Berita Utama

Desak Penegakan HAM Melalui Aksi Kamisan

Radarbekasi.id – Puluhan mahasiswa dan pemuda Bekasi melakukan aksi kamisan Bekasi di depan kampus Universitas Islam 45 (UNISMA) Bekasi, Jalan Cut Meutia, Kamis (15/11). Mereka meminta kepada pemerintah untuk menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM) di Kota Bekasi.

Peserta aksi turun kejalan dengan membawa berbagai perlengkapan seperti payung berwarna hitam dan beberapa poster aktivis yang menjadi korban dari pelanggaran HAM diantaranya Marsinah dan Munir.

Penanggung jawab aksi kamisan Bekasi, Krisna Firstian mengungkapkan, aksi kamisan ini akan konsen pada isu-isu kemanusiaan atau isu-isu pelanggaran HAM sebagaimana yang tekah dilakukan di istana negara maupun di kota-kota besar lainnya.

Di Bekasi sendiri, menurut dia, masyarakat tidak boleh lupa dengan kasus Pekayon, Pasar Family dan yang sedang masyarakat di wilayah Jati Mulya dimana lahan tersebut akan digunakan depo Light Rapid Transit (LRT).

“Untuk di bekasi sendiri kita tidak lepas dari kita bersatu, kita berkumpul disini dengan aksi kamisan ini kita tidak boleh lupa bahwa ada pekayon, ada pasar family , ada konflik-konflik bekasi yang bisa menyatukan kawan-kawan solidaritas untuk di sepakat membuat aksi kamisan, dan disitu jelas terlihat pelanggaran HAM dimana pembiaran manusia dua tahun pasca penggusuran menurut kami itu adalah pelanggaran ham yang cukup berat bukan hanya satu dua orang yang dihilangkan ruang hidupnya tapi secara masal “ ungkapnya.

Lebih dalam dirinya menjelaskan bahwa Bekasi benar-benar harus ramah HAM disela ruang-ruang hidup manusia yang semakin menyempit, hal ini dirasa penting menyusul penghargaan yang telah diterima dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (KOMNAS HAM) beberapa waktu lalu.

Pada aksi tersebut, datang seorang perempuan berusia lanjut di tengah – tengah masa aksi. Ia diketahui bernama Nenek Kiat. Kehadirannya menyedot perhatian ketika sang nenek menyampaikan aspirasinya menggunakan pengeras suara.

Nenek Kiat mengungkapkan bahwa dirinya adalah salah satu diantara sekitar 200 kepala keluarga korban penggusuran Pekayon yang dinilainya sebagai tindakan penistaan manusia.

“Maka dari itu kami mohon supaya kami minta dukungan dari anak-anak saya mahasiswa disini, dua tahun yang lalu kami digusur sama Pemkot, belum lama ini kami baru merayakan hari ulang tahun penistaan manusia yang dimiskinkan oleh Pemkot Bekasi,” ungkapnya. (sur)

Related Articles

Back to top button