Metropolis

JIP: Jangan Diskriminasi ODHA

Radarbekasi.id – Penggiat penanggulangan HIV dan AIDS mendorong agar tidak ada diskrimainasi kepada Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA).

Focal Point Jaringan Indonesia Positif (JIP) Kota Bekasi, Festika Rosani mengatakan, hampir semua negara ingin mengakhiri epidemi pengidap Aids pada tahun 2030. Targetnya ialah tidak ada lagi penularan HIV, tidak ada kematian akibat Aids, dan tidak ada lagi stigma yang menjurus diskriminasi pada ODHA.

“Kita ingin di Indonesia Nol diskriminasi dalam penanggulangan HIV dan Aids dan khusunya di Kota Bekasi. Saat ini hampir 1000 orang pengidap HIV dan Aids di Kota Bekasi. 40 anak – anak, orang dewasa, Narkoba dan paling banyak dari LGBT. Itu masih menjadi tantangan kita hingga saat ini,” katanya kepada Radar Bekasi, Sabtu (17/11).

Dijelaskannya, nol diskriminasi bukan hanya meliputi ODHA. Lebih jauh, juga kepada individu atau kelompok tertentu yang selalu dikaitkan sebagai penyebab ODHA.

Contohnya, kata dia, kelompok dengan orientasi seks bebas.  Menurut Festika, mereka harus dipandang tanpa stigma negatif. Sehingga, penanggulangan Indonesia bebas dari ODHA dapat seiring dengan program-program yang telah dicanangkan pemerintah atau penggiat.

Ia menilai, situasi diskriminasi sering terjadi karena didasarkan pada informasi yang salah atau takut karena ketidaktahuan.

Untuk mengakhirinya, tiap orang memiliki peran penting untuk menciptakan lingkungan aman. Supaya, mereka dapat mengakses layanan kesehatan dan merasa hidap bermasyarakat seprti yang lainnya.

“Persoalan diskriminasi yang terjadi justru kemudian melemahkan berbagai upaya penanggulangan HIV yang sudah dilakukan. Diskriminasi tidak akan hilang tanpa peran dan tindakan dari semua orang untuk mengakhirinya,” ujarnya.

Implikasi dari adanya diskriminasi tersebut, antara lain terjadi saat pengidap virus dalam mengakses layanan kesehatan di Kota Bekasi.

Pelayanan kesehatan cenderung kurang karena stigma negatif didahulukan kepada pasien yang mengidap HIV dan Aids. Padahal, untuk penularan tidak semudah seperti yang dibayangkan.

“Untuk sekarang ini di Kota Bekasi pengidap HIV dan Aids menghawatirkan, dari komunitas Rumah Sebaya dalam satu hari mendata di rumah sakit Kota Bekasi ditemukan lima pengidap HIV dan Aids. Bagi petugas kesehatan di Kota Bekasi juga masih minim pengetahuan cara menanggulangi HIV dan Aids agar tidak menghilangkan hak-haknya sebagai manusia,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Yayasan Rumah Sebaya, Darmawan mengatakan, penanggulangan HIV/Aids akan lebih baik dengan melakukan upaya pencegahan ketimbang pengobatan . Lantaran fakta lapangan memperlihatkan sikap diskriminasi belum bisa dikendalikan.

Pihaknya, konsen melakukan sosialisasi terkait penanggulangan HIV/Aids di lingkungan masyarakat sejak dua tahun kebelakang. Supaya,  masyarakat tersadarkan bahwa target terbebas dari ODHA memerlukan peran bersama dan menjauhi keluarganya dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan itu.

Selain itu, tambahnya, pemerintah harus lebih serius dalam menanggulangi ODHA maupun melangsungkan program-program pencegahan HIV/Aids.

Pasalnya, hingga sekarang, pengidap HIV/Aids kian bertambah. Dalam satu hari misalnya, rata-rata lima orang baru mengetahui telah terjangkit ketika keluar dari rumah sakit.

“Melihat fenomena yang tertular itu dari resiko rendah, misalnya ibu rumah tangga yang melahirkan bayi masih ada. Artinya ada program yang tidak maksimal dijalankan sehingga sosialisasi berjalan massif.” pungkasnya.

Penanggulangan HIV/Aids di Kota Bekasi telah memiliki dasar hukum yakni melalui Peraturan Daerah (Perda) Kota Bekasi nomor 03 tahun 2009 dan Perwal 72 tahun 2017 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV Aids.

Menanggapi hal itu, perwakilan dari Komunitas Gaya Patriot Bekasi, Wahyudin meminta pemerintah terus menggencarkan sosialisasi HIV dan Aids. Hal itu dilakukan dengan melakukan Tes HIV/Aids kepada warga dan Penjangkauan dan rujukan Komunitas penggerak HIV AIDS.

Perwakilan dari Komunitas Pandora, Lilo Hope berharap agar pemerintah juga ikut serta dalam  penjangkauan atau pendampingan kepada penderita HIV dan Aids. Karena, menurut dia, daerah pinggir Bekasi belum tersentuh.(pay)

Related Articles

Back to top button