedajarwo (Drum) sedangkan untuk vokal, gitar, dan bass masih sama hingga sekarang. Posisi dummer kemudian digantikan oleh Jacob. “Saat itu yang mengenalkan gua Sex Pistols si Rudi. Dia yang mengajak gua nge-band”, kenang Igun.

Di usianya yang sudah tidak lagi muda, Vacant merilis album pertama yang berjudul “Nevermind the Future” dengan jumlah 11 lagu yang terdiri dari Akal Bangsat, Change the world, Come On, Gonna Mess You, I Don’t care, I want to be me, Jessy, Nevermind the Future, Old Punk Never Die, Punkketimpangpunk (Marjinal Cover), dan Sacrifation. Lirik dan musik mereka sekilas seperti mendengarkan Sex Pistols, The Clash, dan juga UK Subs dan tetap memberikan kesan lokal dari para pendahulunya. Punk tidak mati di sini.

Vacant telah terisi. Mereka tidak lagi berdarah-darah. Joey menambahkan bahwa karena kami semua sudah berkeluarga, konsep kesenangan yang kami buat harus yang kreatif. Narasi nostalgia mereka saat muda bisa kita nikmati di album ini. Mereka tidak berdandan ala Punk dengan Mohawk, tato dna tindikan di tubuh, jaket kulit hitam, dan sepatu boots. Punk tergambar dalam lirik, musik, lagu yang mereka buat dan Punk yang selalu tertanam dalam jiwa. Dari pemilihan gambar, lirik, ucapan terima kasih, autobiografi singkat terbentuknya band, dan definisi Punk menurut mereka menjadi domain yang tak dapat dipisahkan. Keinginan untuk  berbagi referensi musik, menyajikan foto ‘masa muda’ menjadi bagian repertoar kolektif yang mampu memberikan ide dan gagasan baru untuk para pendengar. Vacant berhasil menjadi alat untuk mengembalikan pengalaman sebagai ‘penanda waktu’. Proses mengingat masa lalu memberikan bingkai baru tentang janji indah di masa mendatang.

Album ini mendapat banyak respon positif dan dukungan dari beberapa pihak. Pemain drum Vacanat awal yang juga dikenal sebagai sutradara AADC, Rudi Sudjarwo, Mike dan Bobby Marjinal, Allay Error, Jerinx dari Superman Is Dead memberikan ucapan selamat dan sukses dan bisa di lihat melalui akun instagram @vacantners dan Facebook Vacant Ners.

Lirik yang tertulis di album ini didominasi oleh Bahasa Inggris dan memberikan metafora yang berwarna untuk menjadi Punk, pemberontak, tetapi bertanggung jawab. Saran dari saya jika terdapat anak yang masih dibawah umur untuk menikmati album Vacant, perlu dampingan.

Banyak hal menarik yang bisa dipelajari dari setiap daftar lagu dan juga kita bisa melihat sudut pandang Vacant tentang sesuatu saat mereka muda dan perspektif yang baru saat mereka sudah tua. Saya berharap agar Vacant segera mengadakan konser kecil mereka untuk memainkan semua lagu di album barunya dan kita akan melihat semangat mereka yang akan selalu membara di dalam dan di luar panggung. (*)

Related Articles

Back to top button