Pendidikan

Kisah Manusia Gerobak yang Peduli Pendidikan

Minta Anaknya Tetap Sekolah, Diusir Pemilik Kontrakan

Radarbekasi.id – Tidak banyak pemulung atau gelandangan dan pengemis (Gepeng) yang hidup di jalanan peduli dengan dunia pendidikan. Namun berbeda halnya dengan pasangan suami istri Sudiran (56) dan Sumijah (45) tersebut. Apa yang mereka lakukan?

Waktu menunjukan pukul 05.30 WIB. Udara pagi itu terasa sangat dingin hingga menusuk tulang. Maklum saja, malamnya Kota Bekasi baru saja di guyur hujan deras. Kendati demikian, tidak menyurutkan warga berlalu lalang untuk memulai aktivitasnya.

Begitu juga dilakukan oleh Supandi. Remaja berusia 10 tahun ini langsung bergegas menuju kali malang untuk membersihkan badan dan bersiap-siap menuju sekolah. Mandi dan cuci di kalimalang menjadi kesehariannya, karena dia bersama keluarganya tinggal di trotoar sisi jalan M Hasibuan, Kota Bekasi.

Sebenarnya dia enggan berangkat ke sekolah pagi itu, namun orang tuanya memaksa dia untuk tetap berangkat ke sekolah meski dalam kondisi apapun. Anak ke dua dari pasangan Sudiran (56) dan Sumijah (45) ini tercatat sebagai siswa kelas II SDN Margahayu IV. Jika meneruskan sekolah, sebenarnya sudah kelas III, namun Supandi pernah berhenti sekolah selama setahun, lalu dilanjutkan lagi.

Setiap pagi, biasanya dia berangkat ke sekolah bersama adiknya Kusnandar (9). Namun, pagi itu adiknya tidak berangkat ke sekolah. Sudah tiga hari Kusnandar sakit, badannya panas. Adiknya saat ini sudah kelas III di sekolah yang sama.

“Kalau tidak berangkat ke sekolah, bapak marah,”katanya memulai percakapan dengan Radar Bekasi.

Dia mengaku, terkadang mendapat celaan dari teman-temannya di sekolah. Namun, ejekan dari rekannya dia balas dengan senyuman,”Ya biarin aja kalau ada yang ngejek,emang saya seperti ini keadaannya,”katanya sambil berpamitan menuju ke sekolah yang berjarak sekitar 2 km dari tempat dia tidur.

Terkadang jika memiliki uang lebih, dia naik angkot 04B jurusan Terminal Bekasi, Gabus dan Ganda Agung yang melitasi pasar proyek. Ya, sekolah tersebut berada di pasa lama proyek kelurahan Margahayu Kecamatan Bekasi Timur.”Kadang di anaik Angkor, tapi lebih sering jalan kaki,”timpal imunya, Ijah.

Ijah mengaku, beruntung biaya pendidikan gratis. Namun, untuk seragam sekolah dan buku harus membeli sendiri,”Ini juga sudah dipinta buat beli seragam olahraga dan baju batik. Seluruhnya sekitar Rp180 ribu. Harus beli di sekolah, gak boleh di tenpat lain. Nanti nunggu jual botol plastik baru bisa bayaran,”katanya kepada Radar Bekasi.

Keluarga tersebut merantau Ke Bekasi sejak 20 tahun lalu, ketika anak pertamanya Andi berusia 4 bulan. Dia terpaksa merantau ke Bekasi dari daerah asalnya Indramayu, karena keadaan ekonomi. Ijah mengaku, dikampung halamannya tidak ada yang bisa di kerjakan.

“Disana mau kerja apa? Sawah tidak punya, jadi buruh tani sudah makin susah, karena lahan pertanian saat ini sudah berubah jadi tambak udang dan perumahan. Ya, merantau ke Bekasi sejak orang tua saya meninggal,”kenangnya sembari mengaku, ada keinginan untuk pulang kampung. Namun, selain tidak ada yang bisa di kerjakan di sana, anak bungsunya tidak betah dikampung,”Pernah pulang kampung,tapi baru semalem sudah minta pulang lagi ke bekasi,”katanya sambil tersenyum.

Sementara itu, Suaminya Sudiran mengaku, sebenarnya dia tidak ingin membawa keluarganya menjadi gelandangan. Awalnya, dia sempat mengontrak di wilayah Pasar Proyek kelurahan margahayu Bekasi Timur. Namun, kontrakan tersebut di gusur karena lokasi tersebut akan dijadikan RSUD Kota Bekasi,”Disana dulu ada sekitar 5 tahun,”katanya.

Setelah dari Pasar Proyek, dia mencari kontrakan lagi. Namun sayangnya, banyak pemilik kontrakan tidak mau menerima pemulung,”Ya, yang punya kontrakan tidak boleh saya bawa gerobak. Lah gimana, kalau gerobak di taro di luar pasti dicuri orang. Sedangkan gerobak itu untuk usaha saya. Saya sudah keliling mencari kontrakan, mereka tidak ada yang mau menerima,”terang pria berambut ikal ini.

Dia pun pernah mendapat kontrakan di wilayah Kelurahan Medan Satria kecamatan Medan Satria. Namun sayangnya, jarak kontrakan dengan sekolah anaknya cukup jauh, yakni dua kali naik angkutan umum,”Sehari bisa habis Rp20 ribu untuk ongkos saja. Saya mau makan pakai apa. Itu pun anak saya sering telat,”imbuhnya.

Akhirnya, dia memilih tetap tinggal di gerobak lusuhnya di trotoar jalan M Hasibuan Kecamatan Bekasi Selatan. Dengan tiga gerobak yang dimiliki, dia tiggal bersama tiga orang anaknya,”Kalau hujan saya pasang plastik untuk atap, tidur didalam gerobak. Ya, Alhamdulillah lebih nyaman seperti ini,”tuturnya.

Setiap hari, dia harus keliling mencari bekas botol air mineral, kardus maupun barang bekas yang layak jual. Biasanya, dia menimbang hasil barang bekasnya seminggu sekali.Sekali jual, biasanya dia dapat Rp200 ribu. Uang tersebut dia bagi untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya anaknya sekolah,”Sekarang harganya murah banget, Cuma Rp2 ribu se kilo nya,”tuturnya.

Dia mengaku memilih menyendiri, tidak berkumpul dengan sesama pemulung lainnya. Pasalnya, menurutnya, banyak pemulung yang jahat,”Sering banget uang saya di curi pas lagi tidur. Gerobak saya juga pernah di curi, dulu punya empat sekarang tinggal tiga,”kenangnya.

Dengan keterbatasan yang dia miliki, dia mengaku akan menyekolahkan anaknya agar kelak tidak menjadi pemulung,”Meskipun saya sebagai pemulung, yang penting anak saya tidak mengikuti seperti saya. Makanya, gimanapun caranya anak saya harus tetap sekolah agar tidak dibohongi orang. Yang penting dia bisa baca, tulis dan berhitung,”tandasnya. (*)

Related Articles

Back to top button